Saturday, September 15, 2012

Porto Alegre di Indonesia itu Solo

Tiba-tiba saya teringat ngobrol santai saya dengan Teten Masduki tahun 2008 di perempatan BPKP Aceh sambil makan duren, katanya Porto Alegre di Indonesia itu di Solo.

Ketika itu saya memang bekerja di Aceh, konsultan public financial management, dan seperti biasa ngomong soal participatory development and budgeting sebagai bagian keseharian. Teten datang untuk berkunjung ke Aceh Besar. Kami ngobrol kesana kemari (ceritanya ada di MP lama saya). Tiba-tiba dia bilang kalau sebenarnya sudah ada kota di Indonesia yang menerapkan participatory development, yaitu Solo.

Porto Alegre adalah kota besar di Brazil yang secara konsisten menerapkan participatory development and budgeting secara substansial, bukan sekedar ala Musrenbang. Singkat cerita, Porto Alegre dipilih tiga kali jadi tuan rumah World Social Forum, forum multipihak yang percaya bahwa there is another alternative to Neoliberal Economy, karena banyak yang kagum dengan perencanaan kota yang memihak warga, bukan sekedar menyenangkan perusahaan besar. Silakan googling untuk melihat bagaimana sebuah kota yang memberdayakan warganya.

Pengetahuan saya mengenai Solo waktu itu boleh dibilang kurang. Yang saya tahu soal Solo, sebagai orang Semarang yang lulusan Yogya, adalah Solo itu kota rusuh, tak tertata, banyak preman merah dan hijau. Keraton Solo (pihak Pakubuwono dan Mangkunegoro) tidak mendapat penghormatan dari rakyat (Mangkunegoro saya dengar lebih dihormati), karena dulu penggedenya lebih memihak Belanda, berbeda dengan keraton Yogya. Solo kalah pamor dari Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah. Sisi budaya dan pendidikan, serta pariwisata kalah dari Yogya, sesama pewaris kerajaan Mataram. Saya melihat orang Solo kurang bangga dengan kotanya. Pendek kata, anak muda Solo yang ingin sekolah bagus, seperti Jokowi muda, ya kudu ke Yogya. Solo tertolong sedikit karena ibu Tien masih kerabat Mangkunegoro.

Maka bagi saya Porto Alegre Indonesia itu Solo, adalah kemustahilan. Tapi Teten cerita kalau walikota Solo, Joko Widodo (waktu itu nama Jokowi belum ngetop), adalah pemimpin visioner, dekat dengan rakyat, memberdayakan rakyat, melaksanakan pembangunan yang partisipatif, antikorupsi, dan tidak punya potongan pejabat -baik perilaku maupun tampang-, sesuatu yang sudah melembaga di Porto Alegre.

Teten hanya singkat menyinggung soal Solo dan Porto Alegre. Kami meneruskan makan duren dan ngobrol sana sini.

Tahun 2009 saya diminta Teten ikut membantu Bung Hatta Anti Corruption Award (BHACA), yang didirikan oleh para tokoh berintegritas, seperti Bambang Widjojanto-sekarang KPK, TP Rachmad-mantan Astra, Adaro, Ken Sudarto-Matari, Shanti Pusposutjipto-Samudera Indonesia, Nono Makarim, Bety Alisyahbana-mantan CEO IBM (Ketua BHACA), dsb. Waktu itu Direkturnya masih belajar. Kemudian saya ikut membantu ketika BHACA membuka nominasi BHACA Award tahun 2010. Saya terlibat mencari nominator, dan setelah putaran terakhir, ikut mencari info soal integritas Herry Zudianto, Walikota Yogya saat itu. Saya tahu dua finalis, Herry dan Joko Widodo, Walikota Solo. Tapi karena saya buta soal Solo, saya hanya membantu soal Herry.

Singkat kata, Herry dan Jokowi mendapat penghargaan. Saya ikut hadir dalam malam penganugerahan. Tapi karena saya lebih punya kedekatan emosional dengan Yogya, saya hanya ngobrol sedikit dengan Herry. Saya bahkan tak mendekati Jokowi saat itu. Di mata saya, Herry bahkan lebih gentle, karena Herry tak mau menerima penghargaan itu secara pribadi, tapi sebagai wakil Pemerintah Kota Yogyakarta. Sehingga ketika penerima maju, Jokowi maju sendirian, Herry Zudianto maju bersama sekitar 10 staf Pemerintah Kota Yogyakarta.

Dan ketika debat calon gubernur Jakarta kemarin berlangsung di Jaktv, saya teringat kembali omongan sekilas Teten bahwa Solo itulah Porto Alegre Indonesia. Solo saat itu, 2008 atau 3 tahun Jokowi menduduki jabatan Walikota, sudah menarik perhatian banyak pihak atas pembangunan kota yang memanusiakan warganya, meski saya sungguh buta saat itu. Solo tahun 2012 adalah Solo yang percaya diri, karena warga kotanya menjadi aktor dalam pembangunan kotanya, sesuatu yang jarang di Indonesia. Warga Solo 2012 adalah warga yang ingin mewakafkan walikotanya untuk menarik Jakarta dari jurang keterpurukan. Belum pernah saya melihat warga biasa suatu kota sungguh mencintai pimpinannya, dan bahkan mendorong warga kota lain untuk menikmati gaya manajemen Jokowi yang mendorong partisipasi warga buat bersama-sama bergerak bersama membangun kota.

Tanggal 20 September 2012, apakah Jakarta akan menjadi Porto Alegre Indonesia ketiga (yang kedua Yogya)?
Agam Fatchurrochman

No comments: