Monday, August 27, 2012

Prof. Mustafa: BERHAJI DAN BERUMRAH BERULANG KALI PENGABDI SETAN

Sangat progresif pandangan Imam Besar Istiqlal ini.

Prof. Mustafa Ali Yaqub (Imam Mesjid Istiqlal):

 DAN BERUMRAH BERULANG KALI PENGABDI SETAN

http://www.merdeka.com/khas/berhaji-dan-berumrah-berulang-kali-pengabdi-setan-wawancara-ali-mustafa-y-2.html

Tidak hanya pindah ke pusat-pusat belanja, kalangan atas gandrung berumrah saat j
Ramadan hingga tembus Lebaran, meski ibadah itu sudah berkali-kali dilakoni. Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Ali Mustafa Yaqub, Nabi Muhammad tidak pernah mencontohkan hal itu. Dia menegaskan bolak balik berhaji dan berumrah adalah salah satu produk konsumerisme berbungkus ibadah.

Berikut penuturan Ali Mustafa Yaqub saat ditemui Islahuddin dari merdeka.com di rumahnya, belakang Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Kamis (16/8) siang.

Apa masjid kalah bersaing dengan mal di Jakarta?

Saya tidak mengenal kata bersaing. Yang jelas, mal berhasil menyedot jamaah banyak ke masjid menjadi banyak ke mal. Apalagi mal ada di depan masjid, sekalian. Ini bukan karena malnya. Ini karena faktor konsumtif. Perilaku itu membuat orang lebih banyak ke mal ketimbang ke masjid.

Bagi sosiolog, perubahan perilaku ini sangat menarik untuk diteliti. Lebih parah lagi, konsumerisme itu ada yang dibungkus dalam bentuk ibadah. Misal bentuknya umrah saat Ramadan. Pada 2009, ada 3,6 juta orang umrah ke Makkah. Sekarang mungkin sekitar empat juta orang. Dari jumlah itu, kalau per orang dikenai biaya dua ribu dolar, jumlah uangnya ada delapan miliar.

Jumlah itu terbuang hanya untuk hal-hal tidak wajib dan itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Kalau itu itu wajib mungkin wajar, demikian juga kalau pernah dicontohkan oleh Rasullah, itu tidak masalah. Rasulullah saja tidak pernah mencontohkan pergi umrah saat Ramadan. Saya juga tidak tahu bagaimana pergeseran yang mulanya infak itu hingga menjadi umrah saat Ramadan.

Sekarang banyak masjid membuat brosur Ramadan memasukkan umrah itu sebagai amal ibadah Ramadan. Padahal umrah itu tidak ada kaitannya dengan Ramadan. Di luar Ramadan boleh seperti itu. Tapi memasukkan umrah sebagai amaliyah Ramadan itu sudah punya tujuan lain. Mungkin saja pengurus masjid ingin menjaring jamaah agar dia bisa gratis ke sana. Ini bergesernya pelan-pelan, tidak terasa.

Seperti apa peran ulama dalam hal ini?

Ulama saja jadi korban konsumerisme karena ulamanya tidak mau mempelajari hadis, bagaimana perilaku Rasulullah pada Ramadan. Maka yang penting senang pergi ke Makkah. Bagaimana tidak senang, dia dan istrinya bisa gratis kalau dapat jamaah banyak. Bagaimana tidak senang seperti itu. Maka jamaahnya dirayu untuk pergi umrah saat Ramadan.

Bagaimana dengan teladan dari ulama?

Siapa diteladani kalau dia tidak pernah membaca hadis perilaku nabi. Tidak pernah baca hadis dan syirah. Itulah kendalanya dan akhirnya dia menjadi korban konsumerisme, bahkan ikut terlibat membikin konsumerisme.

Apakah ada pihak membahas hal ini setiap selesai Ramadan?

Setahu saya tidak pernah ada. Siapa mau mengevaluasi. Saya yakin tidak ada. Yang bicara seperti ini juga tidak ada selain saya. Saya punya keinginan kita kembali mengikuti perilaku nabi patut kita contoh. Bagaimana beribadah saat Ramadan, bukan mengumbar nafsu seperti itu. Selain itu agar infaknya lebih digalakkan saat Ramadan. Di bulan lain beliau dermawan, bahkan dilukiskan kedermawanan beliau saat Ramadan itu seperti angin kencang. Kalau sekarang tidak, umat muslim lebih senang umrah saat Ramadan.

Mungkin yang umrah saat Ramadan itu merasa tenang batinnya?

Bukan ketenangan batin, tapi kesenangan batin. Kalau ketenangan bisa dengan qiyamul lail di Masjid Istiqlal di malam-malam sepuluh hari terakhir Ramadan. Coba Anda baca Republika kemarin ada orang-orang mengikuti kegiatan itu dan mendapatkan ketenangan. Bukan malah ke Makkah. Itu tidak mendapatkan ketenangan, tapi kesenangan.

Makanya diperlukan sekarang adalah ulama-ulama bisa memberikan keteladanan. Dari mana sumber keteladanan itu, ya mengikuti perilaku Rasulullah. Kalau sekarang mengikuti perilaku nafsu dan itu ironis sekali di bulan Ramadan. Mestinya mengekang nafsu, malah mengumbar nafsu.

Saat saya berkunjung ke masjid Sunda Kelapa pada Ramadan, ada orang mendekati saya dan bilang, "Pak Ustad, saya baru pulang dari Makkah." Saya langsung balas, "Saya tidak tanya." Dikira ke Makkah saat Ramadan itu bagus. Kalau itu bagus, Rasulullah akan mencontohkan itu. Bila perlu setiap hari akan umrah, bila itu bagus. Yang dicontohkan Rasul justru berinfak sebanyak-banyaknya. Hingga kemudian infak itu dibelokkan ke perilaku konsumtif. Akhirnya yang menonjol konsumtifnya, bukan infaknya.

Menurunnya kedermawanan ini apa juga dipengaruhi oleh turunnya ekonomi ?

Kalau itu dijadikan parameter mungkin orang tidak akan berbondong-bondong umrah. Anda coba tanya ke Kedutaan Besar Arab Saudi yang umrah dari Indonesia saat Ramadan berapa orang? Kedutaan Arab Saudi mengeluarkan visa pasti sebelum Ramadan. Kalau di luar Ramadan saya pernah diberitahu rata-rata 7.500 orang. Itu dari jumlah stempel paspor umrah diberikan

Kalau faktor ekonomi masalahnya, tentu tidak banyak yang pergi umrah. Ini faktor konsumerisme dibungkus dengan ibadah.

Kenapa itu jarang terdengar?

Saya kadang banyak mengecam. Saya menulis buku Haji Pengabdi Setan, maksudnya untuk orang berhaji ulang. Itu niatnya ikut siapa, sementara kondisi negara masih terpuruk. Indonesia kalau mengikuti indikator PBB, masih ada 117 juta orang miskin. Nabi berkata, "Tidak beriman orang pada malam perutnya kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan." Berapa juta orang Indonesia masih kelaparan.

Saya tanyakan kepada ustad-ustad yang merekomendasikan haji ulang atau umrah itu. Tidak bisa menjawab, malah dia larut dalam arus konsumerisme itu. Melihat hal ini, perlu ada revolusi moral. Saya kadang merasa sendirian dalam memberitahukan hal ini. Saya sering mengatakan berhaji ulang itu rugi. Saya katakan itu dilawan banyak kalangan dan bilang, "Berhaji kok rugi."

Coba bandingkan biayanya itu untuk infak sebanyak-banyaknya. Padahal nanti itu jelas ganjarannya, surga bersama nabi. Kita menyantuni anak yatim, jaminannya surga bersama nabi dalam satu kompleks. Coba berhaji, itu kalau mabrur. Itu pun surganya kelas dek, kelas ekonomi.

Ini lebih kepada yang berhaji ulang. Menurut saya, itu bermasalah, sementara kewajibannya masih banyak. Kewajiban itu tidak hanya ibadah, kewajiban sosial juga banyak sekali. Tapi pura-pura buta saja.

Siapa yang diikuti untuk berhaji ulang. Mana ada ayat Alquran dan hadis menyuruh berhaji ulang, sementara kewajiban sosial lain masih banyak. Mau mengikuti Rasulullah, sebutkan hadis yang menyatakan itu, tidak ada, maka kamu hanya mengikuti bisikan dan keinginan nafsu. Meski begitu masih banyak alasannya, ada yang bilang masih belum puas. Saya katakan, sejuta kali kamu berhaji, tetap kamu belum puas. Setan masuknya dari situ kok. Ada yang bilang masih belum sempurna, terus dan terus naik haji. Makanya itulah yang disebut sebagai haji pengabdi setan.

Mulanya mendengar itu, banyak yang menentang, tapi setelah membaca dan memahami yang saya maksud, banyak juga yang mendukung. Opini itu pertama kali saya tulis di Majalah Gatra. Ada Kiai dari Jawa Timur dikasih orang untuk membaca itu dan berkomentar, "Ini apa-apaan, haji penyembah setan." Sama orang yang memberi opini itu disuruh baca buku saya tentang hal itu, dia bilang, "Pak Kiai, komentarnya nanti saja setelah baca buku ini." Setalah baca buku itu, dia langsung bilang, "Ini yang saya cari, ayo disalin seratus, bagi ke ulama-ulama Jawa Timur." 

Ini saya amati tidak hanya terjadi di Indonesia, juga di seluruh negara yang ada penduduk muslimnya. Di Amerika juga begitu. Pada 2007 saya di Amerika, acara televisi di sana penuh iklan umrah dan haji, bahkan ada koran khusus iklan dibagikan gratis. Koran itu isinya penuh iklan, terutama iklan haji dan umrah. Itulah yang yang diteliti Walter Armbrust, hal itu terjadi bukan hanya di negara-negara Islam, tapi di negara-negara yang ada orang Islamnya. Itu gencar sekali.

Mestinya masjid juga menjadi sumber kesejahteraan bagi orang miskin?

Mungkin itu ada, tapi jumlahnya sangat sedikit. Paling diberi makan sahur dan berbuka, itu sedikit. Tapi untuk menuntaskan kemiskinan mereka tidak ada program

Sunday, August 26, 2012

Saatnya Merenungkan Tanah Surga

Saatnya Merenungkan TANAH SURGA

Ini ulasan film Tanah Surga di Kompas Minggu hari ini. Film ini memang keren. Wajib ditonton. Sabgat Deddy Mizwar.

Seorang kakek hidup bersama cucunya di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat. Suguhan pemandangan indah ketika Hasyim dan cucunya, Salman dan Salina, berperahu di danau membuka film ini. Danau berlatar perbukitan indah itulah "halaman" rumah kayu mereka yang sederhana.

Cerita bergulir ketika anak Hasyim yang berdagang di Malaysia, Haris, pulang ke dusun dan mengajak keluarga hijrah ke Malaysia. Hasyim (Fuad Idris) yang berjuang membela Tanah Air saat konfrontasi dengan Malaysia menolak keinginan anaknya memboyong keluarga untuk mencari hidup di Malaysia.

"Di sana pendidikan anak-anak lebih baik, tempat tinggal untuk kita lebih layak, juga ada perawatan kesehatan yang lebih baik untuk ayah!" ujar Haris kepada ayahnya.

Apa yang dikatakan Haris tak salah. Di dusun itu, sekolah Salman dan Salina adalah rumah panggung kayu yang kalau salah melangkah, kaki kejeblos lubang menganga di lantainya. Hanya ada satu guru, Astuti (Astri Nurdin), yang mengajar dua kelas bersamaan dengan pembatas papan setengah dinding. Pun sekolah itu sempat diliburkan setahun karena tak ada guru sebelum Astuti datang.

Di desa itu baru tiba seorang dokter, Anwar (Ringgo Agus). Meski begitu, pasien yang membutuhkan perawatan lebih serius sangat susah dibawa ke rumah sakit terdekat. Selain medan yang berat, biaya membawa si pasien pun mahal.

Inspirasi dari kenyataan

Dusun yang lebih akrab dengan ringgit Malaysia daripada rupiah itu digambarkan berdasarkan kondisi nyata di perbatasan Indonesia-Malaysia. Terinspirasi kenyataan yang direkam film dokumenter pula dikisahkan tentang pedagang yang mengalasi gelaran dagangannya dengan bendera merah putih karena tak paham bendera itu berarti.

Sementara Haris kembali ke Malaysia membawa Salina (Tissa Biani), Hasyim yang sakit tetap tinggal di kampungnya. Ia ditemani Salman (Aji Santosa) yang tak mau meninggalkan kakeknya. Film ini dengan cerdas menggambarkan keceriaan sekaligus kegigihan anak-anak untuk bertahan di tengah n kondisi sosial ekonomi yang mengenaskan.

