Minggu lalu saya menonton dua film dokumenter mengenai Munir "Kiri
Hijau dan Kanan Merah, serta "Garuda's Deadly Upgrade", via Youtube.
Ada dua fakta yang secara spekulatif diangkat oleh pembuat film
"Upgrade" mengenai kematian dua penegak hukum dengan integritas yang
dikenal luas, dan kaitannya dengan Garuda (serta operasi intelijen):
kematian mendadak Jaksa Agung Baharuddin Lopa tahun 2001 di Saudi
Arabia (setelah naik Garuda), dan orang kepercayaan Lopa, Muhammad
Yamid, Kepala Badan Diklat Kejaksaan Agung, pemenang Bung Hatta
Anticorruption Award 2003, tahun 2004 di Bali (setelah naik Garuda).
Saya tidak hendak menulis soal Garuda, yang memang sepertinya
dimanfaatkan kekuatan besar negeri ini, tapi sedikit persentuhan saya
dengan tiga orang ini.
Saya tak kenal pribadi mereka. Perjumpaan saya dengan Munir adalah di
kantor YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia), baik di jalan
Diponegoro atau di rumah yang disewa YLBHI 20 m dari YLBHI, jalan
Mendut.
Saya mulai bekerja di ICW minggu pertama Januari 2000. Saya bekerja
sebagai peneliti di ICW, meneliti pola korupsi di Ditjen Pajak (sampai
tahun 2005 saya masih suka menulis soal Pajak). Kantor ICW yang
dipimpin Teten Masduki, saat itu berbagi rumah jalan Mendut dengan dua
organisasi lainnya, Kontras (Koordinatornya Munir) dan Lerai (Lembaga
Rekonsiliasi Konflik Indonesia, ini lembaga untuk resolusi konflik
yang dipimpin Tamrin Amal Tomagola). Masing-masing menempati satu
ruang agak besar.
YLBHI saat itu masih dikenal sebagai lokomotif demokrasi Indonesia,
berada di garda terdepan demokrasi, good governance, dan hak asasi
manusia. Ketua YLBHI saat itu adalah Bambang Widjojanto, yang berumur
sekitar 36 tahun saat itu. Wakil Ketua (Program) adalah Munir, serta
Wakil Ketua (Administrasi) Dadang Trisasongko. Teten menjadi
Koordinator Divisi Perburuhan. Aktivis Kontras, Lerai, dan ICW, saat
itu didominiasi orang Jakarta, mahasiswa atau alumni muda. Saya merasa
terasing di minggu-minggu awal disana, tak kenal banyak orang, semua
orang omong "lu gue", sementara saya medok bahasa Jawa. Satu dua kali
saya bisa ngomong Jawa dengan Munir dan Dadang Trisasongko, dua orang
mantan LBH Surabaya".
Singkat cerita, saya mulai bekerja, dan meniti karir di ICW. Tiga
bulan bekerja, saya dipromosikan menjadi Kepala Divisi Investigasi,
mungkin karena latar belakang akuntansi saya.
(bersambung... kalau sempat)
Agam Fatchurrochman
--
Agam Fatchurrochman
GTalk, Skype: afatchur
--
Agam Fatchurrochman
GTalk, Skype: afatchur

No comments:
Post a Comment