Sunday, October 28, 2012

Beratnya menata Jakarta

Enam ratus miliar anggaran pembangunan kantor dinas-dinas di Jakarta untuk 2013. What?????

Itulah kekagetan saya ketika mendengar Danang dari ICW bercerita hasil pertemuan ICW dengan Basuki Ahok, Wagub Jakarta.

Alhamdulillah, Allahu Akbar, Foke kalah, dan rakyat Jakarta punya kendali atas APBD DKI Jakarta senilai 40 triliun tahun 2013, melalui duet Jokowi-Basuki.

Untuk apa 600 miliar itu? Untuk pembangunan gedung-gedung dinas, kelurahan, kecamatan, dan kotamadya di Jakarta. Padahal gedung yang sudah ada bahkan masih berdiri kokoh.

Padahal berapa anggaran satu kampung deret sesuai visi Jokowi-Basuki? Hanya 20 miliar saja. Enam ratus miliar tahun 2013 bisa membangun 300 kampung deret, belum termasuk fasilitas, pembebasan tanah. Bisa dibayangkan permasalah kampung kumuh, permukiman bantaran sungai, yang membelit Jakarta selama puluhan tahun, dalam sekejap ada harapan untuk penyelesaian.

Transjakarta tahun ini hanya dianggarkan 300 miliar. Hasilnya, infrastruktur memburuk. Headway semakin lama. Antrian di halte panjang sekali. Tahun 2013, Jokowi-Basuki menaikkan 4 kali lipat, jadi 1,2 triliun. Ada harapan masalah-masalah itu terselesaikan.

Foke berencana mengeluarkan obligasi 1 triliun lebih akhir tahun ini. Alhamdulillah, Foke kalah. Untuk apa duit utang tersebut, sementara duit APBD banyak sekali? Untuk pembangunan terminal bis Pulo Gebang 700 miliar. What???? Transjakarta ditelantarkan, tapi mau membangun terminal super duper mahal, yang belum tentu dipakai?

Anggaran pembangunan MRT 15 trilun, untuk 22 km. Mahal? Ya mahal, karena perencanannya serampangan, apalagi Jepang terkenal murah hati dalam menggelontorkan suap dan pelicin. Serampangan bagaimana? Karena pembangunannya bakal menggusur stadion sepakbola Lebakbulus. Bayangkan, di tengah kelangkaan ruang terbuka hijau, sarana olahraga, stadion yang ada malah akan digusur, untuk depo kereta. Sebaliknya, ide Ahok sungguh cemerlang. Pembangunan MRT tidak dimulai dari Lebakbulus, tapi justru dari Kampung Bandan di daerah Kota. Ini daerah kumuh, dengan banyak tanah negara yang terlantar, sehingga didiami pemukim liar. Visi Ahok adalah bikin depo di sini karena tanah masih luas. Sekaligus peremajaan kampung kumuh menjadi Rusunawa buat masyarakat. Stadion Lebakbulus masih berfungsi sebagai stadion + terminal MRT dan bis yang lebih tertata.

Birokrasi Jakarta jaman Foke memang tak peduli rakyat. Mereka mengelola APBD untuk mereka sendiri.

Sepertinya perhatian rakyat seluruh Indonesia terhadap Jokowi-Basuki memang memperlihatkan kerinduan rakyat akan pemimpin yang melayani.
Agam F

No comments: