Sunday, October 28, 2012

Ukuran keberhasilan pemimpin

Arif, seorang kawan wartawan Kompas, ketua tim Ekspedisi Cincin Api yang keren itu, pemenang dua kali Mohtar Lubis Award, membuat teori mengenai pemimpin daerah yang berhasil.

Katanya, untuk melihat pemimpin daerah yang berhasil itu adalah dengan mengamati indikator:

1. Apakah jalanan bagus dan mulus, bahkan sampai kampung-kampung. Ini indikator pembangunan infrastruktur berjalan dengan sedikit dikorupsi. Mengapa di kampung? Maksudnya pemerintah daerah memberi perhatian sampai ke infrastruktur kampung, dan masyarakat dengan sukarela ikut menjaga kalau terjadi bolong. Masyarakat sukarela menambal dan memperbaikinya. Ini artinya kepemimpinan daerah berjalan dengan baik, tercipta trust antara kepala daerah, lurah / staf kelurahan, dan masyarakat. Coba di Jakarta, Bogor, Banten, dan Jawa Barat pada umumnya, jalanan kampung hancur, lha jalan kabupaten/kota juga sama. Menurut kawan saya itu, hanya di Yogya dan Solo jalanan bagus, dari jalan prorokol sampai ke kampung.

2. Pasar dikelola dengan baik, minim premanisme, parkir teratur, pedagang berjualan di dalam, dan tak ada pasar tumpah. Mengapa indikator ini? Mengelola pasar itu sulit. Duitnya tidak gede, tapi potensi perlawanan masyarakat besar. Kepala daerah dan birokrasi brengsek cenderung membiarkan. Toh masyarakat sudah permisif dengan pasar tumpah sebagai sesuatu yang tak terhindarkan. Pasar tumpah mereka anggap sebagai kesalahan masyarakat yang tak mau diatur, bukan pemerintah daerah yang tak mampu menjalankan fungsi manajemen pasar yang baik. Menurut kawan saya Kompas itu, sekali lagi, Yogya dan Solo sekali lagi mampu mengelola pasar dengan baik. Bandingkan dengan pasar tumpah bikin macet di kab Bogor, Bogor, Pantura, dan hampir semua kota di Indonesia.

Apakah kebetulan kalau Yogya dan Solo dua-duanya memenuhi kriteria itu? Yang menarik, tahun 2010, walikota Yogya, Herry Zudianto, dan Solo, Jokowi, adalah penerima penghargaan Bung Hatta Anti Corruption Award. Herry namanya harum di Yogya. Jokowi apalagi.

Saya ingin menambah indikator:

3. Apakah kepala daerah tersebut suka nampang bernarsis ria di baliho dan spanduk pemerintah. Kepala daerah yang berhasil, dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat, terjadi perubahan struktural dan kultural birokrasi dan masyarakat, pasti akan populer, dan tak perlu memasang foto diti di baliho, menggunakan APBD. Siapa kepala daerah yang tak pasang foto diri? Lagi-lagi sepengamatan saya: Herry dan Jokowi. Keduanya cukup pede bahwa masyarakat merasakan hasil kepemimpinannya, sehingga tak perlu nampang di baliho yang mengotori kota. Keduanya menang dalam pemilihan walikota masa berikutnya praktis tanpa narsis di jalanan kota.

Minggu lalu saya ke Bandung. Sepanjang perjalanan, jalanan dipenuhi foto Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat, dengan dana APBD, dengan beragam tema. Di Jawa Tengah, foto Bibit Waluyo nampang dimana-mana memakai dana negara. Di Sulawesi Selatan, spanduk dan baliho Gubernur Syahrul Yasin Limpo berperang melawan Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin. Sebagian dana negara, sebagian tim kampanye. Mengotori kota. Di Aceh, ketika Gubernur lama Irwandi Yusuf mendapat penghargaan dari SBY, sontak semua kepala dinas provinsi memasang iklan selamat di koran Aceh. Masyarakat sih tak peduli. Ya, Ahmad Heryawan, Bibit, Syahrul, banyak dapat penghargaan -dari pemerintah, bukan dari LSM terkemuka seperti Bung Hatta Anti Corruption Award yang digawangi Bambang Widjojanto, Ken Sudarto, Edward Suryajaya, Nono Makarim, Betty Alisyahbana dkk.

Sederhana saja, kepala daerah yang narsis memakai dana negara atau pribadi, artinya kepemimpinannya tak dirasakan baik oleh masyarakat.

Jadi inilah pedoman bagi masyarakat yang daerahnya akan memilih kepala daerah:

1. Cari pemimpin yang seperti Jokowi dan Herry: bersih, merakyat, kaya dari usaha yang tak terkait APBN/D (Herry dan Jokowi sama-sama eksportir mebel. Herry juga punya pabrik batik), dan berjiwa melayani.

2. Lihat apakah jalanan bagus sampai ke kampung (indikator infrastruktur dan social trust), pasar tumpah (manajemen pemerintahan, pro rakyat kecil), dan bukan narsis di baliho (tidak pede karena memang tidak berprestasi).

Agam F

Beratnya menata Jakarta

Enam ratus miliar anggaran pembangunan kantor dinas-dinas di Jakarta untuk 2013. What?????

Itulah kekagetan saya ketika mendengar Danang dari ICW bercerita hasil pertemuan ICW dengan Basuki Ahok, Wagub Jakarta.

Alhamdulillah, Allahu Akbar, Foke kalah, dan rakyat Jakarta punya kendali atas APBD DKI Jakarta senilai 40 triliun tahun 2013, melalui duet Jokowi-Basuki.

Untuk apa 600 miliar itu? Untuk pembangunan gedung-gedung dinas, kelurahan, kecamatan, dan kotamadya di Jakarta. Padahal gedung yang sudah ada bahkan masih berdiri kokoh.

Padahal berapa anggaran satu kampung deret sesuai visi Jokowi-Basuki? Hanya 20 miliar saja. Enam ratus miliar tahun 2013 bisa membangun 300 kampung deret, belum termasuk fasilitas, pembebasan tanah. Bisa dibayangkan permasalah kampung kumuh, permukiman bantaran sungai, yang membelit Jakarta selama puluhan tahun, dalam sekejap ada harapan untuk penyelesaian.

Transjakarta tahun ini hanya dianggarkan 300 miliar. Hasilnya, infrastruktur memburuk. Headway semakin lama. Antrian di halte panjang sekali. Tahun 2013, Jokowi-Basuki menaikkan 4 kali lipat, jadi 1,2 triliun. Ada harapan masalah-masalah itu terselesaikan.

Foke berencana mengeluarkan obligasi 1 triliun lebih akhir tahun ini. Alhamdulillah, Foke kalah. Untuk apa duit utang tersebut, sementara duit APBD banyak sekali? Untuk pembangunan terminal bis Pulo Gebang 700 miliar. What???? Transjakarta ditelantarkan, tapi mau membangun terminal super duper mahal, yang belum tentu dipakai?

Anggaran pembangunan MRT 15 trilun, untuk 22 km. Mahal? Ya mahal, karena perencanannya serampangan, apalagi Jepang terkenal murah hati dalam menggelontorkan suap dan pelicin. Serampangan bagaimana? Karena pembangunannya bakal menggusur stadion sepakbola Lebakbulus. Bayangkan, di tengah kelangkaan ruang terbuka hijau, sarana olahraga, stadion yang ada malah akan digusur, untuk depo kereta. Sebaliknya, ide Ahok sungguh cemerlang. Pembangunan MRT tidak dimulai dari Lebakbulus, tapi justru dari Kampung Bandan di daerah Kota. Ini daerah kumuh, dengan banyak tanah negara yang terlantar, sehingga didiami pemukim liar. Visi Ahok adalah bikin depo di sini karena tanah masih luas. Sekaligus peremajaan kampung kumuh menjadi Rusunawa buat masyarakat. Stadion Lebakbulus masih berfungsi sebagai stadion + terminal MRT dan bis yang lebih tertata.

Birokrasi Jakarta jaman Foke memang tak peduli rakyat. Mereka mengelola APBD untuk mereka sendiri.

Sepertinya perhatian rakyat seluruh Indonesia terhadap Jokowi-Basuki memang memperlihatkan kerinduan rakyat akan pemimpin yang melayani.
Agam F

Saturday, October 20, 2012

Benny Soebardja: dari Rockstar, ke Manajer, ke Pengusaha

Benny Soebardja: dari Rockstar, ke Manajer, ke Pengusaha

Tulisan tahun 2008 di website aktulista.com

Peluhnya bercucuran. Tangan yang satu memegang palu, sementara lainnya menusukkan paku ke kaki meja yang patah. "Sayang meja ini kakinya patah. Terpaksa dilego murah, atau dihibahkan saja pada yang berminat." Benny Soebardja, nama yang tidak asing bagi pembaca Aktuil, menyesalkan petugas pengepakan di Spanyol yang kurang hati-hati sehingga ada mebel jualannya yang cacat dan baru diketahuinya di Birmingham.

Tak terbayangkan bahwa seorang rockstar sekaliber Benny Soebardja, yang pernah membesarkan nama Giant Step, dan akhir-akhir ini membangkitkan lagi grup rock progresif Shark Move yang mati muda di tahun 70-an, menjadi seorang pengusaha mebel yang sukses.

Inilah langkah raksasa seorang rockstar, dari musisi, menjadi manajer perusahaan asing, dan sekarang berlabuh menjadi pengusaha mebel sukses.

Bents Handpainted Furniture adalah merek mebel produksi Benny Soebardja, dibawah CV. Bents Ranggie Sejahtera yang bermarkas di belakang rumahnya yang luas di Cinere. Mebelnya diekspor ke berbagai negara, selain dipasarkan di dalam negeri. Pada awal tahun 2008 saja, Bents sudah mengikuti pameran di Spanyol dan Birmingham, Inggris. Benny berangkat bersama Tria Julianty, istrinya, mengurus semua keperluan pameran sendiri, termasuk memperbaiki jika ada yang rusak. Semua dilakukan berdua dengan istri.

Tak heran, Benny sukses membangun usaha mebelnya sejak bertekad pensiun dini dari grup Monsanto di Indonesia, perusahaan benih pertanian dari Amerika Serikat sebagai R & D Manager.

Benny sempat pula menjadi tamu dalam acara populer TV dan radio di akhir 90-an dan awal 2000, Bedah Bisnis Rhenald Khasali. "Saya diundang sebagai tamu karena dijadikan contoh musisi yang sukses beralih profesi sebagai pengusaha."

Benny sudah dua kali ikut pameran di pameran mebel internasional Inggris di NEC Exhibition Center, Birmingham. "Saat saya ikut pada bulan Januari 2007, saya tidak ada kenalan siapapun di KBRI maupun Birmingham." Beruntung pada Januari 2008, Riza Sihbudi, Atase Pendidikan di KBRI Inggris yang juga dedengkot kelompok pencinta musk lawas Indonesia, KPMI, membantu memperkenalkan dengan mahasiswa Indonesia di Birmingham, sehingga sedikit banyak dibantu selama seminggu pameran.

Disana, tidak banyak yang mengenal Benny sebagai rockstar. Hanya Pak Surya Murtiadi PhD, dosen Universitas Mataram dan baru lulus PhD di Aston University, yang mengenal karena dimasa mudanya menggemari Giant Step. "Saya dari dulu kagum ke Giant Step, lha malah sekarang bertemu langsung dengan Benny Soebardja di Inggris", jelas Surya kepada saya. Ketika pulang ke Indonesia, bahkan Surya mampir ke Cinere, kediaman Benny Soebardja.

Di Birmingham, PPI MIB (Persatuan Pelajar Indonesia-Masyarakat Indonesia Birmingham) menyelenggarakan sebuah diskusi musik, dengan pembicara Benny, James Lapian dari OM Pancaran Sinar Petromaks yang saat ini bekerja sebagai wartawan BBC London, dengan moderator Riza Sihbudi. Diskusi yang berlangsung sehari sebelum mantan presiden Soeharto meninggal, menyinggung banyak hal, termasuk peran musik dalam gerakan mahasiswa 70-an.

Riza membagikan rekaman CD Shark Move "Gede Chokra's" dan album solo Benny "Give Me A Piece of Gut Rock". CD tersebut laris manis, hanya para mahasiswa itu hampir semuanya berkomentar kalau lagunya jadul sekali, meski eksplorasi musiknya menyentuh area progresif, blues, psychedelic dan pop. Hanya Surya yang menikmati. Surya pula yang telaten mengantar Benny dan istri kesana kemari mengurus bisnisnya.

***

Benny mempunyai dua anak laki-laki. Si sulung, Anggara Rhabents tercatat sebagai mahasiswa program master arsitektur di TU Delft. Sedangkan Ramaditya Nalendra adalah mahasiswa tingkat akhir di Bina Nusantara jurusan Graphic Design serta sedang mambangun reputasi bermusik melalui band Idealego.

"Tiap tahun saya juga membuka stand di Pasar Malam Besar Tong-Tong di Den Haag. Selain bisnis, juga menengok anak yang kuliah disana". Bulan Mei yang lalu, Benny membawa serombongan karyawannya untuk berjualan. Jualan apa? "Makanan Indonesia". Juga membawa segepok katalog mebel Bents.

Selain membawa staf sendiri, Benny juga mempekerjakan mahasiswa Indonesia teman anaknya,"Lumayan hemat bagi saya. Memberi rezeki bagi mereka juga".

Mencari pasar di luar negeri memang terus dilakukan Benny dengan berbagai cara. Ibu Tria, istri Benny bilang,"Di Spanyol stand Indonesia dibiayai oleh Departemen Perindustrian. Sayang yang di Birmingham harus kami bayar sendiri. Kami mau minta ke Departemen Perindustrian supaya tahun depan pameran di Birmingham juga dibiayai", jelasnya dengan penuh semangat. "Gini-gini, kami ini membantu ekspor non migas Indonesia, ya mas".

Saya menganggukkan kepala. Pameran di Birmingham memang hanya diikuti 3 peserta Indonesia, berbeda dengan Thailand dan Cina yang standnya besar, dengan peserta yang banyak dan dibiayai pemerintahnya.

Ibu Tria kembali menjelaskan kalau mereka tidak mempunyai toko atau ruang pamer tetap. Mereka hanya mengandalkan pameran di Jakarta dan luar negeri, serta jaringan di berbagai negara.

***

"Saya heran, mengapa musisi Indonesia tidak mau meminggirkan egonya untuk melestarikan musik Indonesia", demikian Benny menjawab pertanyaan saya mengapa langkah Shark Move merilis albumnya tidak diikuti oleh musisi lainnya, seperti Guruh Gypsy maupun album Badai Pasti Berlalu dari Eros, Chrisye dan Yockie.

Album Guruh Gypsy yang oleh Rolling Stones Indonesia dianggap sebagai salah satu album berpengaruh di Indonesia memang belum dirilis ulang karena masalah ketidaksepakatan antar musisinya. Album Guruh Gypsi malah dirilis ulang oleh Shadoks dalam bentuk piringan hitam tanpa izin dari Keenan Nasution dan Guruh Soekarnoputra. Hal ini membuat Keenan marah dan sempat berencana menempuh jalur hukum. Sedangkan album fenomenal Badai Pasti Berlalu juga dibelit masalah antara Eros, alm. Chrisye dan Yockie disatu pihak, dengan musisi lainnya seperti Berlian Hutahuruk dan Nasution bersaudara.

Benny memprihatinkan bahwa sejarah perjalanan musik Indonesia akan pincang jika generasi muda tidak mengetahui karya musisi terdahulu. Karena itu, Benny sudah me-remastered beberapa album Giant Step dan merelakan untuk diterbitkan ulang. Benny sudah berbicara dengan Rolling Stones Indonesia untuk menjadikan album Giant on the Move sebagai bonus majalah ini. "Ini semata-mata untuk mendokumentasikan perjalanan bermusik Giant Step dan supaya generasi muda lebih paham sumbangan generasi kami ini". Sayang tawaran ini belum terwujud.

Shadoks, sebuah label independen internasional dari Jerman yang fokus pada musik psychedelic yang kurang dikenal, tertarik untuk merilis Gede Chokra's setelah seorang penggemar Shark Move, Niantoro Sutrisno, yang akrab dipanggil Torro dan aktif di KPMI, mengirimkan kopi album ini. Setelah Shadoks menyatakan minatnya, Gede Chokra's diremaster dengan sumber dari plat yang ada .

"Honor Gede Chokra's hanya cukup perjalanan Jakarta-Jerman PP", jelas Bu Tria dengan nada guyon. Benny menimpali,"Yang penting dunia tahu ada band sebagus Shark Move di awal 70-an".

Bos Shadoks, menurut Benny, suka dengan lagu Evil War,"Mungkin karena dinilai lebih phsychedelic dari My Life yang lebih progresif.

Gatot Widayanto, Chairman I-Rock yang juga kondang sebagai reviewer di situs referensi musik rock progresifwww.progarchives.com menyatakan kalau salah satu dosa terbesarnya adalah terlambat puluhan tahun untuk mendengar album Gede Chokra's. Gatot berkesimpulan bahwa album ini adalah sebuah "…excellent vintage progressive rock – classic rock music that successfully blended the elements of progressive music, traditional harmonies and nice melodies throughout the songs it offers…". Karena itu, Gatot menyimpulkan album ini adalah sebuah penanda (landmark) dan pembangun fondasi musik progresif di Indonesia.

I-Rock pula yang memanggungkan Shark Move tanggal 8 Mei 2008 di Mario's Place Jakarta.

Sedangkan Torro dalam situs yang sama menulis kalau Shark Move dan Benny Soebardja adalah pionir yang menyebarkan musik progrock di Indonesia, yang kemudian diteruskan melalui Giant Step. Torro juga menyebutkan kalau album Gede Chokra's "…was created with complex arrangement and full of prog-rock touch suchs as My Life (the longest Indonesian song on early 70's…". Sementara lagu yang berbahasa Indonesia, lanjut Torro, cenderung beraransemen ngepop.


Bersama Sangkan dan Yaya di Mario's Place Jakarta

Benny memang seorang yang mencintai musik, selain menghargai karir profesionalnya. Setelah menamatkan kuliah pertanian di Universitas Padjadjaran, Benny meneruskan kuliah master di IPB.

"Akhir tahun 1970-an, saya mulai bekerja di perusahaan Inggris ICI memegang Jawa Timur sebagai R & D. Saya sering bekerja sama dengan Balai Penelitian Pertanian di Malang, Surabaya dan perkebunan negara dan swasta, dalam membuat percobaan pestisida baru yang belum dipasarkan. Terpaksa kalau Giant Step mau manggung atau menggarap album, harus boyongan ke kontrakan saya di Malang".

"Obsesi saya sekarang adalah menerbitkan album Idealego ke pentas nasional". Idealego adalah band pimpinan Rama, anak kedua Benny. "Kalau Idealego sudah mentas dan anak saya yang pertama sudah lulus dari Delft, plong rasanya hati saya. Saya bisa bermusik lagi dengan lega."

Idealego sudah beberapa kali bermain di pentas musik nasional, seperti membuka konser reuni Shark Move di Mario's Place, konser mengenang Gito Rollies di Sabuga Bandung, dan Jakarta Rock Parade.

"Obsesi saya adalah manggung bersama grup-grup 70-an, seperti God Bless, Gypsi, AKA, dsb. Mumpung kami masih ada sehingga bisa memberikan contoh kepada generasi muda saat ini."

Kalau itu terjadi, ini akan menjadi langkah raksasa musik Indonesia.

***

Malam itu Mario's Place cukup ramai. Kamis, 8 Mei 2008 adalah penampilan resmi pertama Shark Move dalam konser khusus yang diselenggarakan I-Rock. Idealego tampil pertama, penuh semangat dengan lagu rock masa kini. Pada lagu terakhir, Benny maju berbagi vokal dengan anaknya Rama. Suasana sungguh nostalgis. Setelah selesai, Shark Move tanpa basa-basi langsung menampilkan lagu "Decision". M Alfie Syahrine, salah satu penggiat KPMI mengomentari bahwa "Decision" adalah salah satu anthem Giant Step yang sangat progresif pada masanya, bahkan sampai saat ini. Sayang malam itu Yanto Diablo tidak memainkan flutenya, yang sebelumnya ditunjukkan dalam pertunjukan di Sabuga beberapa minggu sebelumnya.

Mario's Place adalah sebuah kafe di bilangan Cikini, dekat dengan Taman Ismail Marzuki. Sebelum pindah, ia berada di jalan Menteng dekat Batik Keris. Kafe ini cukup ramah terhadap penggemar classic rock dan blues. Sudah tak terbilang pertunjukan hidup band-band yang memuaskan segmen kecil musik tersebut, yang sebelumnya dipuaskan melalui radio M97 Classic Rock Station almarhum.

Sedangkan I-Rock adalah komunitas penggemar rock terpandang di Indonesia, secara rutin menyelenggarakan acara di Mario's Place. Komunitas ini tidak hanya ajang kumpul-kumpul, tetapi juga berniat menjadi pemain dalam industri musik di Indonesia, yang dirintis melalui penyelenggaraan pentas musik rock bulanan.

Salah satu yang pernah main dalam acara I-Rock adalah Cordova, band hard rock dengan pemain gitar kawakan bernama Sangkan. Sangkan sedikit banyak menyerupai Benny. Santun, alim, dan tidak pernah meninggalkan salat lima waktu. Sangkan adalah teman tabligh almarhum Gito Rollies dan beberapa musisi rock yang sekarang meluangkan waktu berdakwah. Sangkan pula yang diajak Benny menjadi lead guitarist Shark Move tahun 2008 ini.

Anggota asli Shark Move memang sudah terpencar. Bhagu Ramchand dan Soman Lubis sudah meninggal. Yanto Diablo, pemain bass dan flute sudah lama meninggalkan musik, meski Benny berkata kepada saya,"Kasih waktu tiga bulan buat latihan bass, pasti Yanto bisa main lagi. Dulu dia salah satu bassist terbaik di Bandung". Sedangkan Sammy Zakaria, drummer yang juga sempat main di Giant Step,"Sudah lama jadi ustaz di Lampung".

Dengan keinginan yang kuat untuk membangkitkan Shark Move lagi, maka Benny mengajak berbagai musisi untuk main bersamanya. Dalam pentas mengenang Gito Rollies di Bandung akhir April 2008, selain Sangkan dan Benny pada gitar, Benny juga mengajak Budi Haryono, eks drummer Krakatau, Archi basisst band anaknya Idealego, mengisi bass, serta Pras, seorang session keyboard player. Yanto ikut menyumbangkan suara dan permainan flutenya.

Sedangkan pada pentas reuni resmi mereka di Mario's Place, posisi Budi digantikan Yaya Muktio, drummer kawakan yang pernah membantu Cockpit, God Bless dan Gong 2000. Benny bilang,"Budi pukulannya terlalu nge-jazz. Kebetulan saya bertemu Yaya ketika sedang makan di steak Abuba". sedangkan Pras tetap di keyboard.

Kemudian pada penampilan ketiga di Jakarta Rock Parade Juli 2008, Erwin Badudu, keyboardist Giant Step masuk, sementara Soma Fox, teman band Sangkan di Cordova, mengisi posisi bass.

Benny mengakui agak berat jika dengan pemain yang berganti-ganti, Shark Move bisa menghasilkan album lagi. Tetapi Benny tetap bertekad untuk menyumbangkan musiknya untuk Indonesia, karena musik adalah his life…

September 2008.
Agam Fatchurrochman

Monday, October 15, 2012

Tugas berat Jokowi - Ahok

Selamat bekerja keras. Eh kalau masalah berat berarti tidak kirim selamat ya.

Wednesday, September 19, 2012

Munir, Lopa, dan Yamin (1)

Minggu lalu saya menonton dua film dokumenter mengenai Munir "Kiri
Hijau dan Kanan Merah, serta "Garuda's Deadly Upgrade", via Youtube.

Ada dua fakta yang secara spekulatif diangkat oleh pembuat film
"Upgrade" mengenai kematian dua penegak hukum dengan integritas yang
dikenal luas, dan kaitannya dengan Garuda (serta operasi intelijen):
kematian mendadak Jaksa Agung Baharuddin Lopa tahun 2001 di Saudi
Arabia (setelah naik Garuda), dan orang kepercayaan Lopa, Muhammad
Yamid, Kepala Badan Diklat Kejaksaan Agung, pemenang Bung Hatta
Anticorruption Award 2003, tahun 2004 di Bali (setelah naik Garuda).

Saya tidak hendak menulis soal Garuda, yang memang sepertinya
dimanfaatkan kekuatan besar negeri ini, tapi sedikit persentuhan saya
dengan tiga orang ini.

Saya tak kenal pribadi mereka. Perjumpaan saya dengan Munir adalah di
kantor YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia), baik di jalan
Diponegoro atau di rumah yang disewa YLBHI 20 m dari YLBHI, jalan
Mendut.

Saya mulai bekerja di ICW minggu pertama Januari 2000. Saya bekerja
sebagai peneliti di ICW, meneliti pola korupsi di Ditjen Pajak (sampai
tahun 2005 saya masih suka menulis soal Pajak). Kantor ICW yang
dipimpin Teten Masduki, saat itu berbagi rumah jalan Mendut dengan dua
organisasi lainnya, Kontras (Koordinatornya Munir) dan Lerai (Lembaga
Rekonsiliasi Konflik Indonesia, ini lembaga untuk resolusi konflik
yang dipimpin Tamrin Amal Tomagola). Masing-masing menempati satu
ruang agak besar.

YLBHI saat itu masih dikenal sebagai lokomotif demokrasi Indonesia,
berada di garda terdepan demokrasi, good governance, dan hak asasi
manusia. Ketua YLBHI saat itu adalah Bambang Widjojanto, yang berumur
sekitar 36 tahun saat itu. Wakil Ketua (Program) adalah Munir, serta
Wakil Ketua (Administrasi) Dadang Trisasongko. Teten menjadi
Koordinator Divisi Perburuhan. Aktivis Kontras, Lerai, dan ICW, saat
itu didominiasi orang Jakarta, mahasiswa atau alumni muda. Saya merasa
terasing di minggu-minggu awal disana, tak kenal banyak orang, semua
orang omong "lu gue", sementara saya medok bahasa Jawa. Satu dua kali
saya bisa ngomong Jawa dengan Munir dan Dadang Trisasongko, dua orang
mantan LBH Surabaya".

Singkat cerita, saya mulai bekerja, dan meniti karir di ICW. Tiga
bulan bekerja, saya dipromosikan menjadi Kepala Divisi Investigasi,
mungkin karena latar belakang akuntansi saya.

(bersambung... kalau sempat)



Agam Fatchurrochman


--
Agam Fatchurrochman
GTalk, Skype: afatchur


--
Agam Fatchurrochman
GTalk, Skype: afatchur

Saturday, September 15, 2012

Porto Alegre di Indonesia itu Solo

Tiba-tiba saya teringat ngobrol santai saya dengan Teten Masduki tahun 2008 di perempatan BPKP Aceh sambil makan duren, katanya Porto Alegre di Indonesia itu di Solo.

Ketika itu saya memang bekerja di Aceh, konsultan public financial management, dan seperti biasa ngomong soal participatory development and budgeting sebagai bagian keseharian. Teten datang untuk berkunjung ke Aceh Besar. Kami ngobrol kesana kemari (ceritanya ada di MP lama saya). Tiba-tiba dia bilang kalau sebenarnya sudah ada kota di Indonesia yang menerapkan participatory development, yaitu Solo.

Porto Alegre adalah kota besar di Brazil yang secara konsisten menerapkan participatory development and budgeting secara substansial, bukan sekedar ala Musrenbang. Singkat cerita, Porto Alegre dipilih tiga kali jadi tuan rumah World Social Forum, forum multipihak yang percaya bahwa there is another alternative to Neoliberal Economy, karena banyak yang kagum dengan perencanaan kota yang memihak warga, bukan sekedar menyenangkan perusahaan besar. Silakan googling untuk melihat bagaimana sebuah kota yang memberdayakan warganya.

Pengetahuan saya mengenai Solo waktu itu boleh dibilang kurang. Yang saya tahu soal Solo, sebagai orang Semarang yang lulusan Yogya, adalah Solo itu kota rusuh, tak tertata, banyak preman merah dan hijau. Keraton Solo (pihak Pakubuwono dan Mangkunegoro) tidak mendapat penghormatan dari rakyat (Mangkunegoro saya dengar lebih dihormati), karena dulu penggedenya lebih memihak Belanda, berbeda dengan keraton Yogya. Solo kalah pamor dari Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah. Sisi budaya dan pendidikan, serta pariwisata kalah dari Yogya, sesama pewaris kerajaan Mataram. Saya melihat orang Solo kurang bangga dengan kotanya. Pendek kata, anak muda Solo yang ingin sekolah bagus, seperti Jokowi muda, ya kudu ke Yogya. Solo tertolong sedikit karena ibu Tien masih kerabat Mangkunegoro.

Maka bagi saya Porto Alegre Indonesia itu Solo, adalah kemustahilan. Tapi Teten cerita kalau walikota Solo, Joko Widodo (waktu itu nama Jokowi belum ngetop), adalah pemimpin visioner, dekat dengan rakyat, memberdayakan rakyat, melaksanakan pembangunan yang partisipatif, antikorupsi, dan tidak punya potongan pejabat -baik perilaku maupun tampang-, sesuatu yang sudah melembaga di Porto Alegre.

Teten hanya singkat menyinggung soal Solo dan Porto Alegre. Kami meneruskan makan duren dan ngobrol sana sini.

Tahun 2009 saya diminta Teten ikut membantu Bung Hatta Anti Corruption Award (BHACA), yang didirikan oleh para tokoh berintegritas, seperti Bambang Widjojanto-sekarang KPK, TP Rachmad-mantan Astra, Adaro, Ken Sudarto-Matari, Shanti Pusposutjipto-Samudera Indonesia, Nono Makarim, Bety Alisyahbana-mantan CEO IBM (Ketua BHACA), dsb. Waktu itu Direkturnya masih belajar. Kemudian saya ikut membantu ketika BHACA membuka nominasi BHACA Award tahun 2010. Saya terlibat mencari nominator, dan setelah putaran terakhir, ikut mencari info soal integritas Herry Zudianto, Walikota Yogya saat itu. Saya tahu dua finalis, Herry dan Joko Widodo, Walikota Solo. Tapi karena saya buta soal Solo, saya hanya membantu soal Herry.

Singkat kata, Herry dan Jokowi mendapat penghargaan. Saya ikut hadir dalam malam penganugerahan. Tapi karena saya lebih punya kedekatan emosional dengan Yogya, saya hanya ngobrol sedikit dengan Herry. Saya bahkan tak mendekati Jokowi saat itu. Di mata saya, Herry bahkan lebih gentle, karena Herry tak mau menerima penghargaan itu secara pribadi, tapi sebagai wakil Pemerintah Kota Yogyakarta. Sehingga ketika penerima maju, Jokowi maju sendirian, Herry Zudianto maju bersama sekitar 10 staf Pemerintah Kota Yogyakarta.

Dan ketika debat calon gubernur Jakarta kemarin berlangsung di Jaktv, saya teringat kembali omongan sekilas Teten bahwa Solo itulah Porto Alegre Indonesia. Solo saat itu, 2008 atau 3 tahun Jokowi menduduki jabatan Walikota, sudah menarik perhatian banyak pihak atas pembangunan kota yang memanusiakan warganya, meski saya sungguh buta saat itu. Solo tahun 2012 adalah Solo yang percaya diri, karena warga kotanya menjadi aktor dalam pembangunan kotanya, sesuatu yang jarang di Indonesia. Warga Solo 2012 adalah warga yang ingin mewakafkan walikotanya untuk menarik Jakarta dari jurang keterpurukan. Belum pernah saya melihat warga biasa suatu kota sungguh mencintai pimpinannya, dan bahkan mendorong warga kota lain untuk menikmati gaya manajemen Jokowi yang mendorong partisipasi warga buat bersama-sama bergerak bersama membangun kota.

Tanggal 20 September 2012, apakah Jakarta akan menjadi Porto Alegre Indonesia ketiga (yang kedua Yogya)?
Agam Fatchurrochman

Debat Cagub Tadi Malam

Tadi malam ada debat cagub-cawagub. Singkatnya kalau bagi saya (dan semua orang yg saya tanya yg pro perubahan):

- Foke ngomong konsep makro, dg indikator makro, emosional: ngambang.

- Jokowi menggebrak dg bawa desain kampung susun, monorel kapsul, dkk: membawa harapan perubahan kongkret, langsung terasa, indikator terasa: empirik.

- Nara: hahaha.

- Ahok: jago debat, tanpa terpancing emosinya: elegan

Momen paling berkesan:

- Foke ketika datang sempat cipika cipiki sama dua perempuan, yg sepertinya bukan muhrimnya hahaha mau kampanye pilih pemimpin Islam bagaimana.

- Jokowi ucap salam ala NU, dg kalimat2 arab panjaaaaaaanggg.

- Jokowi keluarkan alat peraga kampung susun, monorel kapsul, dsb. Semua melongo. Perlihatkan kalau perubahan is in the near future.

- Foke kata kunci: akan, segera, sedang: perubahan is very far away.

- Ahok beberapa kali membantu membetulkan mike Jokowi. Gesture yg berkesan, bahwa ini pasangan serasi, saling mengisi.

- Nara bilang: kita anti ekonomi liberal, hidup koperasi! Teeeetttt waktu habis, nggak jelas maksugnya. Nara sama sekali tidak dikasih kesempatan bicara.

- Ahok sempat tinggal 10 detik. Dia pintar pilih kalimat yg berkesan: birokrasi itu mulai dari atasnya. Kalau yg di atas lurus, di bawah juga lurus! Teeettt sebuah punch line yg berkesan.

- Foke emosi ketika Jokowi ngomong PPATK, konflik, dsb. Foke memang ahli eufimisme: konflik sosial = singgungan. Ini melengkapi temuan Foke lain: banjir kurang dari 3 jam = genangan; macet = padat merayap.

- Nara ketika bahas kemacetan, sempat bahas teknik membuat jalan aspal: pertama dilapisi batu, kemudian pasir, kemudian aspal hahaha.

- Ahok jago debat, dengan argumentasi yg mengesankan, konsep iya, detil iya.

- Jokowi pandai presentasi dg bahasa yg sangat mudah diterima. Tapi kalau debat, terlalu santun untuk melawan.

- Di akhir acara ada pembahasan oleh Tjipta Lesmana dan Effendi Ghazali, dua-duanya memuji Jokowi-Ahok.

Demikian sekilas review singkat debat. Tidak sabar menunggu Metro TV Minggu malam, apakah Foke bakal menyontek alat peraga seperti Jokowi lagi.

Agam Fatchurrochman

Wednesday, September 12, 2012

selamat kepada Wibs, lomba menulis Nganufacturing Hope

Semacam pengumuman pemenang, masih bisa disanggah
------------------------------------------------------------------------------------

Pengumuman Pemenang
Lomba Menulis Nganufacturing Hope

Lomba Menulis Nganufacturing Hope KRL Jabodetabek yang diadakan oleh
KRLMania ternyata mendapat sambutan hangat. Hal ini terbukti dari 33
naskah yang tercatat sebagai peserta.

Sayang karena berbagai kendala dan kesibukan moderator KRLMania,
penilaian terhadap naskah tersebut mengalami keterlambatan. Karena itu
panitia mengajukan permohonan maaf sebesar-besarnya.

Kecenderungan umum dari semua tulisan adalah mencapai "seperti Dahlan
Iskan" tapi kerap kali melupakan konteks, sehingga orang awam yang tak
kenal kereta tak paham apa yang sedang ditulis. Beberapa yang lain
idenya bagus tapi "tidak ndahlan". Tapi ada juga yang terlalu Ndahlan,
sehingga terlalu serius.

