Wednesday, September 12, 2012
selamat kepada Wibs, lomba menulis Nganufacturing Hope
------------------------------------------------------------------------------------
Pengumuman Pemenang
Lomba Menulis Nganufacturing Hope
Lomba Menulis Nganufacturing Hope KRL Jabodetabek yang diadakan oleh
KRLMania ternyata mendapat sambutan hangat. Hal ini terbukti dari 33
naskah yang tercatat sebagai peserta.
Sayang karena berbagai kendala dan kesibukan moderator KRLMania,
penilaian terhadap naskah tersebut mengalami keterlambatan. Karena itu
panitia mengajukan permohonan maaf sebesar-besarnya.
Kecenderungan umum dari semua tulisan adalah mencapai "seperti Dahlan
Iskan" tapi kerap kali melupakan konteks, sehingga orang awam yang tak
kenal kereta tak paham apa yang sedang ditulis. Beberapa yang lain
idenya bagus tapi "tidak ndahlan". Tapi ada juga yang terlalu Ndahlan,
sehingga terlalu serius.
Akhirnya berdasarkan beberapa kriteria penilaian, Dewan Juri
memutuskan pemenang Lomba Menulis Nganufacturing Hope KRL Jabodetabek
yaitu:
Juara 1
Lelaki Sangat Cepat Jika Bertemu Wanita Hebat, Penulis: Wibzwahyu
Juara pertama berhak mendapatkan hadiah
- Pulsa senilai 200rb
- Piagam Nganufacturing Hope Award
- 1 eksemplar buku Puisi Mimpi Kereta di Pucuk Cemara.
- 2 voucher @Rp 50ribu Soto Kauman Depok
- 1 Loyang Klapeertaart ukuran Medium
Juara 2
The Fiction, Penulis: Kendy Aditya
Juara kedua berhak mendapatkan hadiah
- Pulsa senilai 150rb
- Piagam Nganufacturing Hope Award
- 1 eksemplar buku Puisi Mimpi Kereta di Pucuk Cemara.
- 1 voucher @Rp 50ribu Soto Kauman Depok
- 1 Loyang Klapeertaart ukuran Medium
Juara 3
Membalik Krupuk di Wajan, Mengejar Shinkansen, Oleh : Mim Yudiarto
Juara ketiga berhak mendapatkan hadiah
- Pulsa senilai 100rb
- Piagam Nganufacturing Hope Award
- 1 eksemplar buku Puisi Mimpi Kereta di Pucuk Cemara.
- 1 voucher @Rp 50ribu Soto Kauman Depok
- 1 Loyang Klapeertaart ukuran Medium
Penyerahan hadiah akan dilakukan pada tgl ....... di ..............
Selamat kepada para pemenang. Kepada peserta lain tidak perlu berkecil
hati, masih banyak kesempatan lain menanti.
Friday, September 07, 2012
Ucapan Munir sebelum wafat:: Astagfirullah hal adzim Lailahaillallah........
Munir meninggal kira-kira 6 hari sebelum saya berangkat ke Nottingham. Saya dengar kabar ini dari sms Teten ketika sedang menunggu di British Council, yang kemudian langsung saya telepon. Suara Teten tercekat, menahan tangis.
####
Madjib menyarankannya untuk ber-Istighfar, disambut Munir dengan menyebut, "Astaghfirullah Haladzim, La Illaha Illa Llah," sambil tetap memegangi perut.
http://id.wikipedia.org/wiki/Munir_Said_Thalib ||
Munir Said Thalib (lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965 – meninggal di Jakarta jurusan ke Amsterdam, 7 September 2004pada umur 38 tahun) adalah pria keturunan Arab yang juga seorang aktivis HAM Indonesia. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial.
Saat menjabat Dewan Kontras namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Soeharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.
Jenazah Munir dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Kota Batu.
Istri Munir, Suciwati, bersama aktivis HAM lainnya terus menuntut pemerintah agar mengungkap kasus pembunuhan
Munir Said Thalib, akan melanjutkan studi S2 bidang hukum humaniter di Universitas Utrecht, Belanda. Pukul 21.30 WIB. Melalui pengeras suara, seluruh penumpang pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 974 tujuan Amsterdam dipersilakan petugas bandara naik ke pesawat.Pembunuhan
Rombongan orang kulit putih bergegas, banyak dari mereka adalah warga negara Belanda. Saat akan memasuki pintu pesawat, Munir bertemu Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda yang biasa dipanggil Polly. Status Polly dalam penerbangan ini adalah extra crew, yaitu kru yang terbang sebagai penumpang dan akan bekerja untuk tugas lain. Mereka bertemu di dekat pintu masuk kelas bisnis. Sebagai penumpang kelas ekonomi, Munir sebenarnya akan lebih dekat dengan tempat duduknya bila masuk melalui pintu belakang. Diawali percakapan dengan Polly, Munir berakhir di tempat duduk kelas bisnis, nomor 3K. Kursi 3K adalah tempat duduk Polly, sementara milik Munir adalah 40G. Polly selanjutnya naik ke kokpit di lantai dua untuk bersalaman dan mengobrol dengan awak kokpit yang bertugas. Saat pesawat mundur dan siap tinggal landas, Polly dipersilakan oleh purser Brahmanie untuk duduk di kelas premium karena banyak tempat duduk yang kosong di kelompok termahal itu. Purser
adalah pimpinan kabin yang bertanggung jawab atas kenyamanan seluruh penumpang, termasuk kepindahan tempat duduk mereka. Lelaki berseragam pilot kemeja putih dan celana biru dongker itu pun duduk di 11B.
Ada dua cerita tentang kepindahan Munir ke kelas bisnis itu, yaitu menurut kisah brahmanie dan polly. Dalam sidang PN (Pengadilan Negeri) Jakarta Pusat, Brahmanie bersaksi, "Saat sedang di depan toilet bisnis, saya berpapasan dengan Saudara Polly. Lalu, Saudara Polly, sambil memegang boarding pass warna hijau, bertanya dalam bahasa Jawa, 'Mbak, nomer 40G nang endi? Mbak, aku ijolan karo kancaku,' (Mbak, nomor 40G di mana? Mbak, saya bertukar tempat dengan teman saya.) tanpa menyebutkan nama temannya. Karena nama temannya tidak disebutkan, saya ingin tahu siapa teman Saudara Polly. Lalu, saya datangi nomor 3K, dan ternyata yang duduk di sana Saudara Munir, yang lalu saya salami. Saudara Polly tidak duduk di 40G, tapi di premium class nomor 11B atas anjuran saya karena banyak tempat duduk yang kosong." Sementara itu, dalam wawancara di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Polly bercerita, "Saya ketemu Munir di pintu pesawat Garuda Indonesia, di
bandara Jakarta. Dia tanya di pintu bisnis, 'Tempat duduk ini di mana?' Saya bilang, 'Wah Bapak ini di ekonomi, cuma tempat duduknya yang mana saya tidak hafal.' Kemudian, itu kan antre, ada banyak penumpang lain mau masuk, saya persilakan duluan. Saya sebagai kru lebih baik ngalah, toh sama-sama naik pesawat, nggak mungkin ditinggal. Setelah itu, karena saya mau masuk ke ruang bisnis, mau melangkah ke dalam pesawat, saya bilang kepada Munir, 'Saya duduk di bisnis, kalau Bapak mau di sini, ya Bapak tanya dulu sama pimpinan kabin, kalau diizinkan ya silakan, bila tidak ya mohon maaf.' Bahasa saya seperti itu. Sudah, itu saja." Sebelum pesawat tinggal landas, di kelas bisnis, Yeti Susmiarti menyajikan welcome drink. Penumpang diminta mengambil gelas berisi sampanye, jus jeruk, atau jus apel. Munir memilih jus jeruk. Selesai minuman pembuka, pramugari senior itu membagikan sauna towel (handuk panas), yang biasa digunakan untuk mengelap
tangan, lalu memberikan surat kabar kepada penumpang yang ingin membacanya. Semua layanan itu disajikan Yeti sendiri, dengan bantuan Oedi Irianto, pramugara senior, yang menyiapkan segala keperluannya di pantry. Pukul 22.02 WIB pesawat yang dikendalikan Kapten Pilot Sabur Muhammad Taufik itu tinggal landas. Untuk mengukur waktu tinggal landas dan mendarat secara tepat, industri penerbangan menggunakan istilah block off dan block on. Block off adalah waktu yang menunjukkan saat ganjal roda pesawat di bandara dilepas dan pesawat mulai bergerak untuk terbang. Block on digunakan sebagai penanda waktu kedatangan pesawat di bandara tujuan, yaitu saat ganjal roda pesawat dipasang.
Sekitar 15 menit setelah tinggal landas, pramugari menawarkan beberapa pilihan makanan dalam kemasan yang masih panas di atas nampan. Di kursi 3K, Munir memilih mi goreng. Selesai mi, Yeti kembali memberi tawaran minuman, kali ini lebih banyak pilihan daripada welcome drink. Pilihannya adalah minuman beralkohol (wiski, gin, vodka, red wine, white wine, dan bir), soft drink, jus apel serta jus jeruk Buavita, jus tomat Berry, susu putih Ultra, air mineral Aqua, teh, dan kopi. Munir kembali memilih jus jeruk. Setelah mengarungi langit pulau Jawa, Sumatera, dan laut di sekitarnya selama 1 jam 38 menit, pesawat GA 974 mendarat di Bandara Changi, Singapura pukul 00.40 waktu setempat. Zona waktu Singapura satu jam lebih awal ketimbang WIB. Awak kabin memberi penumpang waktu untuk jalan-jalan atau kegiatan apa saja di Bandara Changi selama 45 menit.
Karena keluar dari pintu bisnis, Munir pun lebih cepat mencapai Coffee Bean dibanding jika keluar dari pintu ekonomi. Usai singgah di kedai itu, dia kembali menuju ke pesawat melaui gerbang D 42. Di perjalanan menuju pintu Garuda, dia disapa oleh seorang laki-laki. "Anda Pak Munir, ya?" "Iya, Pak." "Saya dr. Tarmizi dari Rumah Sakit Harapan Kita. Pak Munir ngapain ke Belanda?" "Saya mau belajar, mau nge-charge satu tahun." "Di mana?" "Utrecht." "Wah, Indonesia kehilangan, dong. Anda kan orang penting?" komentar dr. Tarmizi. "Ya… ini perlu untuk saya, Pak," timpal Munir sambil tersenyum. "Anda 'kan pernah nulis tentang Aceh. Bagaimana sih, bisa beres nggak tuh?" tanya dokter lagi, sambil keduanya berjalan. "Ah, itu tergantung niat, Dok." "Maksudnya?" "Kalau niatnya membereskan, tiga bulan juga beres." Kemudian, dokter kelahiran Sumatera Barat itu mengeluarkan dompet dan memberi Munir kartu namanya sambil
berkata, "Kapan-kapan, bila perlu, silakan menghubungi saya." Munir menerima kartu nama dr. Tarmizi Hakim, lalu keduanya berpisah. Si dokter masuk ke kelas bisnis, Munir menuju pintu bagian belakang pesawat dan duduk di kursi 40G kelas ekonomi, sebagaimana tercantum di boarding pass-nya. Karena Polly hanya sampai Singapura, Munir pun kembali ke tempat duduk aslinya untuk penerbangan Singapura-Amsterdam. Total waktu transit di Changi (antara block on dan block off) adalah 1 jam 13 menit, jumlah waktu yang digunakan pesawat untuk pengisian bahan bakar, penggantian seluruh awak kokpit dan kabin, serta penambahan penumpang dari Singapura.
Pesawat tinggal landas dari Changi pukul 01.53 waktu setempat. Penerbangan menuju Schipol ini dipimpin oleh Kapten Pantun Matondang, dengan purser Madjib Nasution sebagai penanggung jawab pelayanan penumpang. Sebelum pesawat mengangkasa, pramugari Tia mengecek kesiapan penumpang untuk tinggal landas. Saat melakukan kewajibannya, dia dipanggil oleh Munir yang meminta obat Promag. Pramugari bernama lengkap Tia Dewi Ambara itu meminta Munir menunggu sebentar karena pesawat akan tinggal landas dan seluruh awak kabin harus duduk di tempat masing-masing. Kira-kira 15 menit kemudian, setelah pesawat di ketinggian aman, Tia mulai membagikan selimut dan earphone, dilanjutkan dengan makanan pengantar tidur. Saat Tia sampai di 40G, lelaki berkaus abu-abu dan bercelana jins hitam itu sedang tidur. Tia membangunkannya dan bertanya, "Apa Bapak sudah dapat obat dari teman saya?" "Belum." "Maaf, kami tidak punya obat." Tia lalu menawarkan makanan, yang
ditolak oleh Munir. Namun, lelaki ini meminta teh hangat. Tia pun menyajikan teh panas yang dituangkan dari teko ke gelas di atas troli. Munir menerima uluran minuman itu, lengkap dengan gula 1 sachet. Ketika Tia melanjutkan melayani penumpang lain, Munir melewatinya di gang menuju toilet. Ini kali pertama Munir pergi ke toilet, sekitar 30 menit setelah tinggal landas.
Tiga jam sudah pesawat besar itu terbang dan sedang berada di langit India saat Munir semakin sering pergi ke toilet. Ketika berjalan di gang kabin yang hanya diterangi oleh lampu baca, dia berpapasan dengan pramugara Bondan Hernawa. Dia mengeluhkan sakit perut dan muntaber kepada Bondan, serta memintanya memanggilkan dr. Tarmizi yang duduk di kelas bisnis. Munir juga memberinya kartu nama dokter itu. Sesuai prosedur untuk situasi semacam ini, Bondan pun melapor kepada purser Madjib Nasution yang berada di Purser Station. "Bang, ini Pak Munir penumpang kita sakit. Buang-buang air, muntah-muntah. Ini ada kawannya, dokter, tapi saya tidak tahu duduk di mana. Tolong carikan tempat duduknya," ujar Bondan sambil menyerahkan kartu nama dr. Tarmizi. Madjib mencari penumpang atas nama dr. Tarmizi Hakim di Passenger Manifest dan menemukannya di kursi nomor 1J. Belum sempat dia beranjak, Munir sudah berada di depan Purser Station. Sambil memegangi perut, Munir
berkata, "Saya sudah buang-buang air, pakai muntah juga. Mungkin maag saya kambuh. Seharusnya tadi tidak minum jeruk waktu dari Jakarta-Singapura." Munir pun melanjutkan perjalanannya ke toilet. Madjib dan Bondan lalu mendatangi 1J dan mendapati dr. Tarmizi sedang tidur di 1K, kursi sebelah kanannya yang, karena dekat jendela dan dia dapati kosong, lalu dia duduki. "Dokter, dokter…," Madjib berusaha membangunkan. Keduanya mengulanginya beberapa kali dengan suara lebih keras, tapi tidur dokter bedah itu tetap tak terusik. Madjib kembali berjumpa Munir di gang dan memintanya membangunkan dr. Tarmizi sendiri, sementara Bondan pergi ke pantry untuk melaksanakan tugas terjadwalnya. Akhirnya, dr. Tarmizi bangun. Munir menjelaskan kondisi tubuhnya yang saat itu tampak sangat lemah dengan berkata, "Saya sudah muntah dan buang air besar enam kali sejak terbang dari Singapura." Dr. Tarmizi mengusulkan kepada Madjib supaya Munir pindah tempat duduk
ke nomor 4 karena tempat itu kosong dan dekat dengannya. Munir pun duduk di kursi 4D. Dr. Tarmizi mengambil posisi di samping kirinya. "Pak Munir makan apa saja dua hari terakhir ini?" tanya dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular itu. Munir hanya diam, mungkin akibat nyeri perutnya. Pertanyaan itu disambut oleh Madjib, "Pak Munir tadi sempat minum air jeruk, padahal Pak Munir tidak kuat minum jeruk karena punya maag." Munir tetap diam, tidak berkomentar. "Kalau maag tidak begini," kata si dokter, yang lalu bertanya kepada Munir, "Anda makan apa?" "Biasa saja." "Kemarin?" "Biasa saja." "Kemarinnya lagi?" "Biasa saja." Dokter itu melakukan pemeriksaan secara umum dengan membuka baju pasiennya. Dia lalu mendapati nadi di pergelangan tangan Munir lemah. Dokter berpendapat Munir menunjukkan gejala kekurangan cairan akibat muntaber.
Munir kembali lagi ke toilet, diikuti dokter, pramugara, dan pramugari. Setelah muntah dan buang air, dia pulang ke kursi 4D, sambil terus batuk-batuk berat. Dr. Tarmizi meminta seorang pramugari mengambilkan Doctor's Emergency Kit yang dimiliki setiap pesawat terbang. Kotak itu dalam keadaan tersegel. Setelah melihat isinya, dia berpendapat obat yang tersedia sangat minim, terutama untuk kebutuhan Munir. Dr. Tarmizi memerlukan infus, tapi tidak ada. Tidak ada obat khusus untuk sakit perut mulas, juga obat muntaber biasa. Si dokter pun mengambil obat dari tasnya sendiri. Dia memberi Munir obat diare New Diatabs serta obat mual dan perih kembung Zantacts dan Promag. Dua tablet untuk yang pertama dan masing-masing satu tablet untuk dua terakhir. Dr. Tarmizi lalu meminta seorang pramugari membuatkan teh manis dengan sedikit tambahan garam di dalamnya. Namun, lima menit setelah meminum teh hangat itu, Munir kembali ke toilet. Munir rampung setelah lima
menit dan membuka pintu. Dr. Tarmizi lalu membimbing Munir berjalan menyusuri gang sambil berkomentar kepada purser Madjib, "Mengapa infus saja tidak ada padahal perjalanan sejauh ini?" Di kotak obat pesawat terdapat cairan Primperam, obat antimual dan muntah, yang kemudian disuntikkan dr. Tarmizi ke tubuh Munir sejumlah 5 ml (dosis 1 ampul). Injeksi di bahu kiri ini cukup berpengaruh karena Munir kemudian tidur. Penderitaannya reda selama 2-3 jam.
Munir bangun dan kembali masuk ke toilet. Dia cukup lama berada di dalamnya, kira-kira 10 menit, dan pintunya pun tidak tertutup dengan sempurna. Madjib memberanikan diri melongok lewat celah yang ada dan mengetuk pintu, tapi tidak ada respons dari orang yang sedang menderita di dalam sana. Madjib membuka pintu lebih lebar dan melihat laki-laki 38 tahun itu sedang bersandar lemas di dinding toilet. Purser Madjib langsung memanggil dokter yang selama setengah jam terakhir paling tahu kondisi penumpangnya itu. Dr. Tarmizi mengajak Madjib dan pramugara Asep Rohman mengangkat Munir kembali ke kursi 4D. Setelah didudukkan di kursi, Munir menjalani pemeriksaan oleh dr. Tarmizi, dalam gelapnya kabin pesawat yang hanya diterangi lampu baca. Kegelapan ini keadaan yang tak bisa mereka atasi sebab demikianlah aturan penerbangan. Pertama pergelangan tangan, lalu perut. Saat perutnya diketuk oleh si dokter, Munir mengeluh, "Aduh, sakit," sambil memegang perut
bagian atas. Madjib menyarankannya untuk ber-Istighfar, disambut Munir dengan menyebut, "Astaghfirullah Haladzim, La Illaha Illa Llah," sambil tetap memegangi perut. Pramugari Titik Murwati yang berada di dekat situ berinisiatif memberi balsem gosok, tindakan yang dia harap bisa membantu meredakan derita penumpangnya. Atas persetujuan dr. Tarmizi, Titik menggosok perut Munir dengan balsem yang bisa memberikan rasa hangat. Munir berkata dia ingin istirahat karena capek. Dr. Tarmizi membuka kotak obat lagi dan mengambil obat suntik Diazepam. Kali ini, dokter menyuntikkan 5 mg di bahu kanan, juga dengan bantuan purser Madjib. Jarak antara kedua suntikan sekitar 4-5 jam. Sesudah suntikan obat penenang itu, Munir masih merasakan mulas di perut. Lima belas menit berlalu dan Munir ke toilet lagi, ditemani dokter, purser, serta pramugari. Di dalamnya, Munir muntah, diikuti buang air. Kembali ke tempat duduk, Munir berkata dirinya ingin tidur telentang.
Purser dan seorang anak buahnya membentangkan sebuah selimut sebagai alas di lantai depan kursi 4D-E dan sebuah bantal di atasnya. Dia pun berbaring di sana, dengan dua selimut lagi diletakkan di atas tubuhnya agar hangat. Dr. Tarmizi berkata kepada awak kabin itu supaya Munir dijaga, dan bahwa dirinya ingin istirahat karena besok kerja (dia akan melakukan operasi jantung di rumah sakit di Swole), sambil minta dibangunkan bila terjadi apa-apa dengan Munir. Juga, dia berpesan agar mereka memastikan dokter dari Amsterdam yang besok masuk ke pesawat membawa infus. Setelahnya, si dokter kembali ke kursi di 1K dan tidur. Munir kembali bisa tidur, tapi sering berubah posisi, dan posisi itu selalu miring, tidak pernah telentang atau tengkurap. Madjib terus setia menjaga Munir sampai sekitar 3 jam sebelum pesawat mendarat di Bandara Schipol, saat awak kabin menyiapkan makan pagi penumpang.Madjib berjalan ke tempat duduk dr. Tarmizi dan bertanya apakah perlu
dirinya membangunkan Munir untuk sarapan, yang dijawab dengan anjuran untuk membiarkan Munir tetap istirahat. Madjib pun melakukan tugas rutinnya mengawasi lingkungan pesawat.
Sekitar dua jam sebelum pesawat mendarat, jam 05.10 GMT atau 12.10 WIB, ketika sarapan masih berlangsung dan lampu kabin masih menyala, Madjib kembali melangkahkan kaki mengunjungi "tempat tidur" Munir. Di depan kursi 4D-E, dia melihat tubuh Munir dalam posisi miring menghadap kursi, mulutnya mengeluarkan air liur tidak berbusa, dan telapak tangannya membiru. Dia memegang tangan Munir dan mendapati rasa dingin. Madjib yang kaget bergegas menuju kursi sang dokter. Dokter memegang pergelangan tangan Munir sambil dengan tangan satunya menepuk-nepuk punggung. Dia berulang-ulang berujar, "Pak Munir… Pak Munir…." Akhirnya, memandang purser Madjib, dr. Tarmizi berkata pelan, "Purser, Pak Munir meninggal… Kok secepat ini, ya…. Kalau cuma muntaber, manusia bisa tahan tiga hari." Purser Madjib meminta Bondan dan Asep membantunya mengangkat tubuh kaku Munir ke tempat yang lebih baik: lantai depan kursi 4J-K. Munir berbaring di atas dua lembar
selimut, kedua matanya dipejamkan oleh Bondan, tubuhnya ditutupi selimut.
Bondan dan Asep membaca surat Yassin di depan jenazah Munir Said Thalib, empat puluh ribu kaki di atas tanah Rumania.
Pada tanggal 12 November 2004 dikeluarkan kabar bahwa polisi Belanda (Institut Forensik Belanda) menemukan jejak-jejak senyawa arsenikum setelah otopsi. Hal ini juga dikonfirmasi oleh polisi Indonesia. Belum diketahui siapa yang telah meracuni Munir, meskipun ada yang menduga bahwa oknum-oknum tertentu memang ingin menyingkirkannya.
Pada 20 Desember 2005 Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun hukuman penjara atas pembunuhan terhadap Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, seorang pilot Garuda yang sedang cuti, menaruh arsenik di makanan Munir, karena dia ingin mendiamkan pengkritik pemerintah tersebut. Hakim Cicut Sutiarso menyatakan bahwa sebelum pembunuhan Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut. Selain itu Presiden Susilo juga membentuk tim investigasi independen, namun hasil penyelidikan tim tersebut tidak pernah diterbitkan ke publik.
Pada 19 Juni 2008, Mayjen (purn) Muchdi Pr, yang kebetulan juga orang dekat Prabowo Subianto dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, ditangkap dengan dugaan kuat bahwa dia adalah otak pembunuhan Munir[1]. Beragam bukti kuat dan kesaksian mengarah padanya[2].Namun demikian, pada 31 Desember 2008, Muchdi divonis bebas. Vonis ini sangat kontroversial dan kasus ini tengah ditinjau ulang, serta 3 hakim yang memvonisnya bebas kini tengah diperiksa[3].
[sunting]Film dokumenter
Untuk memperingati satu tahun kepergian Munir, diluncurkan film dokumenter karya Ratrikala Bhre Aditya dengan judul Bunga Dibakar di Goethe-Institut, Jakarta Pusat, 8 September 2005. Film ini menceritakan perjalanan hidup Munir sebagai seorang suami, ayah, dan teman. Munir digambarkan sosok yang suka bercanda dan sangat mencintai istri dan kedua anaknya. Masa kecil Munir yang suka berkelahi layaknya anak-anak lain dan tidak pernah menjadi juara kelas juga ditampilkan. Munir dibunuh di era demokrasi dan keterbukaan serta harapan akan hadirnya sebuah Indonesia yang dia cita-citakan mulai berkembang. Semangat inilah yang ingin diungkapkan lewat film ini.
Sebuah film dokumenter lain juga telah dibuat, berjudul Garuda's Deadly Upgrade hasil kerja sama antara Dateline (SBS TV Australia) dan Off Stream Productions.
Pada peringatan tahun kedua, 7 September 2006, di Tugu Proklamasi diluncurkan film dokumenter berjudul "His Strory". Film ini bercerita tentang proses persidangan Pollycarpus dan fakta-fakta yang terungkap di pengadilan.
[sunting]Peringatan
Sejak 2005, tanggal kematian Munir 7 September, oleh para aktivis HAM dicanangkan sebagai Hari Pembela HAM Indonesia.
[sunting]Biografi
* Lahir: Malang, 8 Desember 1965
* Jabatan: Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau HAM Indonesia Imparsial
* Pendidikan: S1 FH Universitas Brawijaya(Unibraw) (1990)
[sunting]Karier terpenting
* Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau HAM Indonesia Imparsial
* Ketua Dewan Pengurus KONTRAS (2001)
* Koordinator Badan Pekerja KONTRAS (16 April 1998-2001)
* Wakil Ketua Dewan Pengurus YLBHI (1998)
* Wakil Ketua Bidang Operasional YLBHI (1997)
* Sekretaris Bidang Operasional YLBHI (1996)
* Direktur LBH Semarang (1996)
* Kepala Bidang Operasional LBH Surabaya (1993-1995)
* Koordinator Divisi Pembunuhan dan Divisi Hak Sipil Politik LBH Surabaya (1992-1993)
* Ketua LBH Surabaya Pos Malang
* Relawan LBH Surabaya (1989)
[sunting]Organisasi
* Sekretaris BPM FH Unibraw (1988)
* Ketua Senat Mahasiswa FH Unibraw (1989)
* Anggota HMI Komisariat Hukum Unibraw
* Ketua Umum Komisariat Hkukum Unibraw HMI Cabang Malang
* Sekretaris Al Irsyad Kabupaten Malang (1988)
* Divisi Legal Komite Solidaritas untuk Marsinah
* Sekretarsi Tim Pencari Fakta Forum Indonesia Damai.
[sunting]Penghargaan terpenting
* Right Livelihood Award 2000, Penghargaan pengabdian bidang kemajuan HAM dan kontrol sipil terhadap militer (Swedia, 8 Desember 2000)
* Mandanjeet Singh Prize, UNESCO, untuk kiprahnya mempromosikan Toleransi dan Anti-Kekerasan (2000)
* Salah satu Pemimpin Politik Muda Asia pada Milenium Baru (Majalah Asiaweek, Oktober 1999)
* Man of The Year versi majalah Ummat (1998).
* Suardi Tasrif Awards, dari Aliansi Jurnalis Independen, (1998) atas nama Kontras
* Serdadu Awards, dari Organisasi Seniman dan Pengamen Jalanan Jakarta (1998)
* Yap Thiam Hien Award (1998)
* Satu dari seratus tokoh Indonesia abad XX, majalah Forum Keadilan
[sunting]Kasus-kasus penting yang pernah ditangani
* Penasehat Hukum dan anggota Tim Investigasi Kasus Fernando Araujo, dkk, di Denpasar yang dituduh merencanakan pemberontakan melawan pemerintah secara diam-diam untuk memisahkan Timor-Timur dari Indonesia; 1992
* Penasehat Hukum Kasus Jose Antonio De Jesus Das Neves (Samalarua) di Malang, dengan tuduhan melawan pemerintah untuk memisahkan Timor Timur dari Indonesia; 1994
* Penasehat Hukum Kasus Marsinah dan para buruh PT. CPS melawan KODAM V Brawijaya atas tindak kekerasan dan pembunuhan Marsinah, aktifis buruh; 1994
* Penasehat Hukum masyarakat Nipah, Madura, dalam kasus permintaan pertanggungjawaban militer atas pembunuhan tiga petani Nipah Madura, Jawa Timur; 1993
* Penasehat Hukum Sri Bintang Pamungkas (Ketua Umum PUDI) dalam kasus subversi dan perkara hukum Administrative Court (PTUN) untuk pemecatannya sebagai dosen, Jakarta; 1997
* Penasehat Hukum Muchtar Pakpahan (Ketua Umum SBSI) dalam kasus subversi, Jakarta; 1997
* Penasehat Hukum Dita Indah Sari, Coen Husen Pontoh, Sholeh (Ketua PPBI dan anggota PRD) dalam kasus subversi, Surabaya;1996
* Penasehat Hukum mahasiswa dan petani di Pasuruan dalam kasus perburuhan PT. Chief Samsung; 1995
* Penasehat Hukum bagi 22 pekerja PT. Maspion dalam kasus pemogokan di Sidoarjo, Jawa Timur; 1993
* Penasehat Hukum DR. George Junus Aditjondro (Dosen Universitas Kristen Satyawacana, Salatiga) dalam kasus penghinaan terhadap pemerintah, Yogyakarta; 1994
* Penasehat hukum Muhadi (seorang sopir yang dituduh telah menembak polisi ketika terjadi bentrokan antara polisi dengan anggota TNI AU) di Madura, Jawa Timur; 1994
* Penasehat Hukum dalam kasus hilangnya 24 aktivis dan mahasiswa di Jakarta; 1997-1998
* Penasehat Hukum dalam kasus pembunuhan besar-besaran terhadap masyarakat sipil di Tanjung Priok 1984; sejak 1998
* Penasehat Hukum kasus penembakan mahasiswa di Semanggi, Tragedi Semanggi I dan II; 1998-1999
* Anggota Komisi Penyelidikan Pelanggaran HAM di Timor Timur; 1999
* Penggagas Komisi Perdamaian dan Rekonsiliasi di Maluku
* Penasehat Hukum dan Koordinator Advokat HAM dalam kasus-kasus di Aceh dan Papua (bersama KontraS)
[sunting]Pranala luar
* (Indonesia) Munir.or.id
* (Indonesia) KontraS
* (Indonesia) Munir di Tokoh Indonesia
* (Inggris) "Man Convicted in Indonesian Activist Death", Forbes
* (Inggris) http://www.rightlivelihood.org/recip/munir.htm
* (Indonesia) catatan persidangan kasus pembunuhan Munir
* (Indonesia) foto-foto peringatan kematian Munir
* (Indonesia) Kliping Kasus Pembunuhan Munir, i-library.org
http://pembunuhanmunir.blogspot.com/
[sunting]Rujukan
1. ^ http://hukum-kriminal.infogue.com/kronologi_muchdi_pr_jadi_tersangka_pembunuhan_munir
2. ^ http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2009/01/01/brk,20090101-153381,id.html
3. ^ http://nasional.vivanews.com/news/read/63937-3_hakim_kasus_muchdi_pr_diperiksa_ky
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Web Address http://groups.yahoo.com/group/kahmi_pro_network/
MAKLUMAT:
1. MILIS INI TIDAK MENERIMA SEGALA BENTUK ATTACHMENT.
2. AGAR MENULISKAN NAMA ASLI (PANGGILAN ATAU NAMA LENGKAP).
3. TIDAK MENGUMBAR PERMUSUHAN DAN/ATAU MENGGUNAKAN KATA-KATA KASAR.
dan
4. TIDAK MENYERTAKAN POSTING SEBELUMNYA ATAU YANG DITANGGAPI SECARA
KESELURUHAN, CUKUP EMAIL BAGIAN/PARAGRAF YANG INGIN DITANGGAPI.Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kahmi_pro_network/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kahmi_pro_network/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
kahmi_pro_network-digest@yahoogroups.com
kahmi_pro_network-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
kahmi_pro_network-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--
Agam Fatchurrochman
GTalk, Skype: afatchur
Monday, August 27, 2012
Prof. Mustafa: BERHAJI DAN BERUMRAH BERULANG KALI PENGABDI SETAN
Sangat progresif pandangan Imam Besar Istiqlal ini.
Prof. Mustafa Ali Yaqub (Imam Mesjid Istiqlal):
DAN BERUMRAH BERULANG KALI PENGABDI SETAN
Tidak hanya pindah ke pusat-pusat belanja, kalangan atas gandrung berumrah saat j
Ramadan hingga tembus Lebaran, meski ibadah itu sudah berkali-kali dilakoni. Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Ali Mustafa Yaqub, Nabi Muhammad tidak pernah mencontohkan hal itu. Dia menegaskan bolak balik berhaji dan berumrah adalah salah satu produk konsumerisme berbungkus ibadah.
Berikut penuturan Ali Mustafa Yaqub saat ditemui Islahuddin dari merdeka.com di rumahnya, belakang Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Kamis (16/8) siang.
Apa masjid kalah bersaing dengan mal di Jakarta?
Saya tidak mengenal kata bersaing. Yang jelas, mal berhasil menyedot jamaah banyak ke masjid menjadi banyak ke mal. Apalagi mal ada di depan masjid, sekalian. Ini bukan karena malnya. Ini karena faktor konsumtif. Perilaku itu membuat orang lebih banyak ke mal ketimbang ke masjid.
Bagi sosiolog, perubahan perilaku ini sangat menarik untuk diteliti. Lebih parah lagi, konsumerisme itu ada yang dibungkus dalam bentuk ibadah. Misal bentuknya umrah saat Ramadan. Pada 2009, ada 3,6 juta orang umrah ke Makkah. Sekarang mungkin sekitar empat juta orang. Dari jumlah itu, kalau per orang dikenai biaya dua ribu dolar, jumlah uangnya ada delapan miliar.
Jumlah itu terbuang hanya untuk hal-hal tidak wajib dan itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Kalau itu itu wajib mungkin wajar, demikian juga kalau pernah dicontohkan oleh Rasullah, itu tidak masalah. Rasulullah saja tidak pernah mencontohkan pergi umrah saat Ramadan. Saya juga tidak tahu bagaimana pergeseran yang mulanya infak itu hingga menjadi umrah saat Ramadan.
Sekarang banyak masjid membuat brosur Ramadan memasukkan umrah itu sebagai amal ibadah Ramadan. Padahal umrah itu tidak ada kaitannya dengan Ramadan. Di luar Ramadan boleh seperti itu. Tapi memasukkan umrah sebagai amaliyah Ramadan itu sudah punya tujuan lain. Mungkin saja pengurus masjid ingin menjaring jamaah agar dia bisa gratis ke sana. Ini bergesernya pelan-pelan, tidak terasa.
Seperti apa peran ulama dalam hal ini?
Ulama saja jadi korban konsumerisme karena ulamanya tidak mau mempelajari hadis, bagaimana perilaku Rasulullah pada Ramadan. Maka yang penting senang pergi ke Makkah. Bagaimana tidak senang, dia dan istrinya bisa gratis kalau dapat jamaah banyak. Bagaimana tidak senang seperti itu. Maka jamaahnya dirayu untuk pergi umrah saat Ramadan.
Bagaimana dengan teladan dari ulama?
Siapa diteladani kalau dia tidak pernah membaca hadis perilaku nabi. Tidak pernah baca hadis dan syirah. Itulah kendalanya dan akhirnya dia menjadi korban konsumerisme, bahkan ikut terlibat membikin konsumerisme.
Apakah ada pihak membahas hal ini setiap selesai Ramadan?
Setahu saya tidak pernah ada. Siapa mau mengevaluasi. Saya yakin tidak ada. Yang bicara seperti ini juga tidak ada selain saya. Saya punya keinginan kita kembali mengikuti perilaku nabi patut kita contoh. Bagaimana beribadah saat Ramadan, bukan mengumbar nafsu seperti itu. Selain itu agar infaknya lebih digalakkan saat Ramadan. Di bulan lain beliau dermawan, bahkan dilukiskan kedermawanan beliau saat Ramadan itu seperti angin kencang. Kalau sekarang tidak, umat muslim lebih senang umrah saat Ramadan.
Mungkin yang umrah saat Ramadan itu merasa tenang batinnya?
Bukan ketenangan batin, tapi kesenangan batin. Kalau ketenangan bisa dengan qiyamul lail di Masjid Istiqlal di malam-malam sepuluh hari terakhir Ramadan. Coba Anda baca Republika kemarin ada orang-orang mengikuti kegiatan itu dan mendapatkan ketenangan. Bukan malah ke Makkah. Itu tidak mendapatkan ketenangan, tapi kesenangan.
Makanya diperlukan sekarang adalah ulama-ulama bisa memberikan keteladanan. Dari mana sumber keteladanan itu, ya mengikuti perilaku Rasulullah. Kalau sekarang mengikuti perilaku nafsu dan itu ironis sekali di bulan Ramadan. Mestinya mengekang nafsu, malah mengumbar nafsu.
Saat saya berkunjung ke masjid Sunda Kelapa pada Ramadan, ada orang mendekati saya dan bilang, "Pak Ustad, saya baru pulang dari Makkah." Saya langsung balas, "Saya tidak tanya." Dikira ke Makkah saat Ramadan itu bagus. Kalau itu bagus, Rasulullah akan mencontohkan itu. Bila perlu setiap hari akan umrah, bila itu bagus. Yang dicontohkan Rasul justru berinfak sebanyak-banyaknya. Hingga kemudian infak itu dibelokkan ke perilaku konsumtif. Akhirnya yang menonjol konsumtifnya, bukan infaknya.
Menurunnya kedermawanan ini apa juga dipengaruhi oleh turunnya ekonomi ?
Kalau itu dijadikan parameter mungkin orang tidak akan berbondong-bondong umrah. Anda coba tanya ke Kedutaan Besar Arab Saudi yang umrah dari Indonesia saat Ramadan berapa orang? Kedutaan Arab Saudi mengeluarkan visa pasti sebelum Ramadan. Kalau di luar Ramadan saya pernah diberitahu rata-rata 7.500 orang. Itu dari jumlah stempel paspor umrah diberikan
Kalau faktor ekonomi masalahnya, tentu tidak banyak yang pergi umrah. Ini faktor konsumerisme dibungkus dengan ibadah.
Kenapa itu jarang terdengar?
Saya kadang banyak mengecam. Saya menulis buku Haji Pengabdi Setan, maksudnya untuk orang berhaji ulang. Itu niatnya ikut siapa, sementara kondisi negara masih terpuruk. Indonesia kalau mengikuti indikator PBB, masih ada 117 juta orang miskin. Nabi berkata, "Tidak beriman orang pada malam perutnya kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan." Berapa juta orang Indonesia masih kelaparan.
Saya tanyakan kepada ustad-ustad yang merekomendasikan haji ulang atau umrah itu. Tidak bisa menjawab, malah dia larut dalam arus konsumerisme itu. Melihat hal ini, perlu ada revolusi moral. Saya kadang merasa sendirian dalam memberitahukan hal ini. Saya sering mengatakan berhaji ulang itu rugi. Saya katakan itu dilawan banyak kalangan dan bilang, "Berhaji kok rugi."
Coba bandingkan biayanya itu untuk infak sebanyak-banyaknya. Padahal nanti itu jelas ganjarannya, surga bersama nabi. Kita menyantuni anak yatim, jaminannya surga bersama nabi dalam satu kompleks. Coba berhaji, itu kalau mabrur. Itu pun surganya kelas dek, kelas ekonomi.
Ini lebih kepada yang berhaji ulang. Menurut saya, itu bermasalah, sementara kewajibannya masih banyak. Kewajiban itu tidak hanya ibadah, kewajiban sosial juga banyak sekali. Tapi pura-pura buta saja.
Siapa yang diikuti untuk berhaji ulang. Mana ada ayat Alquran dan hadis menyuruh berhaji ulang, sementara kewajiban sosial lain masih banyak. Mau mengikuti Rasulullah, sebutkan hadis yang menyatakan itu, tidak ada, maka kamu hanya mengikuti bisikan dan keinginan nafsu. Meski begitu masih banyak alasannya, ada yang bilang masih belum puas. Saya katakan, sejuta kali kamu berhaji, tetap kamu belum puas. Setan masuknya dari situ kok. Ada yang bilang masih belum sempurna, terus dan terus naik haji. Makanya itulah yang disebut sebagai haji pengabdi setan.
Mulanya mendengar itu, banyak yang menentang, tapi setelah membaca dan memahami yang saya maksud, banyak juga yang mendukung. Opini itu pertama kali saya tulis di Majalah Gatra. Ada Kiai dari Jawa Timur dikasih orang untuk membaca itu dan berkomentar, "Ini apa-apaan, haji penyembah setan." Sama orang yang memberi opini itu disuruh baca buku saya tentang hal itu, dia bilang, "Pak Kiai, komentarnya nanti saja setelah baca buku ini." Setalah baca buku itu, dia langsung bilang, "Ini yang saya cari, ayo disalin seratus, bagi ke ulama-ulama Jawa Timur."
Ini saya amati tidak hanya terjadi di Indonesia, juga di seluruh negara yang ada penduduk muslimnya. Di Amerika juga begitu. Pada 2007 saya di Amerika, acara televisi di sana penuh iklan umrah dan haji, bahkan ada koran khusus iklan dibagikan gratis. Koran itu isinya penuh iklan, terutama iklan haji dan umrah. Itulah yang yang diteliti Walter Armbrust, hal itu terjadi bukan hanya di negara-negara Islam, tapi di negara-negara yang ada orang Islamnya. Itu gencar sekali.
Mestinya masjid juga menjadi sumber kesejahteraan bagi orang miskin?
Mungkin itu ada, tapi jumlahnya sangat sedikit. Paling diberi makan sahur dan berbuka, itu sedikit. Tapi untuk menuntaskan kemiskinan mereka tidak ada program
Sunday, August 26, 2012
Saatnya Merenungkan Tanah Surga
Saatnya Merenungkan TANAH SURGA
Ini ulasan film Tanah Surga di Kompas Minggu hari ini. Film ini memang keren. Wajib ditonton. Sabgat Deddy Mizwar.
Seorang kakek hidup bersama cucunya di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat. Suguhan pemandangan indah ketika Hasyim dan cucunya, Salman dan Salina, berperahu di danau membuka film ini. Danau berlatar perbukitan indah itulah "halaman" rumah kayu mereka yang sederhana.
Cerita bergulir ketika anak Hasyim yang berdagang di Malaysia, Haris, pulang ke dusun dan mengajak keluarga hijrah ke Malaysia. Hasyim (Fuad Idris) yang berjuang membela Tanah Air saat konfrontasi dengan Malaysia menolak keinginan anaknya memboyong keluarga untuk mencari hidup di Malaysia.
"Di sana pendidikan anak-anak lebih baik, tempat tinggal untuk kita lebih layak, juga ada perawatan kesehatan yang lebih baik untuk ayah!" ujar Haris kepada ayahnya.
Apa yang dikatakan Haris tak salah. Di dusun itu, sekolah Salman dan Salina adalah rumah panggung kayu yang kalau salah melangkah, kaki kejeblos lubang menganga di lantainya. Hanya ada satu guru, Astuti (Astri Nurdin), yang mengajar dua kelas bersamaan dengan pembatas papan setengah dinding. Pun sekolah itu sempat diliburkan setahun karena tak ada guru sebelum Astuti datang.
Di desa itu baru tiba seorang dokter, Anwar (Ringgo Agus). Meski begitu, pasien yang membutuhkan perawatan lebih serius sangat susah dibawa ke rumah sakit terdekat. Selain medan yang berat, biaya membawa si pasien pun mahal.
Inspirasi dari kenyataan
Dusun yang lebih akrab dengan ringgit Malaysia daripada rupiah itu digambarkan berdasarkan kondisi nyata di perbatasan Indonesia-Malaysia. Terinspirasi kenyataan yang direkam film dokumenter pula dikisahkan tentang pedagang yang mengalasi gelaran dagangannya dengan bendera merah putih karena tak paham bendera itu berarti.
Sementara Haris kembali ke Malaysia membawa Salina (Tissa Biani), Hasyim yang sakit tetap tinggal di kampungnya. Ia ditemani Salman (Aji Santosa) yang tak mau meninggalkan kakeknya. Film ini dengan cerdas menggambarkan keceriaan sekaligus kegigihan anak-anak untuk bertahan di tengah n kondisi sosial ekonomi yang mengenaskan.
Demi membawa kakek Hasyim ke rumah sakit, Salman pun harus bekerja keras. Ia menjajakan kerajinan dari dusunnya hingga ke pasar di Malaysia. Kembali ke dusunnya ketika hari gelap, melintasi jalan berhutan dengan "jembatan" dari batang pohon. Tanda perbatasan kedua negeri ini tepat berada di persimpangan antara jalan aspal yang mulus dan jalan tanah yang penuh kubangan. Sampai sebatas jalan mulus itulah wilayah negeri tetangga.
Tanah Surga...Katanya memberi alternatif hiburan dan perenungan tentang keindonesiaan dalam kemasan yang bisa ditonton seluruh anggota keluarga. Pilihan lagu tema, "Kolam Susu" karya Yok Koeswojo yang dipopulerkan Koes Plus pun memberi kesan menohok:
"Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu... Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman...."
"Cerita dari Tapal Batas"
Kisah tentang daerah perbatasan Indonesia-Malaysia juga diangkat dalam film Batas produksi Keana Production yang tayang tahun 2011. Selain Batas, Keana juga memproduksi versi film dokumenternya dengan judul Cerita dari Tapal Batas yang DVD-nya telah beredar di pasaran.
Cerita dari Tapal Batas garapan sutradara Wisnu Adi itu memotret realitas kehidupan di wilayah terdepan Indonesia yang justru amat terbelakang dan miskin. Jalan tidak ada, guru hanya seorang, bahkan kebutuhan pokok tidak tersedia. Perbatasan seperti wilayah entah-berantah lantaran negara tidak hadir, apalagi mengurus warganya.
"Kekosongan" akibat ketidakhadiran negara di wilayah perbatasan lantas diisi oleh negara tetangga. Barang-barang kebutuhan pokok, bahan bakar, uang, bahkan mimpi tentang kehidupan yang sejahtera sebagian besar dipasok oleh Malaysia. Tidak heran jika pada akhirnya mereka lebih mengenal Malaysia daripada Indonesia. Mereka lebih mengenal ringgit daripada rupiah. Mereka lebih mudah menghafal lagu pop Melayu dibandingkan "Indonesia Raya".
Fakta-fakta yang disajikan di dokumenter merupakan testimoni yang dituturkan langsung oleh rakyat yang hidup di perbatasan Indonesia-Malaysia. Fakta itu juga melengkapi laporan penelitian atau liputan jurnalistik yang sama-sama menunjukkan bahwa Indonesia terlampau jauh untuk dijangkau masyarakat perbatasan. Film ini juga ditutup dengan lagu "Kolam Susu". (DAY/BSW)
Saturday, August 25, 2012
Mencari Akar Masalah
800 lebih kematian selama masa mudik Lebaran adalah karena manajemen
mudik Lebaran yang amburadul. JK bilang kudunya koordinasi dipimpin
oleh Wapres, supaya koordinasi berjalan lintas instansi dan daerah
dengan baik. Jadi berbagai kecelakaan itu adalah gambaran dari
manajemen yang buruk.
Saya setuju sekali.
Berita lain, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia, Danang
Parikesit, mengatakan bahwa berbagai kecelakaan selama mudik ini
berlangsung selama bertahun-tahun. Tidak pernah ada upaya mencari akar
masalah.
Sekarang, dari pengalaman saya pribadi sebagai konsultan di sebuah
lembaga audit pemerintah. Tipikal laporan audit mereka secara
sederhana adalah:
Temuan:
1. Diketemukan kekurangan pemasangan con block sebanyak 100 buah.
2. Diketemukan mur baut yang copot, paling tidak 200 buah, dari
struktur jembatan baja yang sedang dikerjakan.
Rekomendasi:
1. Kontraktor supaya memasang kekurangan con block sebanyak 100 buah.
2. Kontraktor supaya memasang mur baut yang copot.
Anda menemukan benang merah dari ketiga cerita di atas?
Ya, benang merahnya adalah: akar masalah yang diabaikan.
Dalam kasus laporan audit tsb, laporan yang ideal sebenarnya adalah:
1. Diketemukan kekurangan pemasangan con block sebanyak 100 buah.
2. Diketemukan mur baut yang copot, paling tidak 200 buah, dari
struktur jembatan baja yang sedang dikerjakan.
3. Diketemukan bahwa mandor dari kontraktor tidak melakukan pengawasan
secara menyeluruh. Mandor merangkap tugas sebagai tukang, sehingga
quality assurance terabaikan.
4. Diketemukan bahwa kontraktor pengawas tidak melakukan uji sampling
pengawasan sesuai dengan profil risiko. Pengawas hanya datang selama
beberapa jam meninjau proyek dan tidak melakukan uji teknis,
mengandalkan laporan dari mandor tanpa uji pembanding.
Rekomendasi:
1. PPK supaya meminta perbaikan SOP dan job description kontraktor
pelaksana, termasuk peran mandor harus khusus menangani quality
assurance. Hasil perbaikan SOP dan job description ini harus
dikirimkan ke auditor dalam waktu 1 bulan sejak laporan audit
diterima.
2. PPK supaya memutus kontrak kontraktor pengawas, dan melakukan
pengawasan sendiri.
3. dsb yang terkait dengan manajemen dan internal control system.
Itulah beda antara aparat pemerintah yang melihat bahwa 800 orang
kecelakaan itu sebagai incidents yang merupakan isolated events,
dengan JK yang melihat bahwa berbagai insiden tersebut saling
berhubungan satu sama lain, merupakan kegagalan sistemik karena
kegagalan manajemen.
Pemerintah (Menhub, Polri, GUbernur, dsb) melihat masalahnya sama
dengan yang dilihat JK: mudik dengan motor berbahaya, kereta api belum
bisa jadi andalan, bis terlalu mahal, jalan sempit, dsb. Bedanya
Pemerintah tidak mencari akar masalahnya lagi, sementara JK melihat
bahwa akar masalahnya adalah soal manajemen, kegagalan pemerintah pada
level tertinggi: presiden dan wakil presiden, yang tak memimpin
langsung manajemen mudik nasional ini.
Tahun lalu saya membaca buku Problem Solving 101 dari Ken Watanabe,
buku kecil yg mengajarkan anak-anak sekolah di Jepang belajar probelm
solving memakai problem tree dan tools sederhana lainnya. Buku ini
laris manis di Jepang, sampai ke kalangan bisnis. Intinya cuma membuat
tujuan, problem tree, membuat hipotesa, tes hipotesa dg interview dsb,
hitung pro cons, dan ambil keputusan-eksekusi. Tidak dengan tools yg
rumit, tapi sederhana.
Buku ini perlu dibaca oleh birokrat negeri ini, termasuk Presiden,
daripada hanya mengeluh dan prihatin.
Ini penjelasan bukunya:
Problem Solving 101 started out as a simple guide to teach Japanese
schoolchildren critical thinking skills. But it quickly became an
adult bestseller, thanks to the powerful effectiveness of Ken
Watanabe's problem solving methods. The tools in this book come from
the author's experience as an elite McKinsey consultant. But you don't
need an MBA or complicated computer software to use them. You'll learn
how to broaden and organize your thinking about a problem, so that
more possible solutions become clear.
Di toko buku di Jakarta, harga sekitar 130 ribu rupiah. Monggo dibeli
karena ini bagus sekali.
Dua film lebaran keren
Film kedua, "Tanah Surga", mengenai kehidupan mantan sukarelawan Ganyang Malaysia yang berkeras tinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia, dengan segala keterbatasan. Sementara anaknya sendiri memilih jadi warga negara Malaysia, bahkan mendukung Malaysia dalam AFF Cup. Meski temanya serius, dikemas Deddy Mizwar dengan menarik, lucu, bikin penonton tertawa ngenes. Misalnya kejadian perbatasan Malaysia - Indonesia. Sisi Malaysia dengan aspal mulus, yang berhenti tepat di papan penanda perbatasan. Sisi Indonesia hanya jalan tanah perkerasan.
Monggo dipersilakan nonton weekend ini.
Agam Fatchurrochman
Tuesday, August 21, 2012
Mengapa Idul Fitri di Jakarta Tidak Berkesan
- Dulu waktu saya kecil di Semarang, saya tinggal di kompleks perumahan dengan strata ekonomi yang setara.
- Tetangga saling mengenal. Rumah saling menempel, dengan pagar rendah. Pintu setiap saat terbuka bagi tetangga yang mau berkunjung.
- Gotong royong berjalan dengan baik.
- Tiap RW punya masjid sendiri-sendiri, dan tiap Idul Fitri/Adha, tiap masjid dengan remaja masjidnya saling berkompetisi takbiran, dengan lomba pawai.
- Remaja masjid juga belum dicemari oleh politik.
- Ada trust diantara sesama warga, maupun warga dengan tatanan RT/RW (hidup Orba!).
Sekarang saya di Jakarta, tidak merasakan kegembiraan itu:
- Saya tinggal bukan di kompleks, tetapi lahan kavling yang sebagian ditempati, meminjam istilah dualisme ekonomi masyarakat kolonial Hindia Belanda Boeke tahun 1920-an, masyarakat ekonomi modern dan subsisten. Modern biasanya pekerjaannya di sektor modern, seperti pegawai swasta, wiraswasta besar, atau negeri. Sementara ekonomi subsisten biasanya masyarakat asli (Betawi atau pendatang) yang pekerjaannya kurang tetap, musiman, atau ekonomi lemah). Ada kesenjangan di sini, dengan strata ekonomi yang berbeda. Kalau diukur dengan indeks Gini, barangkali kesenjangannya melebihi rata-rata nasional. Yang lebih parah, masyarakat yang subsisten biasanya kemudian ikut organisasi kepemudaan atau kedaerahan, sehingga tetangga yang ekonomi modern jadi tambah curiga.
- Tetangga kurang saling mengenal. Rumah mungkin menempel, tetapi dibatasi dengan pagar tinggi. Banyak juga rumah yang berbatasan dengan kavling yang belum dibangun atau tanah kosong dengan alang-alang / rumput tinggi. Pencurian bukan hal yang tak biasa. Karena itu pagar tinggi selalu dikunci. Meski jika tetangga mau berkunjung, pintu setiap saat bisa dibuka dengan bel ting tong ting tong.
- Gotong royong? Oh, bayar saja tetangga yang menganggur di dekat rumah buat membersihkan lingkungan.
- Tiap RW punya masjid sendiri-sendiri, tapi pengurus masjid biasanya orang tua, yang disconnected dengan anak muda yang tercerabut dari kampungnya. Biasanya ada pengurus masjid yang tinggal / merbot, yang dibayar dari kas masjid. Kegiatan remaja masjid hampir tidak ada, sehingga takbiran hanya di masjid, bukan pawai keliling kampung yang melibatkan seluruh komponen masyarakat. Pengurus RT / RW sibuk.
- di tempat saya kebetulan remaja masjid kurang aktif. Tapi di tempat lain saya dengar ada masjid yang remajanya ikut pengajian partai yang mendukung Foke (dulunya sih anti Foke. Mahar bicara) dan konflik dengan jamaah yang lebih tuan yang tidak mau beragama yang politis demi kesejahteraan pengurus.
- Trust? Oh itu nama majalah ekonomi punya Harry Tanoe ya? Oh bukan? Apa dong? O... Maksudnya saling percaya, ada rasa keterikatan antara warga ya? Barangkali ada tuh di kampung.
Sudah sejak tahun 2000 saya pindah ke Jakarta (dan Tangerang Selatan), 12 tahun, dimana Idul Fitri tidak berkesan.
Saya memimpikan Jakarta Baru. Hidup Jokowi (lho...).
Foto ora nyambung yo ora opo opo.
Agam Fatchurrochman
Sunday, August 19, 2012
Semangat yang fitri buat Jakarta Baru
Anyway, kita perlu mensucikan kota ini setelah berperiode-periode dikotori oleh birokrat-birokrat kotor di Pemerintah DKI Jakarta. Dan buku inilah harapan untuk mensucikan menjadi Jakarta Baru.
Selamat Idul Fitri.
Salam Semangat Jakarta Baru.
Agamfat.wordpress.com
Agamfat.blogspot.com
Agam Fatchurrochman
Saturday, August 18, 2012
Idul Fitri 1 Tahun Lalu
1. Alasan kemajuan agama: konyol sekali masih ribut melihat bulan, sementara ilmu menghitung posisi bulan sudah bisa menentukan bulan baru sejak 50 tahun lalu. Amerika dan Sovyet sudah mengirim orang ke bulan, di sini orang masih ribut soal datang bulan. Hizbut Tahrir tidak usahlah ribut soal khalifah, bikin saja proyek penyatuan kalender Hijriah. Selain proses sidang itsbat waktu itu yang konyol. Kalau menurut hitungan mereka bulan baru belum 2 derajat, tidak akan terlihat, ya buat apa mengerahkan orang melihat seluruh Indonesia? Buang-buang duit rakyat saja. Intinya kan sama-sama pakai ilmu hisab, cuma yang satu bulan baru itu ya bulan baru. Satu lagi bulan baru itu kudu terlihat 2 derajat.
2. Alasan ulil amri: orang bilang, ikut saja keputusan ulil amri-pemerintah. Saya bilang, bagaimana bisa percaya dengan ulil amri, kalau Kementerian Agama itu termasuk terkorup menurut KPK, pencetakan Quran pun dikorup. Sementara MUI dipenuhi orang-orang yang mendukung Foke (sekarang) atau konteks waktu itu dan sekarang: maju tak gentar membela yang bayar.
Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin.
Nb.
Rumah baru cross posting:
Agamfat.wordpress.com
Agamfat.blogspot.com
Sori belum buka kompoter, belum bisa follow back kepada beberapa rekan yang sudah follow tadi.
Monggo saling follow memfollow.
Agam Fatchurrochman
Pindah rumah
Kemarin seharian mencoba membuka-buka Blogspot dan Wordpress. Rupanya saya punya Blogspot sejak 2005 yang tidak pernah diisi, passwordnya sudah lupa lagi.
Akhirnya membuka lapak baru di Wordpress (agamfat.wordpress.com) dan Blogspot (agamfat.blogspot.com).
Wordpress menawarkan tampilan yang keren ketika dibuka dengan iPad. Sudah saya cek dengna iPada Tia istri saya: kereeennn. Seperti tampilan majalah ala Pulse dengan mozaik kotak-kotak ala Jokowi. Sayang di Galaxy Tab saya tampilannya tetap ala desktop atau mobile.
Blogspot kustomisasinya lebih rumit, padahal Wordpress saja sudah rumit. Betapa Mp itu sederhana ya.
Tadinya saya pikir Blogspot dibawah Google tentu lebih keren, sederhana, dengan integrasi bagus ke aplikasi Google lainnya: youtube, Picasa, Google Translate, dsb. Sayangnya kustomisasinya malah lebih rumit.
Kemarin downlod juga blog saya (agamfat.multiply.com) dan Tia (agamtia.multiply.com). Lumayan juga punya saya gedenya 260-an mb, sementara punya Tia 180-an mb.
Semoga rumah baru ke depan bisa bikin nyaman, betah, dan dengan tetangga yang ok juga.
Nb:
Coba crossposting Mp, Wp, Bs.
Agam Fatchurrochman
Friday, August 17, 2012
Jumat terakhir Ramadhan
Hari ini disibukkan dengan mengurus perpindahan blog dari Multiply ke Blogspot dan Wordpress. Mencoba membandingkan dua blog engine ini. Secara umum saya lebih percaya pada produk Google. Blogspot mestinya unggul dalam berbagai hal: foto (Picassa), Video (Youtube), space, dsb. Tapi rupanya lebih mudah memindahkan ke Wordpress dibandingkan Blogspot.
Rencananya nanti dua blog ini akan dipelihara dengan cross posting. Mestinya posting via email dengan dialamatkan dua email wp dan bs ini mudah.
Let see. Wp sudah berhasil impor dua file wml Notes dan Review. Bs belum satu pun.
Agam Fatchurrochman


