- Dulu waktu saya kecil di Semarang, saya tinggal di kompleks perumahan dengan strata ekonomi yang setara.
- Tetangga saling mengenal. Rumah saling menempel, dengan pagar rendah. Pintu setiap saat terbuka bagi tetangga yang mau berkunjung.
- Gotong royong berjalan dengan baik.
- Tiap RW punya masjid sendiri-sendiri, dan tiap Idul Fitri/Adha, tiap masjid dengan remaja masjidnya saling berkompetisi takbiran, dengan lomba pawai.
- Remaja masjid juga belum dicemari oleh politik.
- Ada trust diantara sesama warga, maupun warga dengan tatanan RT/RW (hidup Orba!).
Sekarang saya di Jakarta, tidak merasakan kegembiraan itu:
- Saya tinggal bukan di kompleks, tetapi lahan kavling yang sebagian ditempati, meminjam istilah dualisme ekonomi masyarakat kolonial Hindia Belanda Boeke tahun 1920-an, masyarakat ekonomi modern dan subsisten. Modern biasanya pekerjaannya di sektor modern, seperti pegawai swasta, wiraswasta besar, atau negeri. Sementara ekonomi subsisten biasanya masyarakat asli (Betawi atau pendatang) yang pekerjaannya kurang tetap, musiman, atau ekonomi lemah). Ada kesenjangan di sini, dengan strata ekonomi yang berbeda. Kalau diukur dengan indeks Gini, barangkali kesenjangannya melebihi rata-rata nasional. Yang lebih parah, masyarakat yang subsisten biasanya kemudian ikut organisasi kepemudaan atau kedaerahan, sehingga tetangga yang ekonomi modern jadi tambah curiga.
- Tetangga kurang saling mengenal. Rumah mungkin menempel, tetapi dibatasi dengan pagar tinggi. Banyak juga rumah yang berbatasan dengan kavling yang belum dibangun atau tanah kosong dengan alang-alang / rumput tinggi. Pencurian bukan hal yang tak biasa. Karena itu pagar tinggi selalu dikunci. Meski jika tetangga mau berkunjung, pintu setiap saat bisa dibuka dengan bel ting tong ting tong.
- Gotong royong? Oh, bayar saja tetangga yang menganggur di dekat rumah buat membersihkan lingkungan.
- Tiap RW punya masjid sendiri-sendiri, tapi pengurus masjid biasanya orang tua, yang disconnected dengan anak muda yang tercerabut dari kampungnya. Biasanya ada pengurus masjid yang tinggal / merbot, yang dibayar dari kas masjid. Kegiatan remaja masjid hampir tidak ada, sehingga takbiran hanya di masjid, bukan pawai keliling kampung yang melibatkan seluruh komponen masyarakat. Pengurus RT / RW sibuk.
- di tempat saya kebetulan remaja masjid kurang aktif. Tapi di tempat lain saya dengar ada masjid yang remajanya ikut pengajian partai yang mendukung Foke (dulunya sih anti Foke. Mahar bicara) dan konflik dengan jamaah yang lebih tuan yang tidak mau beragama yang politis demi kesejahteraan pengurus.
- Trust? Oh itu nama majalah ekonomi punya Harry Tanoe ya? Oh bukan? Apa dong? O... Maksudnya saling percaya, ada rasa keterikatan antara warga ya? Barangkali ada tuh di kampung.
Sudah sejak tahun 2000 saya pindah ke Jakarta (dan Tangerang Selatan), 12 tahun, dimana Idul Fitri tidak berkesan.
Saya memimpikan Jakarta Baru. Hidup Jokowi (lho...).
Foto ora nyambung yo ora opo opo.
Agam Fatchurrochman
No comments:
Post a Comment