Akhirnya berdasarkan beberapa kriteria penilaian, Dewan Juri
memutuskan pemenang Lomba Menulis Nganufacturing Hope KRL Jabodetabek
yaitu:

Juara 1
Lelaki Sangat Cepat Jika Bertemu Wanita Hebat, Penulis: Wibzwahyu

Juara pertama berhak mendapatkan hadiah
- Pulsa senilai 200rb
- Piagam Nganufacturing Hope Award
- 1 eksemplar buku Puisi Mimpi Kereta di Pucuk Cemara.
- 2 voucher @Rp 50ribu Soto Kauman Depok
- 1 Loyang Klapeertaart ukuran Medium

Juara 2
The Fiction, Penulis: Kendy Aditya

Juara kedua berhak mendapatkan hadiah
- Pulsa senilai 150rb
- Piagam Nganufacturing Hope Award
- 1 eksemplar buku Puisi Mimpi Kereta di Pucuk Cemara.
- 1 voucher @Rp 50ribu Soto Kauman Depok
- 1 Loyang Klapeertaart ukuran Medium

Juara 3
Membalik Krupuk di Wajan, Mengejar Shinkansen, Oleh : Mim Yudiarto

Juara ketiga berhak mendapatkan hadiah
- Pulsa senilai 100rb
- Piagam Nganufacturing Hope Award
- 1 eksemplar buku Puisi Mimpi Kereta di Pucuk Cemara.
- 1 voucher @Rp 50ribu Soto Kauman Depok
- 1 Loyang Klapeertaart ukuran Medium

Penyerahan hadiah akan dilakukan pada tgl ....... di ..............

Selamat kepada para pemenang. Kepada peserta lain tidak perlu berkecil
hati, masih banyak kesempatan lain menanti.

Friday, September 07, 2012

Ucapan Munir sebelum wafat:: Astagfirullah hal adzim Lailahaillallah........

Bergetar saya membaca tulisan ini, dari Wikipedia.

Munir meninggal kira-kira 6 hari sebelum saya berangkat ke Nottingham. Saya dengar kabar ini dari sms Teten ketika sedang menunggu di British Council, yang kemudian langsung saya telepon. Suara Teten tercekat, menahan tangis.

####

Madjib menyarankannya untuk ber-Istighfar, disambut Munir dengan menyebut, "Astaghfirullah Haladzim, La Illaha Illa Llah," sambil tetap memegangi perut.

