Saatnya Merenungkan TANAH SURGA
Ini ulasan film Tanah Surga di Kompas Minggu hari ini. Film ini memang keren. Wajib ditonton. Sabgat Deddy Mizwar.
Seorang kakek hidup bersama cucunya di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat. Suguhan pemandangan indah ketika Hasyim dan cucunya, Salman dan Salina, berperahu di danau membuka film ini. Danau berlatar perbukitan indah itulah "halaman" rumah kayu mereka yang sederhana.
Cerita bergulir ketika anak Hasyim yang berdagang di Malaysia, Haris, pulang ke dusun dan mengajak keluarga hijrah ke Malaysia. Hasyim (Fuad Idris) yang berjuang membela Tanah Air saat konfrontasi dengan Malaysia menolak keinginan anaknya memboyong keluarga untuk mencari hidup di Malaysia.
"Di sana pendidikan anak-anak lebih baik, tempat tinggal untuk kita lebih layak, juga ada perawatan kesehatan yang lebih baik untuk ayah!" ujar Haris kepada ayahnya.
Apa yang dikatakan Haris tak salah. Di dusun itu, sekolah Salman dan Salina adalah rumah panggung kayu yang kalau salah melangkah, kaki kejeblos lubang menganga di lantainya. Hanya ada satu guru, Astuti (Astri Nurdin), yang mengajar dua kelas bersamaan dengan pembatas papan setengah dinding. Pun sekolah itu sempat diliburkan setahun karena tak ada guru sebelum Astuti datang.
Di desa itu baru tiba seorang dokter, Anwar (Ringgo Agus). Meski begitu, pasien yang membutuhkan perawatan lebih serius sangat susah dibawa ke rumah sakit terdekat. Selain medan yang berat, biaya membawa si pasien pun mahal.
Inspirasi dari kenyataan
Dusun yang lebih akrab dengan ringgit Malaysia daripada rupiah itu digambarkan berdasarkan kondisi nyata di perbatasan Indonesia-Malaysia. Terinspirasi kenyataan yang direkam film dokumenter pula dikisahkan tentang pedagang yang mengalasi gelaran dagangannya dengan bendera merah putih karena tak paham bendera itu berarti.
Sementara Haris kembali ke Malaysia membawa Salina (Tissa Biani), Hasyim yang sakit tetap tinggal di kampungnya. Ia ditemani Salman (Aji Santosa) yang tak mau meninggalkan kakeknya. Film ini dengan cerdas menggambarkan keceriaan sekaligus kegigihan anak-anak untuk bertahan di tengah n kondisi sosial ekonomi yang mengenaskan.
Demi membawa kakek Hasyim ke rumah sakit, Salman pun harus bekerja keras. Ia menjajakan kerajinan dari dusunnya hingga ke pasar di Malaysia. Kembali ke dusunnya ketika hari gelap, melintasi jalan berhutan dengan "jembatan" dari batang pohon. Tanda perbatasan kedua negeri ini tepat berada di persimpangan antara jalan aspal yang mulus dan jalan tanah yang penuh kubangan. Sampai sebatas jalan mulus itulah wilayah negeri tetangga.
Tanah Surga...Katanya memberi alternatif hiburan dan perenungan tentang keindonesiaan dalam kemasan yang bisa ditonton seluruh anggota keluarga. Pilihan lagu tema, "Kolam Susu" karya Yok Koeswojo yang dipopulerkan Koes Plus pun memberi kesan menohok:
"Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu... Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman...."
"Cerita dari Tapal Batas"
Kisah tentang daerah perbatasan Indonesia-Malaysia juga diangkat dalam film Batas produksi Keana Production yang tayang tahun 2011. Selain Batas, Keana juga memproduksi versi film dokumenternya dengan judul Cerita dari Tapal Batas yang DVD-nya telah beredar di pasaran.
Cerita dari Tapal Batas garapan sutradara Wisnu Adi itu memotret realitas kehidupan di wilayah terdepan Indonesia yang justru amat terbelakang dan miskin. Jalan tidak ada, guru hanya seorang, bahkan kebutuhan pokok tidak tersedia. Perbatasan seperti wilayah entah-berantah lantaran negara tidak hadir, apalagi mengurus warganya.
"Kekosongan" akibat ketidakhadiran negara di wilayah perbatasan lantas diisi oleh negara tetangga. Barang-barang kebutuhan pokok, bahan bakar, uang, bahkan mimpi tentang kehidupan yang sejahtera sebagian besar dipasok oleh Malaysia. Tidak heran jika pada akhirnya mereka lebih mengenal Malaysia daripada Indonesia. Mereka lebih mengenal ringgit daripada rupiah. Mereka lebih mudah menghafal lagu pop Melayu dibandingkan "Indonesia Raya".
Fakta-fakta yang disajikan di dokumenter merupakan testimoni yang dituturkan langsung oleh rakyat yang hidup di perbatasan Indonesia-Malaysia. Fakta itu juga melengkapi laporan penelitian atau liputan jurnalistik yang sama-sama menunjukkan bahwa Indonesia terlampau jauh untuk dijangkau masyarakat perbatasan. Film ini juga ditutup dengan lagu "Kolam Susu". (DAY/BSW)
No comments:
Post a Comment