Demi membawa kakek Hasyim ke rumah sakit, Salman pun harus bekerja keras. Ia menjajakan kerajinan dari dusunnya hingga ke pasar di Malaysia. Kembali ke dusunnya ketika hari gelap, melintasi jalan berhutan dengan "jembatan" dari batang pohon. Tanda perbatasan kedua negeri ini tepat berada di persimpangan antara jalan aspal yang mulus dan jalan tanah yang penuh kubangan. Sampai sebatas jalan mulus itulah wilayah negeri tetangga.

Tanah Surga...Katanya memberi alternatif hiburan dan perenungan tentang keindonesiaan dalam kemasan yang bisa ditonton seluruh anggota keluarga. Pilihan lagu tema, "Kolam Susu" karya Yok Koeswojo yang dipopulerkan Koes Plus pun memberi kesan menohok:

"Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu... Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman...."

"Cerita dari Tapal Batas"

 Kisah tentang daerah perbatasan Indonesia-Malaysia juga diangkat dalam film Batas produksi Keana Production yang tayang tahun 2011. Selain Batas, Keana juga memproduksi versi film dokumenternya dengan judul Cerita dari Tapal Batas yang DVD-nya telah beredar di pasaran.

Cerita dari Tapal Batas garapan sutradara Wisnu Adi itu memotret realitas kehidupan di wilayah terdepan Indonesia yang justru amat terbelakang dan miskin. Jalan tidak ada, guru hanya seorang, bahkan kebutuhan pokok tidak tersedia. Perbatasan seperti wilayah entah-berantah lantaran negara tidak hadir, apalagi mengurus warganya.

"Kekosongan" akibat ketidakhadiran negara di wilayah perbatasan lantas diisi oleh negara tetangga. Barang-barang kebutuhan pokok, bahan bakar, uang, bahkan mimpi tentang kehidupan yang sejahtera sebagian besar dipasok oleh Malaysia. Tidak heran jika pada akhirnya mereka lebih mengenal Malaysia daripada Indonesia. Mereka lebih mengenal ringgit daripada rupiah. Mereka lebih mudah menghafal lagu pop Melayu dibandingkan "Indonesia Raya".

Fakta-fakta yang disajikan di dokumenter merupakan testimoni yang dituturkan langsung oleh rakyat yang hidup di perbatasan Indonesia-Malaysia. Fakta itu juga melengkapi laporan penelitian atau liputan jurnalistik yang sama-sama menunjukkan bahwa Indonesia terlampau jauh untuk dijangkau masyarakat perbatasan. Film ini juga ditutup dengan lagu "Kolam Susu". (DAY/BSW)

Saturday, August 25, 2012

Mencari Akar Masalah

Berita headline Kompas hari ini: menurut JK, banyaknya kecelakaan dan
800 lebih kematian selama masa mudik Lebaran adalah karena manajemen
mudik Lebaran yang amburadul. JK bilang kudunya koordinasi dipimpin
oleh Wapres, supaya koordinasi berjalan lintas instansi dan daerah
dengan baik. Jadi berbagai kecelakaan itu adalah gambaran dari
manajemen yang buruk.

Saya setuju sekali.

Berita lain, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia, Danang
Parikesit, mengatakan bahwa berbagai kecelakaan selama mudik ini
berlangsung selama bertahun-tahun. Tidak pernah ada upaya mencari akar
masalah.

Sekarang, dari pengalaman saya pribadi sebagai konsultan di sebuah
lembaga audit pemerintah. Tipikal laporan audit mereka secara
sederhana adalah:

Temuan:
1. Diketemukan kekurangan pemasangan con block sebanyak 100 buah.
2. Diketemukan mur baut yang copot, paling tidak 200 buah, dari
struktur jembatan baja yang sedang dikerjakan.

Rekomendasi:
1. Kontraktor supaya memasang kekurangan con block sebanyak 100 buah.
2. Kontraktor supaya memasang mur baut yang copot.

Anda menemukan benang merah dari ketiga cerita di atas?

Ya, benang merahnya adalah: akar masalah yang diabaikan.

Dalam kasus laporan audit tsb, laporan yang ideal sebenarnya adalah:
1. Diketemukan kekurangan pemasangan con block sebanyak 100 buah.
2. Diketemukan mur baut yang copot, paling tidak 200 buah, dari
struktur jembatan baja yang sedang dikerjakan.
3. Diketemukan bahwa mandor dari kontraktor tidak melakukan pengawasan
secara menyeluruh. Mandor merangkap tugas sebagai tukang, sehingga
quality assurance terabaikan.
4. Diketemukan bahwa kontraktor pengawas tidak melakukan uji sampling
pengawasan sesuai dengan profil risiko. Pengawas hanya datang selama
beberapa jam meninjau proyek dan tidak melakukan uji teknis,
mengandalkan laporan dari mandor tanpa uji pembanding.

Rekomendasi:
1. PPK supaya meminta perbaikan SOP dan job description kontraktor
pelaksana, termasuk peran mandor harus khusus menangani quality
assurance. Hasil perbaikan SOP dan job description ini harus
dikirimkan ke auditor dalam waktu 1 bulan sejak laporan audit
diterima.
2. PPK supaya memutus kontrak kontraktor pengawas, dan melakukan
pengawasan sendiri.
3. dsb yang terkait dengan manajemen dan internal control system.

Itulah beda antara aparat pemerintah yang melihat bahwa 800 orang
kecelakaan itu sebagai incidents yang merupakan isolated events,
dengan JK yang melihat bahwa berbagai insiden tersebut saling
berhubungan satu sama lain, merupakan kegagalan sistemik karena
kegagalan manajemen.

Pemerintah (Menhub, Polri, GUbernur, dsb) melihat masalahnya sama
dengan yang dilihat JK: mudik dengan motor berbahaya, kereta api belum
bisa jadi andalan, bis terlalu mahal, jalan sempit, dsb. Bedanya
Pemerintah tidak mencari akar masalahnya lagi, sementara JK melihat
bahwa akar masalahnya adalah soal manajemen, kegagalan pemerintah pada
level tertinggi: presiden dan wakil presiden, yang tak memimpin
langsung manajemen mudik nasional ini.

Tahun lalu saya membaca buku Problem Solving 101 dari Ken Watanabe,
buku kecil yg mengajarkan anak-anak sekolah di Jepang belajar probelm
solving memakai problem tree dan tools sederhana lainnya. Buku ini
laris manis di Jepang, sampai ke kalangan bisnis. Intinya cuma membuat
tujuan, problem tree, membuat hipotesa, tes hipotesa dg interview dsb,
hitung pro cons, dan ambil keputusan-eksekusi. Tidak dengan tools yg
rumit, tapi sederhana.

Buku ini perlu dibaca oleh birokrat negeri ini, termasuk Presiden,
daripada hanya mengeluh dan prihatin.

Ini penjelasan bukunya:

Problem Solving 101 started out as a simple guide to teach Japanese
schoolchildren critical thinking skills. But it quickly became an
adult bestseller, thanks to the powerful effectiveness of Ken
Watanabe's problem solving methods. The tools in this book come from
the author's experience as an elite McKinsey consultant. But you don't
need an MBA or complicated computer software to use them. You'll learn
how to broaden and organize your thinking about a problem, so that
more possible solutions become clear.

Di toko buku di Jakarta, harga sekitar 130 ribu rupiah. Monggo dibeli
karena ini bagus sekali.

Dua film lebaran keren

Musim Lebaran kali ini ada dua film Indonesia yang layak ditonton keluarga. Film pertama, "Brandal-Brandal Ciliwung" berisikan kehidupan di sekitar kali Ciliwung, dengan segala permasalahan khas kota besar, seperti persinggungan antar etnis, kali yang kotor, lingkungan yang kumuh, bullying antar anak-anak, dsb.

Film kedua, "Tanah Surga", mengenai kehidupan mantan sukarelawan Ganyang Malaysia yang berkeras tinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia, dengan segala keterbatasan. Sementara anaknya sendiri memilih jadi warga negara Malaysia, bahkan mendukung Malaysia dalam AFF Cup. Meski temanya serius, dikemas Deddy Mizwar dengan menarik, lucu, bikin penonton tertawa ngenes. Misalnya kejadian perbatasan Malaysia - Indonesia. Sisi Malaysia dengan aspal mulus, yang berhenti tepat di papan penanda perbatasan. Sisi Indonesia hanya jalan tanah perkerasan.

Monggo dipersilakan nonton weekend ini.
Agam Fatchurrochman

Tuesday, August 21, 2012

Mengapa Idul Fitri di Jakarta Tidak Berkesan

Mengapa?

- Dulu waktu saya kecil di Semarang, saya tinggal di kompleks perumahan dengan strata ekonomi yang setara.

- Tetangga saling mengenal. Rumah saling menempel, dengan pagar rendah. Pintu setiap saat terbuka bagi tetangga yang mau berkunjung.
- Gotong royong berjalan dengan baik.

- Tiap RW punya masjid sendiri-sendiri, dan tiap Idul Fitri/Adha, tiap masjid dengan remaja masjidnya saling berkompetisi takbiran, dengan lomba pawai.

- Remaja masjid juga belum dicemari oleh politik.

- Ada trust diantara sesama warga, maupun warga dengan tatanan RT/RW (hidup Orba!).

Sekarang saya di Jakarta, tidak merasakan kegembiraan itu:

- Saya tinggal bukan di kompleks, tetapi lahan kavling yang sebagian ditempati, meminjam istilah dualisme ekonomi masyarakat kolonial Hindia Belanda Boeke tahun 1920-an, masyarakat ekonomi modern dan subsisten. Modern biasanya pekerjaannya di sektor modern, seperti pegawai swasta, wiraswasta besar, atau negeri. Sementara ekonomi subsisten biasanya masyarakat asli (Betawi atau pendatang) yang pekerjaannya kurang tetap, musiman, atau ekonomi lemah). Ada kesenjangan di sini, dengan strata ekonomi yang berbeda. Kalau diukur dengan indeks Gini, barangkali kesenjangannya melebihi rata-rata nasional. Yang lebih parah, masyarakat yang subsisten biasanya kemudian ikut organisasi kepemudaan atau kedaerahan, sehingga tetangga yang ekonomi modern jadi tambah curiga.

- Tetangga kurang saling mengenal. Rumah mungkin menempel, tetapi dibatasi dengan pagar tinggi. Banyak juga rumah yang berbatasan dengan kavling yang belum dibangun atau tanah kosong dengan alang-alang / rumput tinggi. Pencurian bukan hal yang tak biasa. Karena itu pagar tinggi selalu dikunci. Meski jika tetangga mau berkunjung, pintu setiap saat bisa dibuka dengan bel ting tong ting tong.

- Gotong royong? Oh, bayar saja tetangga yang menganggur di dekat rumah buat membersihkan lingkungan.

- Tiap RW punya masjid sendiri-sendiri, tapi pengurus masjid biasanya orang tua, yang disconnected dengan anak muda yang tercerabut dari kampungnya. Biasanya ada pengurus masjid yang tinggal / merbot, yang dibayar dari kas masjid. Kegiatan remaja masjid hampir tidak ada, sehingga takbiran hanya di masjid, bukan pawai keliling kampung yang melibatkan seluruh komponen masyarakat. Pengurus RT / RW sibuk.

- di tempat saya kebetulan remaja masjid kurang aktif. Tapi di tempat lain saya dengar ada masjid yang remajanya ikut pengajian partai yang mendukung Foke (dulunya sih anti Foke. Mahar bicara) dan konflik dengan jamaah yang lebih tuan yang tidak mau beragama yang politis demi kesejahteraan pengurus.

- Trust? Oh itu nama majalah ekonomi punya Harry Tanoe ya? Oh bukan? Apa dong? O... Maksudnya saling percaya, ada rasa keterikatan antara warga ya? Barangkali ada tuh di kampung.

Sudah sejak tahun 2000 saya pindah ke Jakarta (dan Tangerang Selatan), 12 tahun, dimana Idul Fitri tidak berkesan.

Saya memimpikan Jakarta Baru. Hidup Jokowi (lho...).

Foto ora nyambung yo ora opo opo.
Agam Fatchurrochman

Sunday, August 19, 2012

Semangat yang fitri buat Jakarta Baru

Hari ini hari Idul Fitri. Kita mengharapkan kehidupan kita kembali ke yang fitrah setelah disucikan selama 30 hari (saya sih nggak percaya ginian, apalagi omongan: setan dirantai selama Ramadhan. Wong itu setan pada nyebar isu SARA dan tanya siapa yang nyolok calon lain supaya pindah kota).

Anyway, kita perlu mensucikan kota ini setelah berperiode-periode dikotori oleh birokrat-birokrat kotor di Pemerintah DKI Jakarta. Dan buku inilah harapan untuk mensucikan menjadi Jakarta Baru.

Selamat Idul Fitri.
Salam Semangat Jakarta Baru.

Agamfat.wordpress.com
Agamfat.blogspot.com
Agam Fatchurrochman

Saturday, August 18, 2012

Idul Fitri 1 Tahun Lalu

Idul Fitri satu tahun lalu yang berbeda antara Muhammadiyah dan Pemerintah, saya mengikuti Muhammadiyah. Saya bangga untuk berbeda dengan keputusan Pemerintah karena dua hal:

1. Alasan kemajuan agama: konyol sekali masih ribut melihat bulan, sementara ilmu menghitung posisi bulan sudah bisa menentukan bulan baru sejak 50 tahun lalu. Amerika dan Sovyet sudah mengirim orang ke bulan, di sini orang masih ribut soal datang bulan. Hizbut Tahrir tidak usahlah ribut soal khalifah, bikin saja proyek penyatuan kalender Hijriah. Selain proses sidang itsbat waktu itu yang konyol. Kalau menurut hitungan mereka bulan baru belum 2 derajat, tidak akan terlihat, ya buat apa mengerahkan orang melihat seluruh Indonesia? Buang-buang duit rakyat saja. Intinya kan sama-sama pakai ilmu hisab, cuma yang satu bulan baru itu ya bulan baru. Satu lagi bulan baru itu kudu terlihat 2 derajat.

2. Alasan ulil amri: orang bilang, ikut saja keputusan ulil amri-pemerintah. Saya bilang, bagaimana bisa percaya dengan ulil amri, kalau Kementerian Agama itu termasuk terkorup menurut KPK, pencetakan Quran pun dikorup. Sementara MUI dipenuhi orang-orang yang mendukung Foke (sekarang) atau konteks waktu itu dan sekarang: maju tak gentar membela yang bayar.

Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin.

Nb.
Rumah baru cross posting:
Agamfat.wordpress.com
Agamfat.blogspot.com
Sori belum buka kompoter, belum bisa follow back kepada beberapa rekan yang sudah follow tadi.
Monggo saling follow memfollow.
Agam Fatchurrochman

Pindah rumah

Sebulan terakhir kesibukan membuat saya tidak bisa aktif ngeblog dan jalan-jalan ke MP teman-teman.

Kemarin seharian mencoba membuka-buka Blogspot dan Wordpress. Rupanya saya punya Blogspot sejak 2005 yang tidak pernah diisi, passwordnya sudah lupa lagi.

Akhirnya membuka lapak baru di Wordpress (agamfat.wordpress.com) dan Blogspot (agamfat.blogspot.com).

Wordpress menawarkan tampilan yang keren ketika dibuka dengan iPad. Sudah saya cek dengna iPada Tia istri saya: kereeennn. Seperti tampilan majalah ala Pulse dengan mozaik kotak-kotak ala Jokowi. Sayang di Galaxy Tab saya tampilannya tetap ala desktop atau mobile.

Blogspot kustomisasinya lebih rumit, padahal Wordpress saja sudah rumit. Betapa Mp itu sederhana ya.

Tadinya saya pikir Blogspot dibawah Google tentu lebih keren, sederhana, dengan integrasi bagus ke aplikasi Google lainnya: youtube, Picasa, Google Translate, dsb. Sayangnya kustomisasinya malah lebih rumit.

Kemarin downlod juga blog saya (agamfat.multiply.com) dan Tia (agamtia.multiply.com). Lumayan juga punya saya gedenya 260-an mb, sementara punya Tia 180-an mb.

Semoga rumah baru ke depan bisa bikin nyaman, betah, dan dengan tetangga yang ok juga.

Nb:
Coba crossposting Mp, Wp, Bs.
Agam Fatchurrochman

Friday, August 17, 2012

Jumat terakhir Ramadhan

Lazy Friday.

Hari ini disibukkan dengan mengurus perpindahan blog dari Multiply ke Blogspot dan Wordpress. Mencoba membandingkan dua blog engine ini. Secara umum saya lebih percaya pada produk Google. Blogspot mestinya unggul dalam berbagai hal: foto (Picassa), Video (Youtube), space, dsb. Tapi rupanya lebih mudah memindahkan ke Wordpress dibandingkan Blogspot.

Rencananya nanti dua blog ini akan dipelihara dengan cross posting. Mestinya posting via email dengan dialamatkan dua email wp dan bs ini mudah.

Let see. Wp sudah berhasil impor dua file wml Notes dan Review. Bs belum satu pun.
Agam Fatchurrochman