http://id.wikipedia.org/wiki/Munir_Said_Thalib ||



Munir Said Thalib (lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965 – meninggal di Jakarta jurusan ke Amsterdam, 7 September 2004pada umur 38 tahun) adalah pria keturunan Arab yang juga seorang aktivis HAM Indonesia. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial.
Saat menjabat Dewan Kontras namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Soeharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.
Jenazah Munir dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Kota Batu.
Istri Munir, Suciwati, bersama aktivis HAM lainnya terus menuntut pemerintah agar mengungkap kasus pembunuhan
Munir Said Thalib, akan melanjutkan studi S2 bidang hukum humaniter di Universitas Utrecht, Belanda. Pukul 21.30 WIB. Melalui pengeras suara, seluruh penumpang pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 974 tujuan Amsterdam dipersilakan petugas bandara naik ke pesawat.Pembunuhan
Rombongan orang kulit putih bergegas, banyak dari mereka adalah warga negara Belanda. Saat akan memasuki pintu pesawat, Munir bertemu Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda yang biasa dipanggil Polly. Status Polly dalam penerbangan ini adalah extra crew, yaitu kru yang terbang sebagai penumpang dan akan bekerja untuk tugas lain. Mereka bertemu di dekat pintu masuk kelas bisnis. Sebagai penumpang kelas ekonomi, Munir sebenarnya akan lebih dekat dengan tempat duduknya bila masuk melalui pintu belakang. Diawali percakapan dengan Polly, Munir berakhir di tempat duduk kelas bisnis, nomor 3K. Kursi 3K adalah tempat duduk Polly, sementara milik Munir adalah 40G. Polly selanjutnya naik ke kokpit di lantai dua untuk bersalaman dan mengobrol dengan awak kokpit yang bertugas. Saat pesawat mundur dan siap tinggal landas, Polly dipersilakan oleh purser Brahmanie untuk duduk di kelas premium karena banyak tempat duduk yang kosong di kelompok termahal itu. Purser
 adalah pimpinan kabin yang bertanggung jawab atas kenyamanan seluruh penumpang, termasuk kepindahan tempat duduk mereka. Lelaki berseragam pilot kemeja putih dan celana biru dongker itu pun duduk di 11B.
Ada dua cerita tentang kepindahan Munir ke kelas bisnis itu, yaitu menurut kisah brahmanie dan polly. Dalam sidang PN (Pengadilan Negeri) Jakarta Pusat, Brahmanie bersaksi, "Saat sedang di depan toilet bisnis, saya berpapasan dengan Saudara Polly. Lalu, Saudara Polly, sambil memegang boarding pass warna hijau, bertanya dalam bahasa Jawa, 'Mbak, nomer 40G nang endi? Mbak, aku ijolan karo kancaku,' (Mbak, nomor 40G di mana? Mbak, saya bertukar tempat dengan teman saya.) tanpa menyebutkan nama temannya. Karena nama temannya tidak disebutkan, saya ingin tahu siapa teman Saudara Polly. Lalu, saya datangi nomor 3K, dan ternyata yang duduk di sana Saudara Munir, yang lalu saya salami. Saudara Polly tidak duduk di 40G, tapi di premium class nomor 11B atas anjuran saya karena banyak tempat duduk yang kosong." Sementara itu, dalam wawancara di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Polly bercerita, "Saya ketemu Munir di pintu pesawat Garuda Indonesia, di
 bandara Jakarta. Dia tanya di pintu bisnis, 'Tempat duduk ini di mana?' Saya bilang, 'Wah Bapak ini di ekonomi, cuma tempat duduknya yang mana saya tidak hafal.' Kemudian, itu kan antre, ada banyak penumpang lain mau masuk, saya persilakan duluan. Saya sebagai kru lebih baik ngalah, toh sama-sama naik pesawat, nggak mungkin ditinggal. Setelah itu, karena saya mau masuk ke ruang bisnis, mau melangkah ke dalam pesawat, saya bilang kepada Munir, 'Saya duduk di bisnis, kalau Bapak mau di sini, ya Bapak tanya dulu sama pimpinan kabin, kalau diizinkan ya silakan, bila tidak ya mohon maaf.' Bahasa saya seperti itu. Sudah, itu saja." Sebelum pesawat tinggal landas, di kelas bisnis, Yeti Susmiarti menyajikan welcome drink. Penumpang diminta mengambil gelas berisi sampanye, jus jeruk, atau jus apel. Munir memilih jus jeruk. Selesai minuman pembuka, pramugari senior itu membagikan sauna towel (handuk panas), yang biasa digunakan untuk mengelap
 tangan, lalu memberikan surat kabar kepada penumpang yang ingin membacanya. Semua layanan itu disajikan Yeti sendiri, dengan bantuan Oedi Irianto, pramugara senior, yang menyiapkan segala keperluannya di pantry. Pukul 22.02 WIB pesawat yang dikendalikan Kapten Pilot Sabur Muhammad Taufik itu tinggal landas. Untuk mengukur waktu tinggal landas dan mendarat secara tepat, industri penerbangan menggunakan istilah block off dan block on. Block off adalah waktu yang menunjukkan saat ganjal roda pesawat di bandara dilepas dan pesawat mulai bergerak untuk terbang. Block on digunakan sebagai penanda waktu kedatangan pesawat di bandara tujuan, yaitu saat ganjal roda pesawat dipasang.
Sekitar 15 menit setelah tinggal landas, pramugari menawarkan beberapa pilihan makanan dalam kemasan yang masih panas di atas nampan. Di kursi 3K, Munir memilih mi goreng. Selesai mi, Yeti kembali memberi tawaran minuman, kali ini lebih banyak pilihan daripada welcome drink. Pilihannya adalah minuman beralkohol (wiski, gin, vodka, red wine, white wine, dan bir), soft drink, jus apel serta jus jeruk Buavita, jus tomat Berry, susu putih Ultra, air mineral Aqua, teh, dan kopi. Munir kembali memilih jus jeruk. Setelah mengarungi langit pulau Jawa, Sumatera, dan laut di sekitarnya selama 1 jam 38 menit, pesawat GA 974 mendarat di Bandara Changi, Singapura pukul 00.40 waktu setempat. Zona waktu Singapura satu jam lebih awal ketimbang WIB. Awak kabin memberi penumpang waktu untuk jalan-jalan atau kegiatan apa saja di Bandara Changi selama 45 menit.
Karena keluar dari pintu bisnis, Munir pun lebih cepat mencapai Coffee Bean dibanding jika keluar dari pintu ekonomi. Usai singgah di kedai itu, dia kembali menuju ke pesawat melaui gerbang D 42. Di perjalanan menuju pintu Garuda, dia disapa oleh seorang laki-laki. "Anda Pak Munir, ya?" "Iya, Pak." "Saya dr. Tarmizi dari Rumah Sakit Harapan Kita. Pak Munir ngapain ke Belanda?" "Saya mau belajar, mau nge-charge satu tahun." "Di mana?" "Utrecht." "Wah, Indonesia kehilangan, dong. Anda kan orang penting?" komentar dr. Tarmizi. "Ya… ini perlu untuk saya, Pak," timpal Munir sambil tersenyum. "Anda 'kan pernah nulis tentang Aceh. Bagaimana sih, bisa beres nggak tuh?" tanya dokter lagi, sambil keduanya berjalan. "Ah, itu tergantung niat, Dok." "Maksudnya?" "Kalau niatnya membereskan, tiga bulan juga beres." Kemudian, dokter kelahiran Sumatera Barat itu mengeluarkan dompet dan memberi Munir kartu namanya sambil
 berkata, "Kapan-kapan, bila perlu, silakan menghubungi saya." Munir menerima kartu nama dr. Tarmizi Hakim, lalu keduanya berpisah. Si dokter masuk ke kelas bisnis, Munir menuju pintu bagian belakang pesawat dan duduk di kursi 40G kelas ekonomi, sebagaimana tercantum di boarding pass-nya. Karena Polly hanya sampai Singapura, Munir pun kembali ke tempat duduk aslinya untuk penerbangan Singapura-Amsterdam. Total waktu transit di Changi (antara block on dan block off) adalah 1 jam 13 menit, jumlah waktu yang digunakan pesawat untuk pengisian bahan bakar, penggantian seluruh awak kokpit dan kabin, serta penambahan penumpang dari Singapura.
Pesawat tinggal landas dari Changi pukul 01.53 waktu setempat. Penerbangan menuju Schipol ini dipimpin oleh Kapten Pantun Matondang, dengan purser Madjib Nasution sebagai penanggung jawab pelayanan penumpang. Sebelum pesawat mengangkasa, pramugari Tia mengecek kesiapan penumpang untuk tinggal landas. Saat melakukan kewajibannya, dia dipanggil oleh Munir yang meminta obat Promag. Pramugari bernama lengkap Tia Dewi Ambara itu meminta Munir menunggu sebentar karena pesawat akan tinggal landas dan seluruh awak kabin harus duduk di tempat masing-masing. Kira-kira 15 menit kemudian, setelah pesawat di ketinggian aman, Tia mulai membagikan selimut dan earphone, dilanjutkan dengan makanan pengantar tidur. Saat Tia sampai di 40G, lelaki berkaus abu-abu dan bercelana jins hitam itu sedang tidur. Tia membangunkannya dan bertanya, "Apa Bapak sudah dapat obat dari teman saya?" "Belum." "Maaf, kami tidak punya obat." Tia lalu menawarkan makanan, yang
 ditolak oleh Munir. Namun, lelaki ini meminta teh hangat. Tia pun menyajikan teh panas yang dituangkan dari teko ke gelas di atas troli. Munir menerima uluran minuman itu, lengkap dengan gula 1 sachet. Ketika Tia melanjutkan melayani penumpang lain, Munir melewatinya di gang menuju toilet. Ini kali pertama Munir pergi ke toilet, sekitar 30 menit setelah tinggal landas.
Tiga jam sudah pesawat besar itu terbang dan sedang berada di langit India saat Munir semakin sering pergi ke toilet. Ketika berjalan di gang kabin yang hanya diterangi oleh lampu baca, dia berpapasan dengan pramugara Bondan Hernawa. Dia mengeluhkan sakit perut dan muntaber kepada Bondan, serta memintanya memanggilkan dr. Tarmizi yang duduk di kelas bisnis. Munir juga memberinya kartu nama dokter itu. Sesuai prosedur untuk situasi semacam ini, Bondan pun melapor kepada purser Madjib Nasution yang berada di Purser Station. "Bang, ini Pak Munir penumpang kita sakit. Buang-buang air, muntah-muntah. Ini ada kawannya, dokter, tapi saya tidak tahu duduk di mana. Tolong carikan tempat duduknya," ujar Bondan sambil menyerahkan kartu nama dr. Tarmizi. Madjib mencari penumpang atas nama dr. Tarmizi Hakim di Passenger Manifest dan menemukannya di kursi nomor 1J. Belum sempat dia beranjak, Munir sudah berada di depan Purser Station. Sambil memegangi perut, Munir
 berkata, "Saya sudah buang-buang air, pakai muntah juga. Mungkin maag saya kambuh. Seharusnya tadi tidak minum jeruk waktu dari Jakarta-Singapura." Munir pun melanjutkan perjalanannya ke toilet. Madjib dan Bondan lalu mendatangi 1J dan mendapati dr. Tarmizi sedang tidur di 1K, kursi sebelah kanannya yang, karena dekat jendela dan dia dapati kosong, lalu dia duduki. "Dokter, dokter…," Madjib berusaha membangunkan. Keduanya mengulanginya beberapa kali dengan suara lebih keras, tapi tidur dokter bedah itu tetap tak terusik. Madjib kembali berjumpa Munir di gang dan memintanya membangunkan dr. Tarmizi sendiri, sementara Bondan pergi ke pantry untuk melaksanakan tugas terjadwalnya. Akhirnya, dr. Tarmizi bangun. Munir menjelaskan kondisi tubuhnya yang saat itu tampak sangat lemah dengan berkata, "Saya sudah muntah dan buang air besar enam kali sejak terbang dari Singapura." Dr. Tarmizi mengusulkan kepada Madjib supaya Munir pindah tempat duduk
 ke nomor 4 karena tempat itu kosong dan dekat dengannya. Munir pun duduk di kursi 4D. Dr. Tarmizi mengambil posisi di samping kirinya. "Pak Munir makan apa saja dua hari terakhir ini?" tanya dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular itu. Munir hanya diam, mungkin akibat nyeri perutnya. Pertanyaan itu disambut oleh Madjib, "Pak Munir tadi sempat minum air jeruk, padahal Pak Munir tidak kuat minum jeruk karena punya maag." Munir tetap diam, tidak berkomentar. "Kalau maag tidak begini," kata si dokter, yang lalu bertanya kepada Munir, "Anda makan apa?" "Biasa saja." "Kemarin?" "Biasa saja." "Kemarinnya lagi?" "Biasa saja." Dokter itu melakukan pemeriksaan secara umum dengan membuka baju pasiennya. Dia lalu mendapati nadi di pergelangan tangan Munir lemah. Dokter berpendapat Munir menunjukkan gejala kekurangan cairan akibat muntaber.
Munir kembali lagi ke toilet, diikuti dokter, pramugara, dan pramugari. Setelah muntah dan buang air, dia pulang ke kursi 4D, sambil terus batuk-batuk berat. Dr. Tarmizi meminta seorang pramugari mengambilkan Doctor's Emergency Kit yang dimiliki setiap pesawat terbang. Kotak itu dalam keadaan tersegel. Setelah melihat isinya, dia berpendapat obat yang tersedia sangat minim, terutama untuk kebutuhan Munir. Dr. Tarmizi memerlukan infus, tapi tidak ada. Tidak ada obat khusus untuk sakit perut mulas, juga obat muntaber biasa. Si dokter pun mengambil obat dari tasnya sendiri. Dia memberi Munir obat diare New Diatabs serta obat mual dan perih kembung Zantacts dan Promag. Dua tablet untuk yang pertama dan masing-masing satu tablet untuk dua terakhir. Dr. Tarmizi lalu meminta seorang pramugari membuatkan teh manis dengan sedikit tambahan garam di dalamnya. Namun, lima menit setelah meminum teh hangat itu, Munir kembali ke toilet. Munir rampung setelah lima
 menit dan membuka pintu. Dr. Tarmizi lalu membimbing Munir berjalan menyusuri gang sambil berkomentar kepada purser Madjib, "Mengapa infus saja tidak ada padahal perjalanan sejauh ini?" Di kotak obat pesawat terdapat cairan Primperam, obat antimual dan muntah, yang kemudian disuntikkan dr. Tarmizi ke tubuh Munir sejumlah 5 ml (dosis 1 ampul). Injeksi di bahu kiri ini cukup berpengaruh karena Munir kemudian tidur. Penderitaannya reda selama 2-3 jam.
Munir bangun dan kembali masuk ke toilet. Dia cukup lama berada di dalamnya, kira-kira 10 menit, dan pintunya pun tidak tertutup dengan sempurna. Madjib memberanikan diri melongok lewat celah yang ada dan mengetuk pintu, tapi tidak ada respons dari orang yang sedang menderita di dalam sana. Madjib membuka pintu lebih lebar dan melihat laki-laki 38 tahun itu sedang bersandar lemas di dinding toilet. Purser Madjib langsung memanggil dokter yang selama setengah jam terakhir paling tahu kondisi penumpangnya itu. Dr. Tarmizi mengajak Madjib dan pramugara Asep Rohman mengangkat Munir kembali ke kursi 4D. Setelah didudukkan di kursi, Munir menjalani pemeriksaan oleh dr. Tarmizi, dalam gelapnya kabin pesawat yang hanya diterangi lampu baca. Kegelapan ini keadaan yang tak bisa mereka atasi sebab demikianlah aturan penerbangan. Pertama pergelangan tangan, lalu perut. Saat perutnya diketuk oleh si dokter, Munir mengeluh, "Aduh, sakit," sambil memegang perut
 bagian atas. Madjib menyarankannya untuk ber-Istighfar, disambut Munir dengan menyebut, "Astaghfirullah Haladzim, La Illaha Illa Llah," sambil tetap memegangi perut. Pramugari Titik Murwati yang berada di dekat situ berinisiatif memberi balsem gosok, tindakan yang dia harap bisa membantu meredakan derita penumpangnya. Atas persetujuan dr. Tarmizi, Titik menggosok perut Munir dengan balsem yang bisa memberikan rasa hangat. Munir berkata dia ingin istirahat karena capek. Dr. Tarmizi membuka kotak obat lagi dan mengambil obat suntik Diazepam. Kali ini, dokter menyuntikkan 5 mg di bahu kanan, juga dengan bantuan purser Madjib. Jarak antara kedua suntikan sekitar 4-5 jam. Sesudah suntikan obat penenang itu, Munir masih merasakan mulas di perut. Lima belas menit berlalu dan Munir ke toilet lagi, ditemani dokter, purser, serta pramugari. Di dalamnya, Munir muntah, diikuti buang air. Kembali ke tempat duduk, Munir berkata dirinya ingin tidur telentang.
 Purser dan seorang anak buahnya membentangkan sebuah selimut sebagai alas di lantai depan kursi 4D-E dan sebuah bantal di atasnya. Dia pun berbaring di sana, dengan dua selimut lagi diletakkan di atas tubuhnya agar hangat. Dr. Tarmizi berkata kepada awak kabin itu supaya Munir dijaga, dan bahwa dirinya ingin istirahat karena besok kerja (dia akan melakukan operasi jantung di rumah sakit di Swole), sambil minta dibangunkan bila terjadi apa-apa dengan Munir. Juga, dia berpesan agar mereka memastikan dokter dari Amsterdam yang besok masuk ke pesawat membawa infus. Setelahnya, si dokter kembali ke kursi di 1K dan tidur. Munir kembali bisa tidur, tapi sering berubah posisi, dan posisi itu selalu miring, tidak pernah telentang atau tengkurap. Madjib terus setia menjaga Munir sampai sekitar 3 jam sebelum pesawat mendarat di Bandara Schipol, saat awak kabin menyiapkan makan pagi penumpang.Madjib berjalan ke tempat duduk dr. Tarmizi dan bertanya apakah perlu
 dirinya membangunkan Munir untuk sarapan, yang dijawab dengan anjuran untuk membiarkan Munir tetap istirahat. Madjib pun melakukan tugas rutinnya mengawasi lingkungan pesawat.
Sekitar dua jam sebelum pesawat mendarat, jam 05.10 GMT atau 12.10 WIB, ketika sarapan masih berlangsung dan lampu kabin masih menyala, Madjib kembali melangkahkan kaki mengunjungi "tempat tidur" Munir. Di depan kursi 4D-E, dia melihat tubuh Munir dalam posisi miring menghadap kursi, mulutnya mengeluarkan air liur tidak berbusa, dan telapak tangannya membiru. Dia memegang tangan Munir dan mendapati rasa dingin. Madjib yang kaget bergegas menuju kursi sang dokter. Dokter memegang pergelangan tangan Munir sambil dengan tangan satunya menepuk-nepuk punggung. Dia berulang-ulang berujar, "Pak Munir… Pak Munir…." Akhirnya, memandang purser Madjib, dr. Tarmizi berkata pelan, "Purser, Pak Munir meninggal… Kok secepat ini, ya…. Kalau cuma muntaber, manusia bisa tahan tiga hari." Purser Madjib meminta Bondan dan Asep membantunya mengangkat tubuh kaku Munir ke tempat yang lebih baik: lantai depan kursi 4J-K. Munir berbaring di atas dua lembar
 selimut, kedua matanya dipejamkan oleh Bondan, tubuhnya ditutupi selimut.
Bondan dan Asep membaca surat Yassin di depan jenazah Munir Said Thalib, empat puluh ribu kaki di atas tanah Rumania.
Pada tanggal 12 November 2004 dikeluarkan kabar bahwa polisi Belanda (Institut Forensik Belanda) menemukan jejak-jejak senyawa arsenikum setelah otopsi. Hal ini juga dikonfirmasi oleh polisi Indonesia. Belum diketahui siapa yang telah meracuni Munir, meskipun ada yang menduga bahwa oknum-oknum tertentu memang ingin menyingkirkannya.
Pada 20 Desember 2005 Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun hukuman penjara atas pembunuhan terhadap Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, seorang pilot Garuda yang sedang cuti, menaruh arsenik di makanan Munir, karena dia ingin mendiamkan pengkritik pemerintah tersebut. Hakim Cicut Sutiarso menyatakan bahwa sebelum pembunuhan Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut. Selain itu Presiden Susilo juga membentuk tim investigasi independen, namun hasil penyelidikan tim tersebut tidak pernah diterbitkan ke publik.
Pada 19 Juni 2008, Mayjen (purn) Muchdi Pr, yang kebetulan juga orang dekat Prabowo Subianto dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, ditangkap dengan dugaan kuat bahwa dia adalah otak pembunuhan Munir[1]. Beragam bukti kuat dan kesaksian mengarah padanya[2].Namun demikian, pada 31 Desember 2008, Muchdi divonis bebas. Vonis ini sangat kontroversial dan kasus ini tengah ditinjau ulang, serta 3 hakim yang memvonisnya bebas kini tengah diperiksa[3].
[sunting]Film dokumenter
Untuk memperingati satu tahun kepergian Munir, diluncurkan film dokumenter karya Ratrikala Bhre Aditya dengan judul Bunga Dibakar di Goethe-Institut, Jakarta Pusat, 8 September 2005. Film ini menceritakan perjalanan hidup Munir sebagai seorang suami, ayah, dan teman. Munir digambarkan sosok yang suka bercanda dan sangat mencintai istri dan kedua anaknya. Masa kecil Munir yang suka berkelahi layaknya anak-anak lain dan tidak pernah menjadi juara kelas juga ditampilkan. Munir dibunuh di era demokrasi dan keterbukaan serta harapan akan hadirnya sebuah Indonesia yang dia cita-citakan mulai berkembang. Semangat inilah yang ingin diungkapkan lewat film ini.
Sebuah film dokumenter lain juga telah dibuat, berjudul Garuda's Deadly Upgrade hasil kerja sama antara Dateline (SBS TV Australia) dan Off Stream Productions.
Pada peringatan tahun kedua, 7 September 2006, di Tugu Proklamasi diluncurkan film dokumenter berjudul "His Strory". Film ini bercerita tentang proses persidangan Pollycarpus dan fakta-fakta yang terungkap di pengadilan.
[sunting]Peringatan
Sejak 2005, tanggal kematian Munir 7 September, oleh para aktivis HAM dicanangkan sebagai Hari Pembela HAM Indonesia.
[sunting]Biografi
        * Lahir: Malang, 8 Desember 1965
        * Jabatan: Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau HAM Indonesia Imparsial
        * Pendidikan: S1 FH Universitas Brawijaya(Unibraw) (1990)
[sunting]Karier terpenting
        * Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau HAM Indonesia Imparsial
        * Ketua Dewan Pengurus KONTRAS (2001)
        * Koordinator Badan Pekerja KONTRAS (16 April 1998-2001)
        * Wakil Ketua Dewan Pengurus YLBHI (1998)
        * Wakil Ketua Bidang Operasional YLBHI (1997)
        * Sekretaris Bidang Operasional YLBHI (1996)
        * Direktur LBH Semarang (1996)
        * Kepala Bidang Operasional LBH Surabaya (1993-1995)
        * Koordinator Divisi Pembunuhan dan Divisi Hak Sipil Politik LBH Surabaya (1992-1993)
        * Ketua LBH Surabaya Pos Malang
        * Relawan LBH Surabaya (1989)
[sunting]Organisasi
        * Sekretaris BPM FH Unibraw (1988)
        * Ketua Senat Mahasiswa FH Unibraw (1989)
        * Anggota HMI Komisariat Hukum Unibraw
        * Ketua Umum Komisariat Hkukum Unibraw HMI Cabang Malang
        * Sekretaris Al Irsyad Kabupaten Malang (1988)
        * Divisi Legal Komite Solidaritas untuk Marsinah
        * Sekretarsi Tim Pencari Fakta Forum Indonesia Damai.
[sunting]Penghargaan terpenting
        * Right Livelihood Award 2000, Penghargaan pengabdian bidang kemajuan HAM dan kontrol sipil terhadap militer (Swedia, 8 Desember 2000)
        * Mandanjeet Singh Prize, UNESCO, untuk kiprahnya mempromosikan Toleransi dan Anti-Kekerasan (2000)
        * Salah satu Pemimpin Politik Muda Asia pada Milenium Baru (Majalah Asiaweek, Oktober 1999)
        * Man of The Year versi majalah Ummat (1998).
        * Suardi Tasrif Awards, dari Aliansi Jurnalis Independen, (1998) atas nama Kontras
        * Serdadu Awards, dari Organisasi Seniman dan Pengamen Jalanan Jakarta (1998)
        * Yap Thiam Hien Award (1998)
        * Satu dari seratus tokoh Indonesia abad XX, majalah Forum Keadilan
[sunting]Kasus-kasus penting yang pernah ditangani
        * Penasehat Hukum dan anggota Tim Investigasi Kasus Fernando Araujo, dkk, di Denpasar yang dituduh merencanakan pemberontakan melawan pemerintah secara diam-diam untuk memisahkan Timor-Timur dari Indonesia; 1992
        * Penasehat Hukum Kasus Jose Antonio De Jesus Das Neves (Samalarua) di Malang, dengan tuduhan melawan pemerintah untuk memisahkan Timor Timur dari Indonesia; 1994
        * Penasehat Hukum Kasus Marsinah dan para buruh PT. CPS melawan KODAM V Brawijaya atas tindak kekerasan dan pembunuhan Marsinah, aktifis buruh; 1994
        * Penasehat Hukum masyarakat Nipah, Madura, dalam kasus permintaan pertanggungjawaban militer atas pembunuhan tiga petani Nipah Madura, Jawa Timur; 1993
        * Penasehat Hukum Sri Bintang Pamungkas (Ketua Umum PUDI) dalam kasus subversi dan perkara hukum Administrative Court (PTUN) untuk pemecatannya sebagai dosen, Jakarta; 1997
        * Penasehat Hukum Muchtar Pakpahan (Ketua Umum SBSI) dalam kasus subversi, Jakarta; 1997
        * Penasehat Hukum Dita Indah Sari, Coen Husen Pontoh, Sholeh (Ketua PPBI dan anggota PRD) dalam kasus subversi, Surabaya;1996
        * Penasehat Hukum mahasiswa dan petani di Pasuruan dalam kasus perburuhan PT. Chief Samsung; 1995
        * Penasehat Hukum bagi 22 pekerja PT. Maspion dalam kasus pemogokan di Sidoarjo, Jawa Timur; 1993
        * Penasehat Hukum DR. George Junus Aditjondro (Dosen Universitas Kristen Satyawacana, Salatiga) dalam kasus penghinaan terhadap pemerintah, Yogyakarta; 1994
        * Penasehat hukum Muhadi (seorang sopir yang dituduh telah menembak polisi ketika terjadi bentrokan antara polisi dengan anggota TNI AU) di Madura, Jawa Timur; 1994
        * Penasehat Hukum dalam kasus hilangnya 24 aktivis dan mahasiswa di Jakarta; 1997-1998
        * Penasehat Hukum dalam kasus pembunuhan besar-besaran terhadap masyarakat sipil di Tanjung Priok 1984; sejak 1998
        * Penasehat Hukum kasus penembakan mahasiswa di Semanggi, Tragedi Semanggi I dan II; 1998-1999
        * Anggota Komisi Penyelidikan Pelanggaran HAM di Timor Timur; 1999
        * Penggagas Komisi Perdamaian dan Rekonsiliasi di Maluku
        * Penasehat Hukum dan Koordinator Advokat HAM dalam kasus-kasus di Aceh dan Papua (bersama KontraS)
[sunting]Pranala luar
        * (Indonesia) Munir.or.id
        * (Indonesia) KontraS
        * (Indonesia) Munir di Tokoh Indonesia
        * (Inggris) "Man Convicted in Indonesian Activist Death", Forbes
        * (Inggris) http://www.rightlivelihood.org/recip/munir.htm
        * (Indonesia) catatan persidangan kasus pembunuhan Munir
        * (Indonesia) foto-foto peringatan kematian Munir
        * (Indonesia) Kliping Kasus Pembunuhan Munir, i-library.org
http://pembunuhanmunir.blogspot.com/
[sunting]Rujukan
        1. ^ http://hukum-kriminal.infogue.com/kronologi_muchdi_pr_jadi_tersangka_pembunuhan_munir
        2. ^ http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2009/01/01/brk,20090101-153381,id.html
        3. ^ http://nasional.vivanews.com/news/read/63937-3_hakim_kasus_muchdi_pr_diperiksa_ky

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Web Address http://groups.yahoo.com/group/kahmi_pro_network/

MAKLUMAT:

1. MILIS INI TIDAK MENERIMA SEGALA BENTUK ATTACHMENT.
2. AGAR MENULISKAN NAMA ASLI (PANGGILAN ATAU NAMA LENGKAP).
3. TIDAK MENGUMBAR PERMUSUHAN DAN/ATAU MENGGUNAKAN KATA-KATA KASAR.
   dan
4. TIDAK MENYERTAKAN POSTING SEBELUMNYA ATAU YANG DITANGGAPI SECARA
   KESELURUHAN, CUKUP EMAIL BAGIAN/PARAGRAF YANG INGIN DITANGGAPI.Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kahmi_pro_network/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kahmi_pro_network/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    kahmi_pro_network-digest@yahoogroups.com
    kahmi_pro_network-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    kahmi_pro_network-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/




--
Agam Fatchurrochman
GTalk, Skype: afatchur

Monday, August 27, 2012

Prof. Mustafa: BERHAJI DAN BERUMRAH BERULANG KALI PENGABDI SETAN

Sangat progresif pandangan Imam Besar Istiqlal ini.

Prof. Mustafa Ali Yaqub (Imam Mesjid Istiqlal):

 DAN BERUMRAH BERULANG KALI PENGABDI SETAN

http://www.merdeka.com/khas/berhaji-dan-berumrah-berulang-kali-pengabdi-setan-wawancara-ali-mustafa-y-2.html

Tidak hanya pindah ke pusat-pusat belanja, kalangan atas gandrung berumrah saat j
Ramadan hingga tembus Lebaran, meski ibadah itu sudah berkali-kali dilakoni. Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Ali Mustafa Yaqub, Nabi Muhammad tidak pernah mencontohkan hal itu. Dia menegaskan bolak balik berhaji dan berumrah adalah salah satu produk konsumerisme berbungkus ibadah.

Berikut penuturan Ali Mustafa Yaqub saat ditemui Islahuddin dari merdeka.com di rumahnya, belakang Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Kamis (16/8) siang.

Apa masjid kalah bersaing dengan mal di Jakarta?

Saya tidak mengenal kata bersaing. Yang jelas, mal berhasil menyedot jamaah banyak ke masjid menjadi banyak ke mal. Apalagi mal ada di depan masjid, sekalian. Ini bukan karena malnya. Ini karena faktor konsumtif. Perilaku itu membuat orang lebih banyak ke mal ketimbang ke masjid.

Bagi sosiolog, perubahan perilaku ini sangat menarik untuk diteliti. Lebih parah lagi, konsumerisme itu ada yang dibungkus dalam bentuk ibadah. Misal bentuknya umrah saat Ramadan. Pada 2009, ada 3,6 juta orang umrah ke Makkah. Sekarang mungkin sekitar empat juta orang. Dari jumlah itu, kalau per orang dikenai biaya dua ribu dolar, jumlah uangnya ada delapan miliar.

Jumlah itu terbuang hanya untuk hal-hal tidak wajib dan itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Kalau itu itu wajib mungkin wajar, demikian juga kalau pernah dicontohkan oleh Rasullah, itu tidak masalah. Rasulullah saja tidak pernah mencontohkan pergi umrah saat Ramadan. Saya juga tidak tahu bagaimana pergeseran yang mulanya infak itu hingga menjadi umrah saat Ramadan.

Sekarang banyak masjid membuat brosur Ramadan memasukkan umrah itu sebagai amal ibadah Ramadan. Padahal umrah itu tidak ada kaitannya dengan Ramadan. Di luar Ramadan boleh seperti itu. Tapi memasukkan umrah sebagai amaliyah Ramadan itu sudah punya tujuan lain. Mungkin saja pengurus masjid ingin menjaring jamaah agar dia bisa gratis ke sana. Ini bergesernya pelan-pelan, tidak terasa.

Seperti apa peran ulama dalam hal ini?

Ulama saja jadi korban konsumerisme karena ulamanya tidak mau mempelajari hadis, bagaimana perilaku Rasulullah pada Ramadan. Maka yang penting senang pergi ke Makkah. Bagaimana tidak senang, dia dan istrinya bisa gratis kalau dapat jamaah banyak. Bagaimana tidak senang seperti itu. Maka jamaahnya dirayu untuk pergi umrah saat Ramadan.

Bagaimana dengan teladan dari ulama?

Siapa diteladani kalau dia tidak pernah membaca hadis perilaku nabi. Tidak pernah baca hadis dan syirah. Itulah kendalanya dan akhirnya dia menjadi korban konsumerisme, bahkan ikut terlibat membikin konsumerisme.

Apakah ada pihak membahas hal ini setiap selesai Ramadan?

Setahu saya tidak pernah ada. Siapa mau mengevaluasi. Saya yakin tidak ada. Yang bicara seperti ini juga tidak ada selain saya. Saya punya keinginan kita kembali mengikuti perilaku nabi patut kita contoh. Bagaimana beribadah saat Ramadan, bukan mengumbar nafsu seperti itu. Selain itu agar infaknya lebih digalakkan saat Ramadan. Di bulan lain beliau dermawan, bahkan dilukiskan kedermawanan beliau saat Ramadan itu seperti angin kencang. Kalau sekarang tidak, umat muslim lebih senang umrah saat Ramadan.

Mungkin yang umrah saat Ramadan itu merasa tenang batinnya?

Bukan ketenangan batin, tapi kesenangan batin. Kalau ketenangan bisa dengan qiyamul lail di Masjid Istiqlal di malam-malam sepuluh hari terakhir Ramadan. Coba Anda baca Republika kemarin ada orang-orang mengikuti kegiatan itu dan mendapatkan ketenangan. Bukan malah ke Makkah. Itu tidak mendapatkan ketenangan, tapi kesenangan.

Makanya diperlukan sekarang adalah ulama-ulama bisa memberikan keteladanan. Dari mana sumber keteladanan itu, ya mengikuti perilaku Rasulullah. Kalau sekarang mengikuti perilaku nafsu dan itu ironis sekali di bulan Ramadan. Mestinya mengekang nafsu, malah mengumbar nafsu.

Saat saya berkunjung ke masjid Sunda Kelapa pada Ramadan, ada orang mendekati saya dan bilang, "Pak Ustad, saya baru pulang dari Makkah." Saya langsung balas, "Saya tidak tanya." Dikira ke Makkah saat Ramadan itu bagus. Kalau itu bagus, Rasulullah akan mencontohkan itu. Bila perlu setiap hari akan umrah, bila itu bagus. Yang dicontohkan Rasul justru berinfak sebanyak-banyaknya. Hingga kemudian infak itu dibelokkan ke perilaku konsumtif. Akhirnya yang menonjol konsumtifnya, bukan infaknya.

Menurunnya kedermawanan ini apa juga dipengaruhi oleh turunnya ekonomi ?

Kalau itu dijadikan parameter mungkin orang tidak akan berbondong-bondong umrah. Anda coba tanya ke Kedutaan Besar Arab Saudi yang umrah dari Indonesia saat Ramadan berapa orang? Kedutaan Arab Saudi mengeluarkan visa pasti sebelum Ramadan. Kalau di luar Ramadan saya pernah diberitahu rata-rata 7.500 orang. Itu dari jumlah stempel paspor umrah diberikan

Kalau faktor ekonomi masalahnya, tentu tidak banyak yang pergi umrah. Ini faktor konsumerisme dibungkus dengan ibadah.

Kenapa itu jarang terdengar?

Saya kadang banyak mengecam. Saya menulis buku Haji Pengabdi Setan, maksudnya untuk orang berhaji ulang. Itu niatnya ikut siapa, sementara kondisi negara masih terpuruk. Indonesia kalau mengikuti indikator PBB, masih ada 117 juta orang miskin. Nabi berkata, "Tidak beriman orang pada malam perutnya kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan." Berapa juta orang Indonesia masih kelaparan.

Saya tanyakan kepada ustad-ustad yang merekomendasikan haji ulang atau umrah itu. Tidak bisa menjawab, malah dia larut dalam arus konsumerisme itu. Melihat hal ini, perlu ada revolusi moral. Saya kadang merasa sendirian dalam memberitahukan hal ini. Saya sering mengatakan berhaji ulang itu rugi. Saya katakan itu dilawan banyak kalangan dan bilang, "Berhaji kok rugi."

Coba bandingkan biayanya itu untuk infak sebanyak-banyaknya. Padahal nanti itu jelas ganjarannya, surga bersama nabi. Kita menyantuni anak yatim, jaminannya surga bersama nabi dalam satu kompleks. Coba berhaji, itu kalau mabrur. Itu pun surganya kelas dek, kelas ekonomi.

Ini lebih kepada yang berhaji ulang. Menurut saya, itu bermasalah, sementara kewajibannya masih banyak. Kewajiban itu tidak hanya ibadah, kewajiban sosial juga banyak sekali. Tapi pura-pura buta saja.

Siapa yang diikuti untuk berhaji ulang. Mana ada ayat Alquran dan hadis menyuruh berhaji ulang, sementara kewajiban sosial lain masih banyak. Mau mengikuti Rasulullah, sebutkan hadis yang menyatakan itu, tidak ada, maka kamu hanya mengikuti bisikan dan keinginan nafsu. Meski begitu masih banyak alasannya, ada yang bilang masih belum puas. Saya katakan, sejuta kali kamu berhaji, tetap kamu belum puas. Setan masuknya dari situ kok. Ada yang bilang masih belum sempurna, terus dan terus naik haji. Makanya itulah yang disebut sebagai haji pengabdi setan.

Mulanya mendengar itu, banyak yang menentang, tapi setelah membaca dan memahami yang saya maksud, banyak juga yang mendukung. Opini itu pertama kali saya tulis di Majalah Gatra. Ada Kiai dari Jawa Timur dikasih orang untuk membaca itu dan berkomentar, "Ini apa-apaan, haji penyembah setan." Sama orang yang memberi opini itu disuruh baca buku saya tentang hal itu, dia bilang, "Pak Kiai, komentarnya nanti saja setelah baca buku ini." Setalah baca buku itu, dia langsung bilang, "Ini yang saya cari, ayo disalin seratus, bagi ke ulama-ulama Jawa Timur." 

Ini saya amati tidak hanya terjadi di Indonesia, juga di seluruh negara yang ada penduduk muslimnya. Di Amerika juga begitu. Pada 2007 saya di Amerika, acara televisi di sana penuh iklan umrah dan haji, bahkan ada koran khusus iklan dibagikan gratis. Koran itu isinya penuh iklan, terutama iklan haji dan umrah. Itulah yang yang diteliti Walter Armbrust, hal itu terjadi bukan hanya di negara-negara Islam, tapi di negara-negara yang ada orang Islamnya. Itu gencar sekali.

Mestinya masjid juga menjadi sumber kesejahteraan bagi orang miskin?

Mungkin itu ada, tapi jumlahnya sangat sedikit. Paling diberi makan sahur dan berbuka, itu sedikit. Tapi untuk menuntaskan kemiskinan mereka tidak ada program

Sunday, August 26, 2012

Saatnya Merenungkan Tanah Surga

Saatnya Merenungkan TANAH SURGA

Ini ulasan film Tanah Surga di Kompas Minggu hari ini. Film ini memang keren. Wajib ditonton. Sabgat Deddy Mizwar.

Seorang kakek hidup bersama cucunya di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat. Suguhan pemandangan indah ketika Hasyim dan cucunya, Salman dan Salina, berperahu di danau membuka film ini. Danau berlatar perbukitan indah itulah "halaman" rumah kayu mereka yang sederhana.

Cerita bergulir ketika anak Hasyim yang berdagang di Malaysia, Haris, pulang ke dusun dan mengajak keluarga hijrah ke Malaysia. Hasyim (Fuad Idris) yang berjuang membela Tanah Air saat konfrontasi dengan Malaysia menolak keinginan anaknya memboyong keluarga untuk mencari hidup di Malaysia.

"Di sana pendidikan anak-anak lebih baik, tempat tinggal untuk kita lebih layak, juga ada perawatan kesehatan yang lebih baik untuk ayah!" ujar Haris kepada ayahnya.

Apa yang dikatakan Haris tak salah. Di dusun itu, sekolah Salman dan Salina adalah rumah panggung kayu yang kalau salah melangkah, kaki kejeblos lubang menganga di lantainya. Hanya ada satu guru, Astuti (Astri Nurdin), yang mengajar dua kelas bersamaan dengan pembatas papan setengah dinding. Pun sekolah itu sempat diliburkan setahun karena tak ada guru sebelum Astuti datang.

Di desa itu baru tiba seorang dokter, Anwar (Ringgo Agus). Meski begitu, pasien yang membutuhkan perawatan lebih serius sangat susah dibawa ke rumah sakit terdekat. Selain medan yang berat, biaya membawa si pasien pun mahal.

Inspirasi dari kenyataan

Dusun yang lebih akrab dengan ringgit Malaysia daripada rupiah itu digambarkan berdasarkan kondisi nyata di perbatasan Indonesia-Malaysia. Terinspirasi kenyataan yang direkam film dokumenter pula dikisahkan tentang pedagang yang mengalasi gelaran dagangannya dengan bendera merah putih karena tak paham bendera itu berarti.

Sementara Haris kembali ke Malaysia membawa Salina (Tissa Biani), Hasyim yang sakit tetap tinggal di kampungnya. Ia ditemani Salman (Aji Santosa) yang tak mau meninggalkan kakeknya. Film ini dengan cerdas menggambarkan keceriaan sekaligus kegigihan anak-anak untuk bertahan di tengah n kondisi sosial ekonomi yang mengenaskan.

Demi membawa kakek Hasyim ke rumah sakit, Salman pun harus bekerja keras. Ia menjajakan kerajinan dari dusunnya hingga ke pasar di Malaysia. Kembali ke dusunnya ketika hari gelap, melintasi jalan berhutan dengan "jembatan" dari batang pohon. Tanda perbatasan kedua negeri ini tepat berada di persimpangan antara jalan aspal yang mulus dan jalan tanah yang penuh kubangan. Sampai sebatas jalan mulus itulah wilayah negeri tetangga.

Tanah Surga...Katanya memberi alternatif hiburan dan perenungan tentang keindonesiaan dalam kemasan yang bisa ditonton seluruh anggota keluarga. Pilihan lagu tema, "Kolam Susu" karya Yok Koeswojo yang dipopulerkan Koes Plus pun memberi kesan menohok:

"Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu... Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman...."

"Cerita dari Tapal Batas"

 Kisah tentang daerah perbatasan Indonesia-Malaysia juga diangkat dalam film Batas produksi Keana Production yang tayang tahun 2011. Selain Batas, Keana juga memproduksi versi film dokumenternya dengan judul Cerita dari Tapal Batas yang DVD-nya telah beredar di pasaran.

Cerita dari Tapal Batas garapan sutradara Wisnu Adi itu memotret realitas kehidupan di wilayah terdepan Indonesia yang justru amat terbelakang dan miskin. Jalan tidak ada, guru hanya seorang, bahkan kebutuhan pokok tidak tersedia. Perbatasan seperti wilayah entah-berantah lantaran negara tidak hadir, apalagi mengurus warganya.

"Kekosongan" akibat ketidakhadiran negara di wilayah perbatasan lantas diisi oleh negara tetangga. Barang-barang kebutuhan pokok, bahan bakar, uang, bahkan mimpi tentang kehidupan yang sejahtera sebagian besar dipasok oleh Malaysia. Tidak heran jika pada akhirnya mereka lebih mengenal Malaysia daripada Indonesia. Mereka lebih mengenal ringgit daripada rupiah. Mereka lebih mudah menghafal lagu pop Melayu dibandingkan "Indonesia Raya".

Fakta-fakta yang disajikan di dokumenter merupakan testimoni yang dituturkan langsung oleh rakyat yang hidup di perbatasan Indonesia-Malaysia. Fakta itu juga melengkapi laporan penelitian atau liputan jurnalistik yang sama-sama menunjukkan bahwa Indonesia terlampau jauh untuk dijangkau masyarakat perbatasan. Film ini juga ditutup dengan lagu "Kolam Susu". (DAY/BSW)

Saturday, August 25, 2012

Mencari Akar Masalah

Berita headline Kompas hari ini: menurut JK, banyaknya kecelakaan dan
800 lebih kematian selama masa mudik Lebaran adalah karena manajemen
mudik Lebaran yang amburadul. JK bilang kudunya koordinasi dipimpin
oleh Wapres, supaya koordinasi berjalan lintas instansi dan daerah
dengan baik. Jadi berbagai kecelakaan itu adalah gambaran dari
manajemen yang buruk.

Saya setuju sekali.

Berita lain, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia, Danang
Parikesit, mengatakan bahwa berbagai kecelakaan selama mudik ini
berlangsung selama bertahun-tahun. Tidak pernah ada upaya mencari akar
masalah.

Sekarang, dari pengalaman saya pribadi sebagai konsultan di sebuah
lembaga audit pemerintah. Tipikal laporan audit mereka secara
sederhana adalah:

Temuan:
1. Diketemukan kekurangan pemasangan con block sebanyak 100 buah.
2. Diketemukan mur baut yang copot, paling tidak 200 buah, dari
struktur jembatan baja yang sedang dikerjakan.

Rekomendasi:
1. Kontraktor supaya memasang kekurangan con block sebanyak 100 buah.
2. Kontraktor supaya memasang mur baut yang copot.

Anda menemukan benang merah dari ketiga cerita di atas?

Ya, benang merahnya adalah: akar masalah yang diabaikan.

Dalam kasus laporan audit tsb, laporan yang ideal sebenarnya adalah:
1. Diketemukan kekurangan pemasangan con block sebanyak 100 buah.
2. Diketemukan mur baut yang copot, paling tidak 200 buah, dari
struktur jembatan baja yang sedang dikerjakan.
3. Diketemukan bahwa mandor dari kontraktor tidak melakukan pengawasan
secara menyeluruh. Mandor merangkap tugas sebagai tukang, sehingga
quality assurance terabaikan.
4. Diketemukan bahwa kontraktor pengawas tidak melakukan uji sampling
pengawasan sesuai dengan profil risiko. Pengawas hanya datang selama
beberapa jam meninjau proyek dan tidak melakukan uji teknis,
mengandalkan laporan dari mandor tanpa uji pembanding.

Rekomendasi:
1. PPK supaya meminta perbaikan SOP dan job description kontraktor
pelaksana, termasuk peran mandor harus khusus menangani quality
assurance. Hasil perbaikan SOP dan job description ini harus
dikirimkan ke auditor dalam waktu 1 bulan sejak laporan audit
diterima.
2. PPK supaya memutus kontrak kontraktor pengawas, dan melakukan
pengawasan sendiri.
3. dsb yang terkait dengan manajemen dan internal control system.

Itulah beda antara aparat pemerintah yang melihat bahwa 800 orang
kecelakaan itu sebagai incidents yang merupakan isolated events,
dengan JK yang melihat bahwa berbagai insiden tersebut saling
berhubungan satu sama lain, merupakan kegagalan sistemik karena
kegagalan manajemen.

Pemerintah (Menhub, Polri, GUbernur, dsb) melihat masalahnya sama
dengan yang dilihat JK: mudik dengan motor berbahaya, kereta api belum
bisa jadi andalan, bis terlalu mahal, jalan sempit, dsb. Bedanya
Pemerintah tidak mencari akar masalahnya lagi, sementara JK melihat
bahwa akar masalahnya adalah soal manajemen, kegagalan pemerintah pada
level tertinggi: presiden dan wakil presiden, yang tak memimpin
langsung manajemen mudik nasional ini.

Tahun lalu saya membaca buku Problem Solving 101 dari Ken Watanabe,
buku kecil yg mengajarkan anak-anak sekolah di Jepang belajar probelm
solving memakai problem tree dan tools sederhana lainnya. Buku ini
laris manis di Jepang, sampai ke kalangan bisnis. Intinya cuma membuat
tujuan, problem tree, membuat hipotesa, tes hipotesa dg interview dsb,
hitung pro cons, dan ambil keputusan-eksekusi. Tidak dengan tools yg
rumit, tapi sederhana.

Buku ini perlu dibaca oleh birokrat negeri ini, termasuk Presiden,
daripada hanya mengeluh dan prihatin.

Ini penjelasan bukunya:

Problem Solving 101 started out as a simple guide to teach Japanese
schoolchildren critical thinking skills. But it quickly became an
adult bestseller, thanks to the powerful effectiveness of Ken
Watanabe's problem solving methods. The tools in this book come from
the author's experience as an elite McKinsey consultant. But you don't
need an MBA or complicated computer software to use them. You'll learn
how to broaden and organize your thinking about a problem, so that
more possible solutions become clear.

Di toko buku di Jakarta, harga sekitar 130 ribu rupiah. Monggo dibeli
karena ini bagus sekali.

Dua film lebaran keren

Musim Lebaran kali ini ada dua film Indonesia yang layak ditonton keluarga. Film pertama, "Brandal-Brandal Ciliwung" berisikan kehidupan di sekitar kali Ciliwung, dengan segala permasalahan khas kota besar, seperti persinggungan antar etnis, kali yang kotor, lingkungan yang kumuh, bullying antar anak-anak, dsb.

Film kedua, "Tanah Surga", mengenai kehidupan mantan sukarelawan Ganyang Malaysia yang berkeras tinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia, dengan segala keterbatasan. Sementara anaknya sendiri memilih jadi warga negara Malaysia, bahkan mendukung Malaysia dalam AFF Cup. Meski temanya serius, dikemas Deddy Mizwar dengan menarik, lucu, bikin penonton tertawa ngenes. Misalnya kejadian perbatasan Malaysia - Indonesia. Sisi Malaysia dengan aspal mulus, yang berhenti tepat di papan penanda perbatasan. Sisi Indonesia hanya jalan tanah perkerasan.

Monggo dipersilakan nonton weekend ini.
Agam Fatchurrochman

Tuesday, August 21, 2012

Mengapa Idul Fitri di Jakarta Tidak Berkesan

Mengapa?

- Dulu waktu saya kecil di Semarang, saya tinggal di kompleks perumahan dengan strata ekonomi yang setara.

- Tetangga saling mengenal. Rumah saling menempel, dengan pagar rendah. Pintu setiap saat terbuka bagi tetangga yang mau berkunjung.
- Gotong royong berjalan dengan baik.

- Tiap RW punya masjid sendiri-sendiri, dan tiap Idul Fitri/Adha, tiap masjid dengan remaja masjidnya saling berkompetisi takbiran, dengan lomba pawai.

- Remaja masjid juga belum dicemari oleh politik.

- Ada trust diantara sesama warga, maupun warga dengan tatanan RT/RW (hidup Orba!).

Sekarang saya di Jakarta, tidak merasakan kegembiraan itu:

- Saya tinggal bukan di kompleks, tetapi lahan kavling yang sebagian ditempati, meminjam istilah dualisme ekonomi masyarakat kolonial Hindia Belanda Boeke tahun 1920-an, masyarakat ekonomi modern dan subsisten. Modern biasanya pekerjaannya di sektor modern, seperti pegawai swasta, wiraswasta besar, atau negeri. Sementara ekonomi subsisten biasanya masyarakat asli (Betawi atau pendatang) yang pekerjaannya kurang tetap, musiman, atau ekonomi lemah). Ada kesenjangan di sini, dengan strata ekonomi yang berbeda. Kalau diukur dengan indeks Gini, barangkali kesenjangannya melebihi rata-rata nasional. Yang lebih parah, masyarakat yang subsisten biasanya kemudian ikut organisasi kepemudaan atau kedaerahan, sehingga tetangga yang ekonomi modern jadi tambah curiga.

- Tetangga kurang saling mengenal. Rumah mungkin menempel, tetapi dibatasi dengan pagar tinggi. Banyak juga rumah yang berbatasan dengan kavling yang belum dibangun atau tanah kosong dengan alang-alang / rumput tinggi. Pencurian bukan hal yang tak biasa. Karena itu pagar tinggi selalu dikunci. Meski jika tetangga mau berkunjung, pintu setiap saat bisa dibuka dengan bel ting tong ting tong.

- Gotong royong? Oh, bayar saja tetangga yang menganggur di dekat rumah buat membersihkan lingkungan.

- Tiap RW punya masjid sendiri-sendiri, tapi pengurus masjid biasanya orang tua, yang disconnected dengan anak muda yang tercerabut dari kampungnya. Biasanya ada pengurus masjid yang tinggal / merbot, yang dibayar dari kas masjid. Kegiatan remaja masjid hampir tidak ada, sehingga takbiran hanya di masjid, bukan pawai keliling kampung yang melibatkan seluruh komponen masyarakat. Pengurus RT / RW sibuk.

- di tempat saya kebetulan remaja masjid kurang aktif. Tapi di tempat lain saya dengar ada masjid yang remajanya ikut pengajian partai yang mendukung Foke (dulunya sih anti Foke. Mahar bicara) dan konflik dengan jamaah yang lebih tuan yang tidak mau beragama yang politis demi kesejahteraan pengurus.

- Trust? Oh itu nama majalah ekonomi punya Harry Tanoe ya? Oh bukan? Apa dong? O... Maksudnya saling percaya, ada rasa keterikatan antara warga ya? Barangkali ada tuh di kampung.

Sudah sejak tahun 2000 saya pindah ke Jakarta (dan Tangerang Selatan), 12 tahun, dimana Idul Fitri tidak berkesan.

Saya memimpikan Jakarta Baru. Hidup Jokowi (lho...).

Foto ora nyambung yo ora opo opo.
Agam Fatchurrochman

Sunday, August 19, 2012

Semangat yang fitri buat Jakarta Baru

Hari ini hari Idul Fitri. Kita mengharapkan kehidupan kita kembali ke yang fitrah setelah disucikan selama 30 hari (saya sih nggak percaya ginian, apalagi omongan: setan dirantai selama Ramadhan. Wong itu setan pada nyebar isu SARA dan tanya siapa yang nyolok calon lain supaya pindah kota).

Anyway, kita perlu mensucikan kota ini setelah berperiode-periode dikotori oleh birokrat-birokrat kotor di Pemerintah DKI Jakarta. Dan buku inilah harapan untuk mensucikan menjadi Jakarta Baru.

Selamat Idul Fitri.
Salam Semangat Jakarta Baru.

Agamfat.wordpress.com
Agamfat.blogspot.com
Agam Fatchurrochman

Saturday, August 18, 2012

Idul Fitri 1 Tahun Lalu

Idul Fitri satu tahun lalu yang berbeda antara Muhammadiyah dan Pemerintah, saya mengikuti Muhammadiyah. Saya bangga untuk berbeda dengan keputusan Pemerintah karena dua hal:

1. Alasan kemajuan agama: konyol sekali masih ribut melihat bulan, sementara ilmu menghitung posisi bulan sudah bisa menentukan bulan baru sejak 50 tahun lalu. Amerika dan Sovyet sudah mengirim orang ke bulan, di sini orang masih ribut soal datang bulan. Hizbut Tahrir tidak usahlah ribut soal khalifah, bikin saja proyek penyatuan kalender Hijriah. Selain proses sidang itsbat waktu itu yang konyol. Kalau menurut hitungan mereka bulan baru belum 2 derajat, tidak akan terlihat, ya buat apa mengerahkan orang melihat seluruh Indonesia? Buang-buang duit rakyat saja. Intinya kan sama-sama pakai ilmu hisab, cuma yang satu bulan baru itu ya bulan baru. Satu lagi bulan baru itu kudu terlihat 2 derajat.

2. Alasan ulil amri: orang bilang, ikut saja keputusan ulil amri-pemerintah. Saya bilang, bagaimana bisa percaya dengan ulil amri, kalau Kementerian Agama itu termasuk terkorup menurut KPK, pencetakan Quran pun dikorup. Sementara MUI dipenuhi orang-orang yang mendukung Foke (sekarang) atau konteks waktu itu dan sekarang: maju tak gentar membela yang bayar.

Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin.

Nb.
Rumah baru cross posting:
Agamfat.wordpress.com
Agamfat.blogspot.com
Sori belum buka kompoter, belum bisa follow back kepada beberapa rekan yang sudah follow tadi.
Monggo saling follow memfollow.
Agam Fatchurrochman

Pindah rumah

Sebulan terakhir kesibukan membuat saya tidak bisa aktif ngeblog dan jalan-jalan ke MP teman-teman.

Kemarin seharian mencoba membuka-buka Blogspot dan Wordpress. Rupanya saya punya Blogspot sejak 2005 yang tidak pernah diisi, passwordnya sudah lupa lagi.

Akhirnya membuka lapak baru di Wordpress (agamfat.wordpress.com) dan Blogspot (agamfat.blogspot.com).

Wordpress menawarkan tampilan yang keren ketika dibuka dengan iPad. Sudah saya cek dengna iPada Tia istri saya: kereeennn. Seperti tampilan majalah ala Pulse dengan mozaik kotak-kotak ala Jokowi. Sayang di Galaxy Tab saya tampilannya tetap ala desktop atau mobile.

Blogspot kustomisasinya lebih rumit, padahal Wordpress saja sudah rumit. Betapa Mp itu sederhana ya.

Tadinya saya pikir Blogspot dibawah Google tentu lebih keren, sederhana, dengan integrasi bagus ke aplikasi Google lainnya: youtube, Picasa, Google Translate, dsb. Sayangnya kustomisasinya malah lebih rumit.

Kemarin downlod juga blog saya (agamfat.multiply.com) dan Tia (agamtia.multiply.com). Lumayan juga punya saya gedenya 260-an mb, sementara punya Tia 180-an mb.

Semoga rumah baru ke depan bisa bikin nyaman, betah, dan dengan tetangga yang ok juga.

Nb:
Coba crossposting Mp, Wp, Bs.
Agam Fatchurrochman

Friday, August 17, 2012

Jumat terakhir Ramadhan

Lazy Friday.

Hari ini disibukkan dengan mengurus perpindahan blog dari Multiply ke Blogspot dan Wordpress. Mencoba membandingkan dua blog engine ini. Secara umum saya lebih percaya pada produk Google. Blogspot mestinya unggul dalam berbagai hal: foto (Picassa), Video (Youtube), space, dsb. Tapi rupanya lebih mudah memindahkan ke Wordpress dibandingkan Blogspot.

Rencananya nanti dua blog ini akan dipelihara dengan cross posting. Mestinya posting via email dengan dialamatkan dua email wp dan bs ini mudah.

Let see. Wp sudah berhasil impor dua file wml Notes dan Review. Bs belum satu pun.
Agam Fatchurrochman