Film Kartini (2017) dari Hanung Bramantyo mengingatkan saya terhadap definisi Ummu Walad.
Ummu Walad ialah budak wanita yang digauli pemiliknya dan melahirkan anak darinya, baik laki-laki atau perempuan.
Apa hukum menggauli budak yang kemudian menjadi Ummu Walad? Pemilik budak wanita boleh menggauli budak wanitanya, dan jika budak wanitanya tersebut melahirkan anak, maka ia menjadi ibu dari anaknya https://almanhaj.or.id/20-ummu-walad.html
Bagaimana status anak anaknya? Bila majikannya menggauli budak itu, dan budak itu kemudian hamil lalu melahirkan, maka anaknya adalah anak yang merdeka dan statusnya sama dengan anak majikannya dari istri yang merdeka. (Tafsir Al-Azhar. Juz 4. Prof. DR. Hamka. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.) https://kristolog.com/2010/08/18/menggauli-budak/amp/
Dalam artikel yang sama, disebutkan bahwa Khalifah Al Ma'mun dari Dinasti Abbasiyah (memerintah 198-217 H / 813-833 M) adalah anak Ummul Walad dari Khalifah Harun Al Rasyid.
Dalam scene pertama, Hanung langsung menggedor kemanusiaan kita, dengan menyodorkan Ummu Walad dalam konteks lokal Jawa Jepara 1 abad lalu.
Kartini lahir dari (belakangan diketahui adalah istri pertama) garwa ampilan Bupati Jepara, Ngasirah, seorang rakyat biasa. Garwa ampilan ini dalam kelaziman kerajaan Islam Jawa, adalah selir. Selir bukan istri utama. Istri utama disebut garwa padmi. Istri maksimal empat sesuai yang diperbolehkan syariah. Tetapi selir, yang hukumnya disamakan dengan budak, karena tidak punya kemerdekaan, maka bisa jumlahnya banyak. Di Jawa berabad lalu, seorang pemuda tetap disebut perjaka, meski punya selir atau garwa ampilan.
Dengan kondisi seperti inilah Kartini dilahirkan. Ibunya, Ngasirah, berharap agar Kartini dan adik-adiknya, kelak mencapai status Raden Ajeng. Untuk itu Kartini kecil dalam scene pertama, menangis karena dipaksa menyebut ibunya sebagai "yu" (alias panggilan ke pembantu), dan bukan ibu. Ngasirah memberikan pengertian bahwa Ni (panggilan Kartini) harus tidur di rumah bagian depan, bersama putra putri bupati Jepara, dan bukan di rumah belakang, tempat para abdi dalem, agar menjadi Raden Ajeng.
Scene pertama inilah yang mengingatkan saya bahwa Ngasirah tengah berjuang menjadi Ummu Walad, dengan anak yang mencapai status seperti tuanya, merdeka dan punya status sosial tinggi.
Dalam bacaan saya terhadap sejarah di Jawa, baik masa Hindu Budha dan Islam, memang tidak ada sistem perbudakan seperti di Romawi, Mesir, Arab (Saudi menghapus perbudakan tahun 60an). Tapi sistem semacam ini diadopsi dalam sistem feodal Jawa, dengan kawula dan Gusti, rakyat kecil yang menghamba kepada tuan.
Sambung lagi besok. Intinya film Kartini ini sangat direkomendasikan untuk ditonton. Sinematografi mantabs. Nilai yang diperjuangkan mantabs juga.
Nilai 9 dari 10
No comments:
Post a Comment